Australia Penuh Pesona

      Tidak ada Komentar

Wie1Penulis berfoto di halaman Gedung opera house di Sydney. ( Berita Sore/ist )

Secara Geografis, Indonesia dekat dengan Benua Australia, namun secara kultur jauh sekali. Negara Kanguru itu lebih mirip seperti Eropa atau Amerika Serikat, dingin, kadang ada salju dan modern, penuh dengan pesona, Demikian laporan Wartawati Harian Berita Sore, Hj. Laswiyati Wakid dari Australia selama 10 Hari ( 16-25 Agusutus 2017. ( red)

JembatanJembatan Sydney yang berhadapan dengan gedung Opera House, ikon wisata di Sydney, Australia. ( Berita Sore/Hj Laswiyati Wakid )

Benua Australia terdiri atas enam negara bagian dan dua daerah teritorial yakni New South Wales (NSW) ibukotanya Sydney, Queensland ibukotanya Brisbane, Victoria ibukotanya Melbourne, Australia Selatan ibukotanya Adelaide, Australia Barat ibukotanya Perth, Tasmania ibukotanya Hobart, Australia Utara (daerah teritorial) ibukota Darwin dan Ibukota Australia (daerah teritorial) ibukotanya Canberra.

Benua Australia itu disebut Terra Australis Incognita artinya daerah di selatan yang tidak diketahui. Pada tahun 1688, seorang penjelajah Inggris bernama William Dampies menemukan Australia. Tahun 1770, James Cook menyatakan Australia bagian dari Kerajaan Inggris yang kemudian menjadikan daerah itu sebagai tempat penjara, kini menjadi Kota Sydney.

Selama di Australia, saya mengunjungi tiga kota; Sydney, Canberra dan Melbourne. Pada Kamis, 17 Agustus 2017 pagi saya sampai di Bandara Kingsford-Smith Sydney, saya menyewa mobil taksi ke Canberra dengan ongkos 350 dolar Australia atau sekira Rp 3,5 juta selama tiga jam perjalanan.

Beberapa hari di Canberra, dengan mobil sama disewa lagi dari Canberra-Melbourne-Sydney dengan ongkos 1.500 dolar Australia atau sekira Rp15 juta. Dari Canberra ke Melabourne sepanjang 661,8 km menempuh perjalanan sekira tujuh jam, jalanannya mulus dan sepi. Sedangkan dari Melbourne ke Sydney perjalanan sekira 12 jam dengan jarak mencapai 800 km lebih.

Ketika memutuskan ke Melbourne lewat jalan darat, saya berpikir akan banyak dijumpai kota-kota sepanjang perjalanan. Namun semua itu tidak ada. Hampir sepanjang perjalanan yang ditemui cuma lahan yang luas, ditumbuhi rumput-rumput tipis dan peternakan domba maupun sapi.

Kanguru terlihat sekali-kali dari kejauhan. Tak ada perumahan dan mall. Tapi jalanan sangat mulus dan lebar. Supir hanya berhenti sekali di lokasi istirahat yang ada jual makanan dan minuman “Hungry Jacks”.

Teman saya di Canberra, Djasamen Saragih bilang kalau Australia ini hanya dihuni di pinggirannya saja, tak heran bila hampir semua kota berdekatan dengan laut. Sedangkan di tengahnya berupa lahan luas dengan potensi tambang cukup besar. Sebelum memasuki Melbourne, yang terlihat hanya kota biasa saja, tak ada gedung tinggi dan keramaian. Barulah setiba di Melbourne, kotanya luar biasa, energik, cuek dan ramai.

Kendaraan di Victoria atau Melbourne adalah trem atau kereta api yang hilir mudik di tengah kota sama seperti di sejumlah kota di Amerika Serikat seperti Arizona. Kendaraan ini dimulai pertengahan abad ke 20. Kini Melbourne memiliki lajur trem paling kompleks dan banyak di dunia. Di kota ini wajib mengunjungi museumnya dengan koleksi flora dan fauna hingga sejarah aborigin.

PelajarSejumlah pelajar berada di depan “Queen Victoria Market” Melbourne. (Berita Sore/Hj Laswiyati Wakid )

Kemudian yang paling menarik dikunjungi khususnya bagi kaum hawa adalah “Queen Victoria Market”, lokasi pasar murah ini juga merupakan salah satu destinasi wisata di Melbourne. Pasar ini seperti lokasi pameran, ada ruangan besar dan disekat-sekat jadi lapak jualan. Semua ada, dari baju, sepatu, tali pinggang, pernak pernik khas Australia dengan harga dibandrol murah.

Sehingga hampir semua turis berdatangan ke sini. Para pedagangnya juga banyak orang Indonesia, umumnya dari Bandung dan Jakarta. Lokasi pasar seperti ini juga ada di Sydney namanya “Paddy’s Market”, Cuma lokasinya mirip Pasar Petisah. Harganya standar, tapi lebih murah dari di toko.

Setelah tiga hari di Melbourne, perjalanan lanjut ke Sydney. Di kota yang terkenal wah ini, tujuan utama foto-foto dulu di “Opera House’, ikon Kota Sydney sekaligus Australia. Tak sah kalau belum foto di bangunan bagai tumpukan keong itu yang merupakan landmark Australia paling terkenal.

Sydney opera house merupakan karya terbaik arsitektur abad ke 20 yang dibangun arsitek Jorn Utzon. Bangunan ini cerminan sebuah kapal layar besar. Lokasinya dikelilingi pelabuhan Sydney (Sydney Harbour) dan Royal Botanic Gardens.

Di opera house itu banyak kegiatan kesenian masuk dengan tarif tertentu. Namun orang lebih suka foto-foto di luar gedung menghadap jembatan Sydney (Sydney Harbour Bridge). Indah sekali. Apalagi kalau dilihat malam hari, lampu-lampu menyelimuti gedung sehingga keong-keong itu bagai hidup. Sensasi aneka warna lampu ini biasanya ditunggu turis sambil menikmati makan malam di pinggir laut menghadap jembatan Sydney. Pesonanya luar biasa. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>