Separuh Rakyat Indonesia Belum Dapat Layanan Keuangan

      Tidak ada Komentar

OJK1Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional 5 Sumatera Bagian Utara Wahyu Mardiansyah (tengah) bersama Product & Customer Experience Head BTPN Wow Achmad Nusjirwan Sugondo (kanan) berdiskusi tentang “Laku Pandai: Akses Keuangan untuk Semua” di Café Potret Jalan Wahid Hasyim Medan Kamis (7/9) sore (Berita Sore/Hj Laswiyati Wakid )

MEDAN (Berita): Saat ini masyarakat Indonesia yang baru mendapat pelayanan jasa keuangan masih 19,6 persen, berarti separuh lebih belum sehingga pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank untuk melakukan penetrasi literasi dan inklusi keuangan sampai ke pedesaan melalui Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai).

Hal itu dikatakan Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional 5 Sumatera Bagian Utara Wahyu Mardiansyah kepada wartawan dalam acara diskusi “Laku Pandai: Akses Keuangan untuk Semua” yang digelar Koran Sindo kerjasama dengan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Tbk di Café Potret Jalan Wahid Hasyim Medan Kamis (7/9) sore.

Selain Wahyu, pembicara lainnya Product & Customer Experience Head BTPN Wow Achmad Nusjirwan Sugondo, Dari 7 miliar orang di muka bumi ini, kata Wahyu, diantaranya 2 miliar belum mendapatkan akses layanan keuangan.

Dari 2 miliar orang tersebut , 1 miliar ada di Asia dan Indonesia penyumbang terbesar dimana rakyatnya belum mendapat layanan keuangan. “Ini karena beberapa faktor yang tidak bisa terlayani akses keuangan dengan baik,” jelas Wahyu.

Ia menyebut beberapa faktor seperti daerah yang sulit dijangkau, tidak mampu membayar biaya administrasi, masih banyaknya persyaratan yang rumit, bahkan sekarang diwajibkan perbankan mengenal nasabahnya dengan baik serta masyarakatnya miskin.

“Atas alasan itulah OJK membuat program Laku Pandai yang dioperasionalkan bank dengan karakteristik masing-masing bank- setiap bank karakteristiknya berbeda,” kata Wahyu.

Jadi dengan Laku Pandai, tambah Wahyu, masyarakat mendapatkan layanan keuangan tanpa bank sehingga tidak perlu ke kantor bank lagi. Bank Dunia mensurvei tahun 2016 tingkat inklusi keuangan 60 persen. Pemerintah menargetkan tahun 2020 inklusi keuangan mencapai 75 persen. Artinya, 75 persen rakyat Indonesia memanfaatkan layanan keuangan.

Wahyu memaparkan pada triwulan I-2017 jumlah agen secara nasional 328.466, diantaranya Sumut 15.420. Triwulan II-2017, agen secara nasional 368.124 orang di Sumut 18.242 orang. Sedangkan nasabah triwulan I-2017, nasional 5.119.595 orang, diantaranya di Sumut 211.838 orang.

Triwulan II-2017 berkembang pesat, nasabah nasional 10.016.335, diantaranya di Sumut 484.398 orang. Di Sumut dari sekira 6.100 kelurahan dan desa, yang terlayani Laku Pandai baru sekira 35 persen saja. Secara nasional dana pihak ketiga (DPK) dari Basic Saving Account (BSA) Laku Pandai total Rp47,3 miliar diantaranya di Sumut Rp17,4 miliar. “Sampai sekarang penyelenggara Laku Pandai masih enam bank diantaranya BTPN, BNI, BRI dan Mandiri,” katanya.

Menurut Wahyu, beberapa daerah yang belum terlayani seperti Nias, Paluta, Palas, pakpak Barat karena masalah jaringan teknologi saja sehingga perlu ada pola kerjasama untuk meningkatkan kemajuan teknologi.

Product & Customer Experience Head BTPN Wow Achmad Nusjirwan Sugondo mengatakan pihaknya meluncurkan Laku Pandai sejak 30 Maret 2015 sampai ke pelosok Indonesia. Saat ini ada 190.000 agen dari beragam usaha masyarakat seperti penjual pulsa dan toko-toko kelontong dengan nasabah mencapai 3,8 juta orang.

Akhir Juni 2017, jumlah nasabah Laku Pandai BTPN Wow di Sumatera mencapai 652.000 nasabah dengan 39.000 agen. Mau jadi agen harus punya usaha minimal 2 tahun, reputasi baik, cukup dikenal di komunitasnya, training, disertifikasi bahwa dia agen resmi. “Kita targetnya jumlah nasabah dan agen sebanyak-banyaknya,” ungkap Nusjirwan. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>