Kekejaman Pemerintah Myanmar

      Tidak ada Komentar

Bagansiapiapi ( Berita ) : Sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) , Provinsi Riau membentuk “Gerakan Rohil Peduli Rohingya” sebagai wadah menghimpun serta menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban kekejaman pemerintah Myanmar.
“Kekejaman pemerintah Myanmar telah mengakibatkan puluhan orang tewas saat pasukan pemerintah menyerbu kampung-kampung di Provinsi Rakhine dan musibah ini membutuhkan kepedulian semua pihak,” kata Agus Salim, M.Pd.I, Ketua Gerakan Rohil Peduli Rohingya, di Rohil, Rabu [6/9].

Ormas Islam Rohil yang peduli nasib muslim Rohingya tersebut adalah Nahdlatul Ulama (NU) diwakili Ust. Marzuki Saifullaah, Muhammad Mukim Prayoga dari GP Ansor, Fauzi Gunawan perwakilan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kab. Rohil, Junaidi utusan PERMASA, Ust. Budi Setiawan dan Ahmad Fauzi dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kab. Rohil, Ust. Jaka Abdillah utusan KAHMI Rohil, Ust. Baharuddin dan Moh. Taubat Nasuha dari Kemenag Rohil.

Menurut dia, melalui wadah yang sudah terbentuk tersebut semua lapisan masyarakat Riau dipersilahkan mengirimkan bantuan mulai dari pakaian, selimut, makanan, kebutuhan perempuan dan balita agar kaum muslim Rohingya terbantu. Ia mengatakan, bantuan lainnya berupa uang juga sangat dibutuhkan karena akan lebih mudah dan lebih cepat pengirimannya.

“Untuk mempercepat gerakan kemanusiaan ini, akan dibuka rekening atas nama aksi dan akan disebarkan melalui media cetak maupun online, seperti WhatsApp (WA), facebook dan lainnya. Bantuan yang diterima dan disalurkan akan dilaporkan kepada masyarakat secara transparan dan akuntabel melalui media,” katanya.

Bantuan tersebut dibutuhkan, menurut pengurus Ormas karena sesuai sabda Rasulullah Muhammad SAW bahwa ummat Islam itu laksana satu tubuh, bila satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakitnya juga.

Agus Salim mengatakan, mudah-mudahan bantuan kemanusiaan untuk sesama muslim ini , akan dicatat oleh Allaah SWT sebagai amal ibadah yang pahalanya sama seperti orang yang berjihad fii sabiilillaah, amin Ya rabbal alamin.

Sementara itu, konflik antara etnis Rohingya dan mayoritas penduduk Myanmar yang mayoritas beragama Budha seolah tak berkesudahan. Puluhan ribu warga Rohingya terlunta-lunta mengungsi ke negara lain, termasuk Indonesia.

Di Myanmar, etnis Rohingya tak diakui sebagai warga negara. Mereka kesulitan memperoleh akses kesehatan, pendidikan dan perumahan yang layak. Kekerasan juga terus terjadi.

Secara umum orang berpendapat, krisis Rohingya di Myanmar adalah masalah agama. Tetapi menurut Kepala bidang penelitian pada South Asia Democratic Forum, Siegfried O Wolf, krisis ini lebih bersifat politis dan ekonomis.

Dari sisi geografis, penduduk Rohingya adalah sekelompok penganut Muslim yang jumlahnya sekitar satu juta orang dan tinggal di negara bagian Rakhine. Wilayah Rakhine juga ditempati oleh masyarakat yang mayoritas memeluk agama Budha. Rakhine dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Tetapi hal itu menjadi timpang ketika pada kenyataannya tingkat kemiskinan di sana ternyata tinggi.

“Komunitas warga Rakhine merasa didiskriminasi secara budaya, juga tereksploitasi secara ekonomi dan disingkirkan secara politis oleh pemerintah pusat, yang didominasi etnis Burma.

Dalam konteks spesial ini, Rohingya dianggap warga Rakhine sebagai saingan tambahan dan ancaman bagi identitas mereka sendiri. Inilah penyebab utama ketegangan di negara bagian itu, dan telah mengakibatkan sejumlah konflik senjata antar kedua kelompok,” kata Siegfried O Wolf dikutip dari hasil wawancara media Jerman. (ant )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>