Momentum Hijrah Membangun Persatuan Umat

      Tidak ada Komentar

Rasulullah bersabda: “Bahwa manusia yang paling utama adalah yang menjalin silaturrahim dengan orang yang benci kepadanya, orang yang memberi sesuatu kepada orang yang pelit dan memberi maaf kepada orang yang menzaliminya.”

Umat Islam memasuki tahun baru 1439 Hijriyah pada tanggal 20 September 2017. Penetapan perhitungan tahun ini dimulai dari hijrah Rasulullah dari Makah ke kota Madinah. Peristiwa hijrah Rasulullah dinilai sangat monumental oleh Khalifah Umar bin Khattab sehingga tepat untuk dijadikan perhitungan tahun Islam.

Menyikapi pergantian tahun ini, sudah saatnya kita merapatkan barisan demi mewujudkan ukhuwah Islamiyah yang berkualitas dan berkontribusi untuk memajukan kehidupan dunia yang diridai Allah. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Sebagian umat saat ini sedang terjebak pertikaian, percekcokan dan ketidaksepahaman. Upaya membangun persatuan dan kesatuan sesama umat Islam harus segera dilakukan dengan metode yang efektif.

Metode yang efektif membangun persatuan umat Islam adalah metode yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Ada Hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad Ibn Hanbal dalam Musnadnya, Rasulullah bersabda: “Bahwa manusia yang paling utama adalah yang menjalin silaturrahim dengan orang yang benci kepadanya, orang yang memberi sesuatu kepada orang yang pelit dan memberi maaf kepada orang yang menzaliminya.”

Hadis tersebut mengajarkan kepada kita sikap kesatria. Dalam ilmu Tasawuf, sikap tersebut merupakan salah satu keadaan seseorang yang sudah mencapai maqam (tingkatan) mahabbah (cinta) kepada Allah SWT. Sikap kesatria tersebut yaitu:

Membalas kebencian dengan bersilaturrahim
Kebencian selalu menjadikan seseorang selalu dalam konflik pertikaian. Dulu, Rasulullah mengadapi kafir Quraisy dengan arif, tidak gegabah dengan memperturutkan hawa nafsunya.

Pernah seorang lelaki bangsa Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Rasulullah SAW. Niat jahat Tsumamah tercium oleh Umar bin Khattab. Lalu Umar menanyakan tentang maksud kepergiannya ke Madinah.

Begitu Tsumamah mengatakan bahwa niatnya untuk membunuh Rasulullah, lantas Umar melucuti pedang Tsumamah dan sekaligus meringkusnya. Lalu Tsumamah di ikat di salah satu tiang mesjid. Hal itu dilaporkan kepada Rasulullah SAW.

Setelah Rasulullah mendengar laporan Umar bin Khattab, beliau segera menghampiri Tsumamah yang masih terikat di tiang mesjid. Rasulullah mengamati wajah orang yang ingin membunuhnya, sementara Umar hanya menunggu perintah dari Rasulullah.

Umar mengira Rasulullah akan memerintahkannya untuk memenggal leher orang itu. Ternyata Rasulullah bertanya apakah orang tersebut sudah diberi makan. Mendengar perkataan Rasulullah tersebut, Umar terperangah dan menanyakan tentang jenis makanan yang diberikan kepada Tsumamah.

Rasul memerintahkan Umar untuk mengambil dan membawa ke hadapan beliau segelas susu. Setelah segelas susu berada di hadapan beliau, Rasul memerintahkan Tusmamah untuk meminumnya.

Rasulullah juga memerintahkan Tsumamah mengucapkan Dua Kalimat Syahadat. Namun Tsumamah tidak bersedia. Kemudian Rasul membebaskannya. Beberapa langkah keluar dari mesjid, Tsumamah berbalik arah dan bersimpuh lutut di hadapan Rasul seraya mengucapkan Dua Kalimat Syahadat.

Melawan Bakhil dengan Kedermawanan

Rasulullah memberikan contoh menjadi manusia dermawan dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia dermawan adalah manusia yang membumikan sikap peduli dalam kehidupannya.

Sikap peduli didasari dengan keikhlasan untuk menyelamatkan orang lain dari kebodohan, kemiskinan maupun kemaksiatan. Ada diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memberikan kepada orang peminta-minta sejumlah kambing yang memenuhi antara dua bukit.

