Inflasi Sumut 1,01 Persen Tertinggi 2017

      Tidak ada Komentar

Inflasi1Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara Syech Suhaimi (tengah) berbicara kepada wartawan didampingi Kabid Statistik dan Distribusi Bismark Pardamean S Sitinjak (kanan) dan Kabid Statistik Sosial Ramlan (kiri) di Kantor BPS Jalan Asrama Medan Senin (4/9). (Berita Sore/Hj Laswie Wakid )

MEDAN (Berita): Pada Agustus 2017, inflasi Sumatera Utara mencapai 1,01 persen, paling tinggi di tahun 2017 ini, bahkan juga jauh lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 0,07 persen. Hal itu dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara Syech Suhaimi kepada wartawan dalam pertemuan awal bulan di kantornya Jalan Asrama Medan Senin (4/9).

Saat itu Suhaimi didampingi Kabid Statistik dan Distribusi Bismark Pardamean S Sitinjak dan Kabid Statistik Sosial Ramlan. Suhaimi menilai inflasi Sumut pada Agustus tahun ini tergolong paling tinggi karena dipicu oleh beberapa komoditas yang memberikan andil cukup tinggi antara lain kenaikan harga cabe merah mencapai 82,94 persen dan uang sekolah SMP 5,7 persen.

Ia menjelaskan pada Agustus 2017, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi yaitu Medan 1,06 persen, Pematangsiantar 0,83 persen, Padangsidempuan 0,43 persen dan Sibolga 1,01 persen. Dengan demikian pada Agustus 2017, Sumut inflasi 1,01 persen.

Di empat kota IHK, katanya, kenaikan harga cabe merah memberikan andil inflasi paling utama disusul komoditi lain seperti kenaikan daging ayam ras, tongkol/ambu-ambu, telur ayam ras, apel, jeruk, bawang merah, garam, minyak goreng, tarif pulsa ponsel, rokok kretek, emas perhiasan, cabe rawit dan cabe hijau.

Khusus Medan, katanya, inflasi 1,06 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 132,46 pada Juli 2017 menjadi 133,87 pada Agustus 2017. “Inflasi terjadi karena ada peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” jelas Suhaimi.

Kelompok pengeluaran yang naik yakni kelompok bahan makanan sebesar 5,52 persen, kelompok kesehatan 0,26 persen, pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,14 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,04 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,01 persen.

Sementara itu, kelompok yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,82 persen dan kelompok sandang 0,11 persen. Suhaimi menambahkan komoditas utama penyumbang inflasi selama Agustus 2017 di Medan antara lain cabe merah, SMP, daging ayam ras, dencis, cabai rawit, cabai hijau dan udang basah.

Dari 23 kota IHK di Pulau Sumatera, jelasnya, inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe 1,09 persen dengan IHK 125,68. Inflasi terendah terjadi di Pulau Batam 0,01 persen dengan IHK 129,50. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 0,78 persen dengan IHK 134,88 dan deflasi terendah terjadi di Metro sebesar 0,13 persen dengan IHK 136,31.

Di Indonesia, katanya, pada Agustus 2017 dari 82 kota yang diamati IHK nya, 35 kota mengalami inflasi dimana inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe 1,09 persen dengan IHK 125,68. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Bandung 0,06 persen dengan IHK 128,07. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>