Memandang Canberra Dari Pegunungan Ainslie

      1 Komentar

WieDi puncak penggunungan Ainslie, tampak Kota Canberra dengan garis lurus memandang Gedung Parlemen yang baru. ( Berita Sore/Hj Laswiyati Wakid )

KOTA CANBERRA, ibukota Australia terletak di wilayah Australian Capital Territory (ACT), sebagai pusat pemerintahan, kota yang sangat tenang, bersih dan sepi, tanpa hiruk pikuk seperti kota cosmopolitan lainnya.

Saya bersama tiga teman berada di Negara Kanguru itu selama 10 hari sejak 16-25 Agustus 2017 mengitari sebagian kecil Benua Australia yakni Sydney, Canberra dan Melbourne. Ketiga kota punya karakteristik sendiri yang perbedaannya sangat signifikan.

LasPengunjung sedang memberi makan bebek dan burung di danau buatan (Lake Ginninderra) di Canberra. ( Berita Sore/Hj Laswiyati Wakid )

Sahabat lama saya bernama Djasamen Saragih, dulu staf di Konsulat Amerika Serikat di Medan sampai tahun 1995 dan pernah menjabat Direktur Pusat Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA) kini menetap di Canberra bersama isterinya Silvya Saragih yang warga negara Australia. Dari Bang Djasamen dan Kak Silvy, panggilan akrab saya kepada mereka, saya banyak tahu tentang Australia. Ketika masih menetap di Medan, Djasamen selalu menawarkan kepada saya “Ayoklah Laswie jalan-jalan ke Australia!”.

Ketika ada kesempatan dan waktu yang tepat, Saya mengajak tiga teman berangkat ke Sydney pada Rabu, 16 Agustus 2017 dari Bandara Kualanamu transit di Kuala Lumpur dan lalu ke Sydney selama 9 jam. Dari Bandara Udara (Bandara) Kingsford-Smith Sydney Kamis, 17 Agustus 2017 pagi, kami menyewa mobil menuju Canberra sekira 3 jam perjalanan. Waktu Australia lebih cepat 3 jam dari Medan.

Kami menginap di rumah Djasamen di daerah Flynn, Canberra, ACT. Pada Sabtu pagi, saya bersama teman diajak suami isteri itu ke pegunungan Ainslie, daerah tertinggi di Canberra. “Di lokasi inilah pemandangan terbagus di Canberra. Dapat melihat Kota Canberra seutuhnya,” ungkap Silvy.

Betul saja, dari puncak pegunungan (Mount) Ainslie dapat terlihat penuh Kota Canberra. Posisinya pemandangan garis lurus dengan gedung parlemen (Parliament House) yang baru dan monumen perang (Australian War Memorial), persis berada di tengah.

Bandara Canberra di sebelah kiri dan kawasan perumahan di sebelah utara. Di tengah-tengahnya terhampar danau buatan. Pemandangan yang luar biasa indahnya. Telihat jelas pesawat udara turun naik seperti melihat mainan pesawat, kecil-kecil. Hamparan kotanya hanya separuh lingkaran.

Pada Agustus itu, lagi musim dingin yang suhunya 3 sampai 6 derajat Celcius, kadang-kadang 10-16 derajat Celcius. Pepohonan rontok, beraneka warna, hijau sedikit, kuning dan hitam. “Jadi kalau mau ke Mount Ainslie harus pakai baju hangat yang lebih tebal lagi dan topi karena pasti suhu di atas lebih dingin lagi,” kata Silvy.

Cukup melihat Canberra dari pegunungan Ainslie, semua nampak. Lokasi ini hampir mirip dengan Putrajaya di Malaysia. Ada danau buatan dan bisa melihat Kota Kuala Lumpur dengan penuh. Bedanya Putrajaya sebagai pusat pemerintahan; kantor Perdana Menteri dan Kementerian menjadi satu di sana. Sedangkan Mount Ainslie hanya tempat wisata belaka yang ditumbuhi rumput, gratis, tidak dipungut bayaran. Memandang di kejuhan dibatasi dengan pagar.

Pegunungan Ainslie sendiri berada di ketinggian 843 meter dari permukaan laut (dpl). Para turis berdatangan ke sini untuk melihat Kota Canberra sesungguhnya. Biasanya datang hanya memandang Kota Canberra, foto-foto lalu pulang karena di sana tidak ada orang berjualan atau tempat istirahat. Ketika saya di sana, puluhan pengguna motor gede (moge) Harley Davidson sedang konvoi dengan kaos serba hitam. Mereka foto-foto lalu pulang.

