Kontestasi Pilpres Mengerucut Pada Dua Kubu Besar

      1 Komentar

MEDAN ( Berita ) : Pengamat Politik dari Universitas Sumatera Utara (USU) Ahmad Taufan Damanik, mengatakan setelah ambang batas pencalonan Presiden (presidential threshold) diputuskan 20-25 persen, maka perkiraan kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) mengerucut kepada dua kubu besar. Nantinya di-\perkirakan hanya ada Jokowi dan pesaiang Jokowi. “Siapa pesaingnya ? Menuru saya, untuk sementara sangat mungkin Prabowo, kembali.
Dengan prakiraan seperti inilah,maka semakin banyak kekuatan politik mendekati kedua kubu tersebut,” kata Ahmad Taufan Damanik. Ahmad Taufan Damanik, mengatakan itu saat berbicara kepada Wartawan, Senin (7/8).

Dia menanggapi konstalasi politik saat ini, dimana dukungan partai politik (Parpol) sangat deras menyatakan mendukung Jokowi sebagai Presiden pada Pilpres 2019 nanti. Menurut Ahmad Taufan Damanik, karena sebagai petahana, kubu Jokowi adalah pihak paling menarik perhatian berbagai pihak, membuat banyak Parpol terkesan takut ketinggalan.Dia mengatakan, sikap sejumlah Parpol cenderung pragmatis, sehingga lebih mengedepankan ikut serta di dalam kubu kekuasaan, ketimbang mempertahankan ideologi politik.

Karena kekuasaan dipandang sebagai sumber penguatan partai, baik secara ekonomi mau pun politik. Jadi, sebutnya tidak heran bila beberapa partai yang semula ada di Koalisi Merah Putih (KMP) seperti Golkar dan PPP, kemudian berpindah ke kubu Jokowi.

Meski di sisi lain juga diperkuat dengan tekanan politik sebagaimana menimpa Golkar dan PPP, melalui status kepengurusan yang ditarik ulur oleh pemerintah. Namun, urusan koalisi ternyata bukan soal paku mati.

Terbukti di dalam Pilkada DKI, PKB,PPP dan PAN, tidak sepenuhnya patuh pada koalisi pemerintah. Begitu juga untuk UU Pemilu dan Perppu No. 2 tentang Keormasan. Bahkan, sambungnya, PDIP, Nasdem dan Hanura, menunjukkan sikap yang berbeda dengan pemerintah dalam soal Pansus Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jadi, selain pragmatis, dukugan pun bersifat kontekstual.

“Demokrat yang di dalam Pilpres 2014 tidak bersikap tegas mendukung salah satu di antara kedua kubu Jokowi – JK atau pun Prabowo – Hatta, belakangan mulai menarik garis yang lebih tegas, berhadapan dengan kubu pemerintah,” bebernya.

Tentu saja ini, katanya ada kaitannya dengan perlawanan yang mereka lakukan terhadap tekanan kubu pemerintah melalui beberapa kasus yang dikonotasikan sebagai masalah hukum bagi tokoh teras partai ini.

Demikian pula dengan dukungan yang diberikan oleh Perindo, melalui pernyataan politik Hary Tanoesoedibj o(HT), yang mendukung Jokowi 2019 nanti. Pernyataan ini, menurut Ahmad Taufan Damanik, tentu juga bersifat pragmatis dan kontekstual.

Pilihan ini merupakan isyarat kebutuhannya akan “perlindungan” dari kekuasaan ,terutama dari Presiden Jokowi, karena belakangan Hari Tanoe, terkena beberapa kasus hukum.
Masih besar

Sementara itu, di tempat terpisah, Pengamat Tata Negara USU Dr. Faisal Akbar, menilai Parpol berlomba-lomba sejak awal menyatakan mendukung Jokowi, karena menurut mereka pesona seorang Jokowi, masih besar.

Sehingga Parpol berebut saling cepat mengusungnya. Tinggal PDI Perjuangan yang belum menyatakan mendukung Jokowi. Sedangkan Nasdem, Hanura dan terakhir PPP serta Perindo, sudah memproklamirkan diri sebagai partai yang akan mengusung Jokowi.

“Masih menjadi pertanyaan, kenapa PDIP malah adem-adem saja. Belum ada keluar pernyataan dari petinggi partai tersebut. Walaupun diprediksi PDIP akan mengusung kembali Jokowi, dalam pertarungan Pemilu yang akan dilaksanakan serentak antara legislatif dan Presiden.

Dia mengatakan, mungkin baru kali ada partai berebut menyatakan dukungan jauh-jauh hari kepada calon Presiden tertentu. “Biasanya partai menahan diri memutuskan siapa yang diusung hingga detik-detik terakhir, kecuali mereka mengusung calon dari internal sendiri.

Langkah tersebut diambil sambil menunggu posisi tawar paling bagus dan menguntungkan untuk partai tersebut. Tapi kini, Parpol berebut mempertontonkan dukungan mereka sejak dini.

Terkesan, mereka inging mendompleng pamor Jokowi, atau karena ada kepentingan lain. Kalau Nasdem mengusung Jokowi, boleh dikatakan sebagai strategi mereka. Karena tidak saja dalam Pilpres,untuk kategori Pilkada saja Nasdem termasuk Parpol yang hobi memproklamirkan diri sebagai kandidat paling pertama mendeklarasiakan pencalonan.

Sebut saja baru-baru ini Nasdem mendeklarasikan pencalonan Ridwan Kamil untuk maju di Pilgub Jawa Barat. Jadi pencalonan Jokowi oleh Nasdem bukanlah hal yang mengejutkan. Kata Faisal Akbar, dengan strategi lebih dulu mencalonan Jokowi, sejumlah Parpol juga berharap limpahan popularitas Jokowi, ikut mendongkrak suara partai mereka. (WSP/m49/C)

One thought on “Kontestasi Pilpres Mengerucut Pada Dua Kubu Besar

  1. Suzhi Mei

    Bolavada Promo HUT RI
    Kami segenap dari Bandar Betting Bolavada mengucapkan Selamat Hari Raya Kemerdekaan Bangsa Indonesia
    – Bonus Deposit Tambahan 50%
    – Dan masih banyak lagi
    Hubungi Kami dan Segera Daftarkan diri Anda di:
    BBM : D89CC515
    Whatsapp : 0812-9727-2374
    LINE : BOLAVADA
    Facebook : BOLAVADA

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>