Kami Hanya Pasrah Saudara Kami Dibakar Hidup-Hidup

      Tidak ada Komentar

RahmadPengungsi muslim Rohingya Iman Husen, bersama istri dan anaknya yang baru lahir, saat berada dipenampungan Hotel Beraspati, Jl. Jamin Ginting, Selasa (5/9) ( Repro/ WSP/RizkyRayanda/C )

Pembantaian etnis Rohingya oleh militer Myanmar di Rakhine semakin biadab. Mereka tidak hanya membakar kampung umat muslim di sana,t api juga membunuh lalu membakar jasad yang sudah tak bernyawa secara massal, untuk menghilangkan jejak.
Kondisi mengerikan seperti itu dahulunya pernah dirasakan Iman Husein. Pengungsi Rohingya, yang berhasil menyeberangi lautan, dan hingga kini berada di penampungan, di Hotel Beraspati, Jl. Jamin Ginting.

Dikisahkan pria 25 tahun ini, dia tinggal di sebuah kota bernama Ikakeb. Tapi setiap desa yang dihuni etnis Rohingya dibakar, penghuninya disuruh keluar rumah dalam waktu yang singkat.

Jika tidak mereka akan dibakar hidup-hidup. Bagi yang melawan akan dibunuh, kepalanya dipenggal, ataupun di penjara tanpa alasan yang jelas .“ Kami hanya bisa pasrah melihat saudara kami yang melawan terbakar hidup-hidup.

Bahkan untuk memberikan minum saudara Islam yang sekarat karena di bakar kami tidak bisa,”ujarnya menahan haru Dikatakan Iman setiap daerah yang berbatasan di samping desa yang sudah habis terbakar, penduduknya hanya bisa diam, pasrah dan cemas.

Karena selanjutya desa mereka yang akan dihabisi. Karena itu setiap desa yang dibakar, pengungsi yang lain akan mengungsi di desa yang berada di sebelahnya lagi. ”Dulu penduduk di daerah saya tinggal hanya sekira 5.000 orang, sekarang sudah hamper sekitar 50 ribu orang, karena banyak penduduk yang kampungnya di bakar mengungsi di tempat kami.

Tidak lama lagi kampung saya pasti juga akan dibakar, semoga allah melindungi mereka,” ujarnya lirih Tidak hanya itu saja, dikatakan Iman, para tentara juga tak segan menculik kaum wanita, mereka yang diculik jangan harap bisa kembali lagi. “Itulah yang membuat saya nekat lari meninggalkan Myanmar pada tahun 2012,” kenangnya.

Saat meninggakan Myanmar Iman menumpang kappa lkecil untuk berlabuh ke Malaysia, bersama ratusan penumpang lainnya. Penderitaan Iman, semakin panjang. Karena dalam sehari dia hanya makan nasi satu kali.

Sedangkan untuk minum harus menikmati air laut .”Saya nekat berlabuh guna mencari uang untuk membawa istri saya Robiza ‘20’ dan kedua anak saya yang masih balita,” ujarnya. Namun takdir berkata lain,di Malaysia tidak banyak yang bisa dilakukan, karena dirinya hanyalah pengungsi.

Kondisi Myanmar yang semakin gawa terpaksa membuat sang istri nekat juga meninggalkan Myanmar, menuju Indonesia lewat kapal kecil. Robiza, melakukan itu demi anaknya, karena takut di bantai militer Myamnar.“ Beruntung dia bisa selamat sampai di Indonesia.  Untuk menambah gizi anak saya, istri sering menyisihkan biskuit yang diberikan satu kali dalam sehari kepada anak saya yang masih balita kala itu,” ujarnya.

Iman, bertemu dengan Robiza, saat kapal yang ditumpangi istrinya mendarat di Indonesia.“Saat itu istri saya menghubungi, saya pun langusung bergegas menemuinya di indonesia hingga kami dipersatukan kembali di penginapan Beraspati dari mulai tahun 2015,” jelasnya.

Selama dua tahun tinggal di Beras Pati, Iman merasa nyaman. Anaknya pun bertambah dua lagi. Yang terakhirnya baru lahir lima hari lalu .”Pemerintah Indonesia sangat baik kepada kami , karena mau menerima kami, hingga kami bisa menjalankan hidup dan ibadah dengan tenang,” ujarya.

Meski mustahil terjadi, iman masih berharap kepada pemerintah Myanmar untuk mau menerima mereka seutuhnya,dan menghentikan kekerasan yang terjadi di sana. “Myanmar tempat kami dilahirkan, di sana banyak keluarga kami.

Mohon negara dunia membantu kami menghentikan kekerasan ditanah kami. Kami hanya ingin hidup tenang dan damai tanpa harus menyusahkan Negara lain,” ujarnya (WSP/Rahmat Utomo/F)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>