RI Pasar Produk Halal Terbesar

      Tidak ada Komentar

MEDAN (Berita): Posisi Indonesia merupakan pasar produk halal terbesar dimana pada tahun 2015 pasar makanan halal terbesar dalam industri global dengan nilai mencapai 160 miliar dolar AS.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengatakan hal itu di Medan Jumat (6/10) pada pembukaan FESyar 2017 Sumatera di Lapangan Merdeka Medan. Hadir Gubsu HT Erry Nuradi, Walikota Medan HT Dzulmi Eldin, Kepala Perwakilan (KPw) BI Sumut Arief Budi Santoso dan 13 KPw lainnya di Pulau Sumatera. Acara itu disertai dengan pameran produk keuangan berbasis syariah dan berbagai lomba.

Dalam kancah global, kata Sugeng, Indonesia berhasil menduduki peringkat ke 10 sebagai player (pemain) dalam industri keuangan syariah. Menurutnya, kinerja ekonomi dan keuangan syariah dunia memperlihatkan potensi yang besar di mana pada tahun 2021 volume industri halal dan keuangan syariah global diperkirakan mencapai 6,38 triliun dolar AS.

Dalam dua tahun terakhir ini pertumbuhan tahunan industri keuangan syariah global hanya sekira 0,6 persen. Namun perkembangan industri perbankan syariah Indonesia memperlihatkan kinerja cukup tinggi mencapai 24 persen pada Agustus 2017.

Sugeng menyebut sejalan dengan akan dimulainya UU nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada tahun 2019, kondisi tadi menunjukkan betapa kuatnya potensi Indonesia dalam pasar produk halal. “Namun potensi ini juga dapat mencerminkan ancaman jika ternyata produk halal tersebut tidak dapat dipenuhi secara domestik,” kata Sugeng.

Sehingga berimplikasi terhadap besarnya impor yang akan menekan posisi neraca pembayaran Indonesia. “Pada gilirannya ini akan mengancam kemandirian dan ketahanan perekonomian Indonesia.

Sugeng berpendapat sistem ekonomi dan keuangan syariah memiliki instrumen yang berpotensi dapat mengatasi permasalahan kesenjangan dan distribusi pendapatan. Sektor keuangan syariah yakni zakat, infaq, sadaqah dan wakaf (ZISWAF) jika dioptimalkan dapat berfungsi sebagai mesin penggerak baru bagi pembangunan bangsa.

Selain itu, Indonesia banyak pesantren. Di wilayah Sumatera saja ada 2.951 pondok pesantren tersebar di 10 provinsi. “Jika pesantren ini dioptimalkan, kami yakin hal ini dapat memberikan potensi sumber daya insani yang besar,” ungkap Sugeng.

Pasalnya menurut dia, pesantren memiliki kemampuan distribusi yang luas dengan melibatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya hingga ke unit ekonomi terkecil.
Untuk mewujudkannya perlu strategi dan kebijakan serta program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang komprehensif, integratif, efektif dan efisien. Dalam kerangka itu, BI merumuskan tiga pilar: pemberdayaan ekonomi syariah, pendalaman pasar keuangan syariah, juga penguatan riset, asesmen dan edukasi termasuk sosialisasi dan komunikasi.

BI telah kerjasama dengan Kemenag dalam program kemandirian ekonomi pesantren mencakup 65 pesantren di 31 wilayah kerja, termasuk 15 pesantren di regional Sumatera. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>