Desa-desa Dibakar Di Myanmar

      Tidak ada Komentar

BAkarApi melalap pemukiman Muslim Rohingya di Desa Gawdu Zara, Negara Bagian Rakhine, Myanmar, Kamis (7/9). ( Repro/WSP/AP )

Aparat Pemerintah Myanmar memberikan pengawalan ketat kepada rombongan wartawan yang diizinkan untuk melihat kondisi Maungdaw, di Negara bagian Rakhine, Myanmar.

Kawasan itu adalah lokasi di mana terjadi kekerasan antara kelompok militan Rohingya dan pasukan pemerintah. Wartawan BBC yang ikut serta dalam rombongan itu,memberikan kesaksian tentang bagaimana kondisi di wilayah tersebut.

Dalam kunjungannya, terlihat bagaimana sekelompok anak muda di Rakhine membakar rumah-rumah di sebuah desa yang ditinggalkan oleh warganya yang mengungsi.

“Saya adalah bagian dari rombongan wartawan yang diundang oleh Pemerintah Myanmar untuk melihat keadaan di Maungdaw, di negara bagian Rakhine,” ujar wartawan BBC, Jonathan Head

“Syarat untuk mengikuti perjalanan ini adalah kami harus selalu berkelompok, tak boleh jalan sendirian. Kami pun harus mengikuti agenda perjalanan ke tempat-tempat yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. ”“Permintaan untuk mengunjungi tempat-tempat lain yang kami nilai menarik, bahkan lokasinya sebenarnya tak terlalu jauh, ditolak dengan alasan keamanan,” sambung Head.

Dia mengatakan, dalam perjalanan kembali dari daerah Al Le Than Kyaw, di selatan Maungdaw, terlihat asap membumbung ke angkasa.“Itu menandakan ada rumah-rumah yang baru saja dibakar,” sebutnya.

Polisi mengatakan, warga setempat sengaja membakar rumah-rumah tersebut, meski warga Rohingya yang tinggal di sana telah mengungsi. Seperti yang diberitakan, ketegangan terjadi setelah Tentara Pembebasan Rohingya Arakan menyerang pos polisi pada 25 Agustus.

“Kami bisa melihat setidaknya tiga titik asap yang membumbung dan mendengar tembakan sporadis. Kami juga melihat asap tebal berwarna hitam dari desa di tepi sawah,”sambung Head.

“Kami langsung memutuskan untuk melihat dari dekat dengan melewati persawahan.Kami melihat api masih menyala dari beberapa rumah. Seluruh rumah di desa ini habis terbakar hanya dalam waktu sekitar 20-30 menit,”kata dia.

Sengaja dibakar

Head mengatakan, saat kelompok wartawan berjalan memasuki desa, terlihat sekelompok anak muda berbadan kekar yang menenteng parang dan pedang.“Ketika kami berusaha mewawancarai, mereka menolak direkam dengan kamera,” ujarnya

“Namun rekan saya, seorang warga Myanmar, bisa berbicara dengan mereka.”“Mereka mengaku warga Rakhine. Salah seorang di antaranya mengakui sebagai orang yang memulai membakar rumah-rumah didesa itu,” sebut Head.

Pemuda itu pun mengaku bahwa aksi yang mereka lakukan dibantu oleh aparat kepolisian. “Kami masuk lebih jauh dan melihat madrasah yang atapnya juga terbakar. Api dengan cepat menyebar ke beberapa rumah di sekitarnya,” ujar Head lagi.

“Tidak ada orang di desa ini. Orang-orang yang baru saja kami temui adalah pelaku pembakaran.” “Di jalan desa, kami melihat peralatan rumah tangga, mainan anak-anak, dan pakaian perempuan berserakan,” ungkap dia lagi.

Head pun mengatakan, di tengah jalan rombongan wartawan menemukan jeriken bensinyang terserak. ”Semua rumah di desa itu habis terbakar, yang terlihat hanya sisa-sisa puing berwarna hitam.” kata Head.

Pembantaian missal Muslim Rohingya khawatir kekerasan yang terjadi saat ini akan kembali mengulang tragedi pembantaian di Srebrenica. Apalagi bila masyarakat internasional tidak mengambil sikap tegas melawan kekerasan tersebut.

Di ‘’tempat berlindung’’ Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Srebrenica, 8.000 laki-laki dan anak laki-laki Muslim dibantai oleh tentara Serbia Bosnia, 22 tahun silam.

Seorang sumber Rohingya yang ditemui Al-Jazeera, Kamis (7/9) mengatakan, sedikitnya 1.000 minoritas Muslim, termasuk perempuan dan anak-anak, telah terbunuh dalam dua pekan terakhir ini.

Sumber-sumber tersebut mengatakan, di desa-desa lain yang terkena dampak kekerasan tersebut, para pemimpin masyarakat tidak dapat menawarkan pemakaman secara Islam setelah para imam melarikan diri ke hutan.

Berbicara kepada Al-Jazeera dari kota Maungdow dengan nama samaran, Anwar, 25,mengatakan, ada operasi militer yang menargetkan umat Islam. “Tentara Myanmar dan ekstremis Buddha secara khusus menargetkan umat Muslim.

Wanita, anak-anak, orang tua, tidak ada yang tak terdampak. Situasi terus bertambah buruk dan pemerintahan Aung San Suu Kyi gagal mencegahnya,” ujar dia.

Suu Kyi, mantan tahanan politik penguasa militer Myanmar, telah berbicara untuk pertama kalinya mengenai masalah ini pada Rabu (6/9). Dia mengatakan pemerintahannya melakukan yang terbaik untuk melindungi semua orang di Rakhine dan ia menyalahkan teroris atas perselisihan di negara bagian tersebut. (WSP/Al-Jazeera/bbc/And)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>