Pusat pemerintahan terletak di gedung parlemen. Di sana tidak hanya kantor DPR, tapi Menteri dan Perdana Menteri berkantor di Parliament House. Gedung ini juga sebagai icon wisata Canberra, masyarakat lokal dan turis bebas foto-foto di sana. Sedangkan beberapa Kantor Kedutaan Besar (Kedubes) negara-negara sahabat berada di kawasan Yarralumla, termasuk Kedubes RI.

Canberra yang tenang karena masyarakat tak banyak hilir mudik dan melintas di jalanan. Lampu jalan juga hanya di perempatan, selebihnya gelap. Pengendara mobil hampir wajib jalan kencang, begitupun tidak pernah terdengar klakson mobil.

“Di sini tidak boleh sembarangan memencet kla kson mobil,” jelas Silvy, menjawab kebingungan saya karena jalanan sangat tertib. Tak ada satupun terlihat kendaraan roda dua di jalanan, hanya di Mount Ainslie konvoi Moge.

Silvy menuturkan dulu tiga kota yakni Sydney, Canberra dan Melbourne saling berebut ingin menjadi ibukota Australia, ketiganya terletak satu jalur di pinggiran Australia. Namun akhirnya Canberra yang berada di tengah dipilih sebagai ibukota Australia.

Kota Canberra sendiri dirancang tahun 1920-an dan konon arsiteknya sama orangnya yang membangun Kota Washington DC, ibukota Amerika Serikat. Tak heran kedua kota hampir mirip, termasuk tenang, sepi dan bersihnya.

Ketika saya di sana, pukul 06.00 pagi sepertinya sudah pukul 07.00. Sebaliknya jam 5 sore, seperti jelang Magrib. Sepanjang waktu terasa dingin. Tak heran bila ada cahaya matahari pagi, banyak yang menjemur badannya ke matahari, terasa lebih enak, termasuk saya.

Ini terlihat ketika saya mengunjungi Australian National University (ANU) dan University of Canberra, banyak yang berolahraga di lapangan saat panas matahari dan sengaja tiduran sambil baca buku di lapangan rumput tersebut. Saya juga ikut-ikutan duduk di lapangan pas cahaya matahari menimpa tubuh. Namun sama sekali tidak terasa panas karena angin yang berhembus ibarat kejatuhan bongkahan es, dingin sekali. Tangan-tangan berkerut. Suhu ternyata 6 derajat Celcius.

Cara lain menghilangkan rasa dingin, biasanya warga Canberra dan turis asing pergi ke danau buatan dikenal sebagai Lake Ginninderra. Di sekeliling danau itu ada pepohonan besar dan bisa berolahraga dengan jalan atau lari-lari kecil.

Di danau yang bersih, tak ada enceng gondok, apalagi rumput, hidup segerombolan bebek dan burung merpati. Masyarakat yang berkunjung ke sana sengaja membawa makanan seperti roti dan bersuara seakan memanggil bebek maka segerombolan hewan air itu datang menghampiri, diikuti burung-burung merpati.

Mereka memakan apa yang ditebarkan pengunjung, bahkan bisa langsung memasukkan ke mulut bebek. Hewan-hewan ini cukup jinak, Jumlahnya makin lama, makin banyak. Tak ada yang punya. “Bebek-bebek ini bertelur di pinggiran danau sampai menetaskan telur di sana,” jelas Silvy.

“Wah, kalau di Medan, telur-telur di pinggir danau itu pasti sudah habis diambil sebelum menetas,” kata saya kepada Silvy. Namun Silvy yang berasal dari pinggiran kota di dekat Sydney tetap mengagumi Medan, kampung suaminya sebagai kampung halamannya juga. Kultur Batak Silvy sangat kental, ramah dan suka memasak untuk tamunya.

Selain ke danau, masyarakat umumnya memilih mall untuk menghilangkan dingin. Mall di sana terasa panas dibanding suhu di luar yang sangat dingin. Tentu sebaliknya beda dengan mall di Medan yang sejuk dibanding udara di luar yang panas. “Makanya enak ke mall,” kata Silvy lagi.

Mall Belconnen menjadi salah satu pilihan. Di sana parkir dua jam gratis. Jadi saya memilih makanan halal di kounter India yang tertera jelas tulisan “Halal Certified”. Australia juga menerapkan banyak makanan halal untuk menjaring turis muslim seperti Indonesia, apalagi secara geografis, wilayahnya dekat dengan Indonesia dan Malaysia. (Hj Laswiyati Wakid)

One thought on “Memandang Canberra Dari Pegunungan Ainslie

  1. Mimie Queen

    Registrasi Sekarang dan Rasakan Sensasi nya!!!
    ADU BANTENG, Sabung Ay*m, Sportbo*k, Pok*r, CEM*, C*PS*, DOMIN*, Casin*
    whatup : 6281377055002
    BBM : D1A1E6DF – D889B99C – BOLAVITA (NEW)

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>