Setelah menerima pemberian tersebut, peminta-minta itu berseru kepada kaumnya: “Wahai kaumku segeralah kamu memeluk agama Islam, sebab Muhammad telah menyelamatkan kita dari kemiskinan.

Selain itu, ada juga yang diberitakan oleh Jumhur Sahabat, bahwa pernah seseorang menghadiahkan selimut kepada Rasulullah, lalu beliau memakainya. Pada suatu hari seorang lelaki meminta selimut tersebut. Maka Nabipun memberikan selimut itu kepada lelaki itu.

Menyadarkan Kezaliman dengan Kata Maaf

Kezaliman merupakan moral negatif. Manusia yang berpadu antara sifat fakhsya’ dan munkar sebagai alat untuk menghancurkan moralitas manusia. Demikian berbahayanya sifat itu, sehingga Rasulullah mengingatkan umatnya melalui Hadis yang diriwayatkan Muslim dari Jabir bin Abdillah dalam Syarah Nawawi: “Waspadalah engkau dengan kezaliman, sebab kezaliman itu akan menjadi kegelapan bagi pelakunya pada hari kiamat, dan waspadalah engkau terhadap berbagai tindak kejahatan, sebab hal itu membinasakan umat sebelum kamu, juga mengundang timbulnya pertumpahan dan menghalalkan apa yang telah diharamkan kepada mereka.”

Berdasarkan hadis tersebut, kezaliman ibarat penyakit yang menggerogoti beberapa bagian tubuh kebaikan manusia. Apabila penyakit itu tidak segera dihilangkan dari beberapa bagian tubuh kebaikan manusia, maka dikhawatirkan bagian tubuh yang lain akan ikut menular. Adapun obat yang paling mujarab sebagai terapi penyembuhan adalah kata maaf.

Kata maaf dalam bahasa Arab adalah“Al-‘Afwu,” terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ‘Ain, Fa, dan Waw. Maknanya berkisar pada dua hal, yaitu meninggalkan sesuatu dan memintanya. Dengan demikian Al-‘Afwu berarti “Meninggalkan sesuatu bermakna meninggalkan sanksi terhadap yang bersalah (memaafkan), perlindungan Allah SWT dari keburukan, terhapus atau habis tiada berbekas, dan menghapus dan membinasakan serta mencabut akar sesuatu”.

Dalam hal memberi maaf, Rasulullah telah memberikan teladan kepada umatnya. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau senantiasa dihadapkan dengan berbagai tantangan, rintangan maupun ancaman baik yang bersifat internal (dari keluarga beliau sendiri), maupun yang bersifat eksternal (dari raja Romawi dan Persia).

Rasulullah menghadapi ancaman dan tantangan mereka dengan sikap maaf atas kesalahan yang masih dalam taraf dapat ditolerir. Sifat pemaaf Rasulullah itu setidaknya karena beliau telah memiliki lima prinsip, yaitu: Pertama, pemberian maaf tidak semata-mata urusan antara satu manusia dengan manusia yang lain, tetapi juga berkaitan dengan pemberian maaf dari Allah.
Kedua, pemberian maaf adalah pekerjaan cerdas, bukan pekerjaan orang bodoh. Ketiga, pemberian maaf adalah tidak semata-mata karena kesalahan yang disengaja. Keempat, memberi maaf pada saat mempunyai kelebihan dan kelapangan adalah perbuatan yang dianjurkan.
Kelima, memberi maaf bukanlah harus menunggu orang lain meminta maaf.

Ibadah shalat melalui gerakan salamnya mengajarkan kita untuk menumbuhkan rasa kepedulian kepada saudara kita, baik yang berada di sebelah kanan maupun yang di sebelah kiri. Dengan kata lain, shalat mengajarkan kita untuk menumbuhkan rasa kepedulian yang bersifat menyeluruh, baik kepada orang yang soleh maupun kepada orang zalim.

Oleh karenanya melalui momentum tahun baru 1439 Hijriyah, kita diingatkan dengan tindakan-tindakan terpuji yang dapat menjadikan umat Islam istimewa, bukan hanya istimewa di hadapan manusia namun juga di sisi Allah SWT. ***** ( H. M. Nasir, LC., MA : Pimp. Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara dan Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Washliyah. )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>