Turki Lokomotiv Para Huffaz Alquran

      Tidak ada Komentar

Syekh Sulaiman dibesarkan di Istanbul,dan mendapat gelar sarjana hukum diIstanbul, namun dia tidak berminat sedikitpun untuk menjadi hakim.

Dalam perjalanan singkat,wisata religi penulis bersama rombongan ke Turki, pada tanggal 13-22 September 2017, mengingatkan kita kepada peninggalan Kerajaan Ottoman yang menjadi penguasa dunia membumikan syari’at Islam selama 630 tahun, situs-situs peninggalan Islam masih terpelihara dengan rapi, meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang, namun tidak membuat luntur ingatan umat Islam kepada kejayaan Islam masa lalu.

Peralihan dan perpindahan kekuasaan silih berganti, dari satu raja kepada yang lain di tangan tiga puluh enam Sultan secara turun temurun, mulai dari Usman Ghazi hingga kepada Sultan Muhiddin Khan hingga abad ke-20 M,dengan sejumlah peninggalan yang bersejarah berupa istana-istana para Sultan, dan ribuan masjid yang dibangun oleh arsitektur Yunani dan Turki, membangkitkan kembali kerinduan umat Islam kepada kejayaan Islam masa lalu.

Hanya dengan rasa kecemburuan dan kedengkian musuh Is-am terhadap para Sultan dan luasnya wilayah khilafah Islamiyah mencapai dua puluh juta km persegi, membuat para musuh Islam tidak merasa senang yang berkepanjangan, lalu dengan menitipkan seorang yang bernama Mustafa Kamal asal Yunani berhati Setan yang membungkus dan mengusung ide modernisasi yang diagungkan oleh Kamal Attaturk/Bapak Turki, menancapkan kuku sekuler, maka kerajaan Ottoman harus mengakhiri riwayat dinastinya.

Attaturk mengubah simbol-simbol Islam, tidak membolehkan azan dengan bahasa Arab, Shalat berbahasa Turki, masjid dijadikan tempat maksiat, wanita-wanita Islam tidak boleh memakai jilbab, Alquran tak boleh diajarkan, siapa saja yang mengajarkan Alquran diancam bunuh.

Anehnya nama Attaturk tidak dapat dilupakan oleh rakyat Turki hingga sekarang ini, foto Attaturk dipajang di mana-mana, di sudut-sudut kampung di restoran, di hotel-hote ldan ditempat tempat strategi lainnya, Attaturk tetap di hati mereka, sebagaimana makna Attaturk adalah bapak Turki, lazimnya seorang anak bangsa tidak akan mungkin melupakan ayahnya.

Di balik sejarah pahit yang dialami oleh umat Islam Turki, ada fajar Islam, cahaya Islam yangmenjanjikan kebangkitan Islam disana. Di pundak Syekh Hilmi Tu-nahan (wafat 1959 M), Allah menitipkan cahayanya. Beliau di lahirkan dari keluarga yang terhormat, kakeknya bernama Kaymez Hafiz dari silsilah keturunan Idris Bey yang nasabnya sampai kepada Rasulullah SAW. Karena pada masa Sultan Muhammad al-Fatih (1451 – 1481), Idris Bey dinikahkan dengan saudara perempuan al-Fatih.

Syekh Sulaiman dibesarkan di Istanbul, dan mendapat gelar sarjana hukum di Istanbul, namun dia tidak berminat sedikitpun untuk menjadi hakim, karena ayahnya pernah mengingatkannya dengan sebuah hadis Rasulullah SAW. Wahai anakku… ketahuilah bahwa ada tiga hakim, dua yang masuk neraka hanya satu yang masuk surga.

Sarjana hukum Islam yang dia peroleh hanya berumur selama lima tahun. Nasib malang menimpa Turki, kesultanan Islam jatuh ke tangan Partai Turkish Grand National Assembly. Dengan demikian Institusi Khilafah Otto-man di bubarkan dan dimansukhkan, dan Sultan Mahmud VI Wahiduddin (1918 – 1922) digulingkan, Republik Turkipun resmi didirikan, konsekuensinya lebih lima ratus sekolah Islam Turki diubah menjadi sekolah sekuler dan Kamal Attaturk yang sebelumnya diberi nama Musthafa Kamalpun mulai mencengkram kuku sekulernya di tanah yang sudah dapat dibayangkan betapa besar musibah yang menimpa umat Islam pada masa itu.

Sebuah institusi Islam, khilafah Islamiyah yang sudah berumur enam ratus tiga puluh tahun dibubarkan, dapat dipastikan banyak menelan korban, berapa banyak pula sekolah-sekolah Islam, perkantoran – perkantoran syariat, pegawai syariat Islam yang harus kehilangan lapangan pekerjaan.

Lebih menyedihkan lagi, para guru mengaji dilarang mengajarkan Alquran, bila kedapatan mereka mengajarkan Alquran secara terang terangan akan dipenjarakan bahkan di bunuh. Syekh Sulaiman tidak kehilangan akal dan strategi, Beliau terus-menerus menyerukan kepada teman temannya mengajarkan Alquran dan ilmu Islam secara sembunyi-sembunyi, sampai-sampai, Beliau mengajarkan Alquran didalam taksi, akhirnya berhasil mendirikan Yayasan Sulaimaniyah pada tahun 1952 M.

Semangat jihad mengajarkan Alquran senantiasa ditanamkan kepada para guru mengaji, Beliau mengatakan kepada temannya seperjuangan ’’sesungguhnya kamu hari ini adalah jaminan keselamatan agama di bumi ini.

Dengan jumlah hanya 500 orang,jika setiap seorang mengajar 3 orang di rumah masing-masing, kita sudah boleh melahirkan 1500 orang yang akan menjadi kader Al-quran. Dan jumlah itu akan menambah panjangnya umur Islam di negeri ini, paling tidak lima puluh tahun akan datang akan sudah terbentuk generasi Alquran.

Apa yang telah digagas oleh Syekh Sulaiman menjadi kenyataan sampai sekarang ini. Saya menyempatkan diri berkunjung ke Yayasan Sulaimaniyah, 200 orang huffaz yang nyantri di setiap Ma’had, bayangkan ada lebih kurang 5000 (lima ribu) Yayasan Sulaimaniyah yang dibiayai oleh masyarakat Turki dari hasil zakat dan infaq, tidak ada bantuan dari pemerintah Turki.

Kepercayaandan dukungan masyarakat Turki terhadap Yayasan Sulaimaniyah menyalurkan zakat dan infaqnya,membantu pengembangan Yayasan Tahfiz Quran ini sampai ke Indonesia, hingga kini jumlah cabang Ma’had yang menjadi lokomotiv para huffaz Alquran, mencapai 40 cabang Ma’had di Indonesia.
Demikian keterangan yang saya peroleh dari sahabat saya ustadz Omar perwakilan tahfiz Turki yang berada di Indonesia.Mereka tidak memilih tempat di mana Ma’had ini harus mereka kembangkan, karena bagi mereka di mana suara Alquran dikumandangkan di sana tanah air mereka.

Sama seperti apa yang dikatakan oleh Presiden Turki, Ardogan, ketika ditanya di mana ada suara azan di situ tanah airnya. Bisakah para pencinta Alquran dan para pengelola tahfiz Alquran di negeri kita yang mayoritas muslim ini mencontoh atau menjadi gerbong dari lokomotiv tahfiz Al-quran Yayasan Sulaimaniyah ? Wallahu’alamu bishshawab. ***** ( H. Muhammad Nasir Lc, MA : Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara danWakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah. )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>