Presiden Lemah Sikapi Pembantaian Muslim Rohingya

      Tidak ada Komentar

MEDAN ( Berita ) : Presiden Joko Widodo (Jokowi), dinilai lemah dalam menyikapi pembantaian yang terus terjadi pada warga muslim Rohingya, di Myanmar. Sangat tidak diharapkan, dengan kelemahan ini, muncul menduga bahwa Jokowi, itu anti Islam, karena tidak ada upaya yang pasti untuk menghentikan pembantaian tersebut.

Pengamat Sosial dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Shohibul Anshor Siregar, Jumat (8/9),mengatakan timbulnya gerakan massa diberbagai daerah yang mengutuk aksi pembantaian muslim Rohingya saat ini adalah bentuk rasa solidaritas umat Islam Indonesia terhadap saudaranya di Rohingya.

Selain bentuk solidaritas, Sohibul, menilai bahwa aksi tersebut juga menggambarkan ekspresi dan sikap masyarakat Indonesia yang kecewa dengan pemerintah Indonesia yang tidak melakukan upaya sungguh-sungguh untuk menghentikan pembantaian tersebut. “Mengapa Presiden Jokowi, takut untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar dan mengusir Duta besar Myanmar untuk keluar dari Indonesia?,”katanya.

Menurut Shohibul, harusnya Presiden sebagai kepala negara berani untuk melakukan memutuskan hubungan diplomatic dengan Myanmar, sebagai bentuk rasa simpati dan sikap protes Indonesia terhadap Myanmar. ‘’Pemerintah Indonesia saat ini sepertinya lupa dengan Undang Undang (UU) 1945 yang menentang adanya penjajahan,’’ sebutnya.

Shohibul, mengatakan terlihat aneh jika hal yang genting teresebut, terlebih itu masalah kemanusiaan Presiden Jokowi,hanya mengutus Menteri Luar Negerinya Retno Marsudi. Harusnya Presiden langsung yang turun sebagai bentuk sikap protes yang mewakili perasaan masyarakat Indonesia. “Jangan saat ada acara tepuk tangan saja Jokowi itu baru muncul. Harusnya saat soal-soal genting begini okowi, itu turun,” tandasnya.

Menurut Shohibul, jangan ada alasan bahwa kejadian Rohingya itu tidak menjadi urusan Indonesia, karena kejadian tersebut terjadi di Myanmar, bukan di Indonesia. Karena, yang namanya pembantaian itu dilarang, dan kita harus kecam hal tersebut, meskipun itu tidak terjadi di Indonesia.

Sohibul, mengatakan sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, Indonesia merasa berkepentingan untuk membela umat Islam diberbagai penjuru dunia “Yang membuat hati kita tergerak itu ialah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam).

Ukhuwah Islamiyah tidak mengenal territorial, tidak mengal RAS, dan tidak melihat dari mana kita berasal. Itulah mengapa sebagai seorang muslim kita harus membela saudara kita yang sedang ditindas,”tandasnya.

Dari seluruh agama yang ada di dunia ini, katanya hanya agama Islamlah yang mempunyai kewajiban agar umatnya dari seluruh penjuru dunia berkumpul di satu titik, dan hal itu menjadi rukunnya Islam,sepereti berhaji.

Itulah, menurut Sohibul, contoh Ukhuwah Islamiyah yang harus kita terapkan. Jangan hanya saat ibadah haji dan umrah saja, tapi itu juga harus kita terapkan saat ada saudara kita yang ditindas dan butuh pertolongan. (WSP/crds/I)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>