Puasa Tasua Dan Asyura

      Tidak ada Komentar

Nabi SAW bersabda; siapa-siapa saja yang melapangkan keluarga dan familinya pada hari Asyura niscaya Allah melapangkan rezekinya sepanjang tahun (HR.Buhkari).
Di antara nama bulan yang populer di kalangan umat Islam adalah bulan Muharram dan di dalamnya terdapat hari Asyura’ yaitu hari yang kesepuluh dari bulan yang dihormati oleh umat Islam.

Bukan hanya sekarang, umat Nabi terdahulu pun seperti umat Nabi Musa Alaihissalam turut memuliakannya karena memperingati kemenangan Nabi Musa Alaihissalam dari kejaran Firaun.

Tasua adalah tanggal 9 Muharram. Dinamakan demikian, diturunkan dari kata tisah [Arab] yang artinya sembilan. Pada tanggal 9 Muharram ini kita dianjurkan puasa, mengiringi puasa Asyura di tanggal 10 Muharram besok harinya, agar puasa kita tidak menyamai puasa yang dilakukan Yahudi, yaitu pada tanggal 10 Muharram saja.

Kita muliakan bulan ini setidaknya karena tiga momen penting;

Pertama, bulan Muharram adalah salah satu bulan dihormati karena ia termasuk salah satu dari empat bulan haram seperti dijelaskan dalam Alquran surah Attaubah kandungan ayat 36, bulan itu ialah Zulqaedah, Zulhijjah, Rajab dan Muharram.

Kedua, karena tanggal satu Muharram sebagai awal tahun baru Islam, meskipun Nabi SAW berhijrah dari kota Makkah ke Madinah pada bulan Rabiul Awwal, namun para pakar sejarah mengatakan sebenarnya Nabi Muhammad SAW sudah bertekad untuk berhijrah pada bulan Muharram, karena menunggu perintah dari Allah SWT maka hijrah dilakukan pada bulan Rabiul Awwal. Oeh sebab itu Umar bin Khattab menetapkan bulan Muharram sebagai awal permulaan Tahun Baru Islam..

Ketiga, di dalamnya terdapat hari Asyura sebagai hari kemenangan para Nabi terdahulu karena umat Nabi Muhammad SAW. juga dituntut untuk memuliakan dan tidak membedakan antara satu Nabi dengan Nabi yang lain ‘’la nufarriqu baina ahadin min rusulihi’’oleh sebab itu kita juga turut memuliakan hari kemenangan Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain.

Ada riwayat yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas berkata; ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau menjumpai orang orang Yahudi di Madinah membiasakan berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Menurut mereka tanggal 10 Muharram adalah hari kemenangan Nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran bala tentara Firaun dengan melewati Laut Merah, sementara Firaun dan tentaranya tewas tenggelam.

Setelah informasi itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjawab, “Kami lebih dekat hubungannya dengan Musa daripada kalian” dan langsung menyarankan agar umat Islam berpuasa pada hari ‘Asyura. Bahkan dalam tradisi umat Islam sebelumnya, berpuasa pada hari ‘Asyura adalah wajib hukumnya. Kemudian, setelah puasa bulan Ramadhan diwajibkan maka puasa pada hari ‘Asyura disunahkan.

Bukan hanya kemenangan Nabi Musa yang dicatat sejarah pada sepuluh Muharram tersebut, ada banyak peristiwa penting. Di dalam kitab Mukasyafah al qulub al muqarrib min alamil ghuyub Miftahul ghaib (pembuka hati yang mendekatkan dari alam ghaib) karya Imam Alghazali beliau mencatat sebuah atsar (perkataan tabiin/berita para sabhabat), bahwa pada tanggal sepuluh Muharram banyak terjadi sejumlah peristiwa penting.

Antara lain, penciptaan Arasy, langit, bumi, matahari, bulan, bintang, dan surga adalah pada tanggal sepuluh Muharram. Nabi Adam Alaihissalam juga diciptakan dan Adam bertobat pada hari itu juga.

Nabi Idris diangkat kelangit dan perahu Nabi Nuh berlabuh di bukit. Jadi setelah tenggelam bumi ini adalah pada tanggal yang sama. Nabi Ibrahim dilahirkan pada hari Asyura dan selamat dari unggun api yang membakarnya pada tanggal sepuluh Muharram.

Nabi Yaqub disembuhkan matanya dari buta karena kehilngan anaknya Nabi Yusuf dan kembali dipertemukan Allah SWT. Pada tanggal itu juga Nabi Yusuf keluar dari penjara karena difitnah menodai Zulaikha istri Abdull Aziz bendaharawan Mesir ketika itu adalah pada tanggal yang sama.
Pada hari Asyura Nabi Sulaiman diberi kerajaan yang besar, pada hari itu pula Nabi Yunus di keluarkan dari perut ikan dan pada hari Asyura Nabi Isa di lahirkan dan pada tanggal yang sama nabi Isa diangkat ke langit.
Karena peristiwa peristiwa penting di atas hari Asyura dipandang sebagai hari yang mulia dan peristiwa-peristiwa tersebut bukanlah mitos atau legenda karena Islam tidak memerintahkan untuk merayakan mitos dan legenda.

Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk melakukan perbuatan baik pada hari itu. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari Nabi SAW bersabda; siapa-siapa saja yang melapangkan keluarga dan familinya pada hari Asyura niscaya Allah melapangkan rezekinya sepanjang tahun (HR.Buhkari).

Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya berpuasa pada tanggal sepuluh Muharram. Beliau bersabda; Puasa pada hari Asyura menghapuskan satu tahun yang lalu (HR. Muslim). Dalam riwayat yang lain Nabi SAW juga bersabda; seandainya saya hidup pada tahun depan saya akan memulai puasa pada tanggal sembilan Zulhijjah (tasua).

Puasa tasua dilaksanakan untuk menjawab tuduhan Yahudi bahwa umat Islam mencontoh ibadah mereka yang hanya mempuasakan hari Asyura saja, karenanya Nabi bercita cita jika hidup pada tahun depan beliau akan berpuasa dimulai tanggal sembilan Muharram agar berbeda dengan kebiasaan Yahudi.

Akhirnya, hikmah tersirat dari memuliakan bulan Muharram dan berpuasa hari Asyura adalah sebagai pembelajaran untuk mensyukuri kesyukuran dan keberhasilan orang lain karena mensyukuri keberhasilan diri sendiri adalah sesuatu hal yang biasa sedangkan mensyukuri kesyukuran orang lain adalah sesuatu hal yang luar biasa.Wallahu a’lamubishshawab. ****** H. Muhammad Nasir, Lc., MA *****

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>