Harga Garam Naik, Bisnis Kuliner Terancam

      1 Komentar

MEDAN (Berita): Berkurangnya stok garam dan garam sulit diperoleh di pasar berakibat harga kebutuhan utama makanan tersebut juga melambung sehingga dapat mengancam bisnis kuliner di Medan.

“Memang dibutuhkan sedikit, tapi garam harus ada dalam mengolah makanan sehingga komoiditi itu sangat penting,” kata Sakdiyah, pedagang nasi di Jalan Brigjen Katamso, Kampur Aur Medan kepada Berita Kamis (3/8).

Kenaikan harga garam tidak hanya dirasakan imbasnya pengusaha ikan asin. Namun sektor kuliner turut merasakan dampak dari melonjaknya harga garam ini. Sebab selain mahal, juga garam ini sulit didapatkan.

Hal senada juga diungkapkan Hj Helmi dari Rumah Makan Masakan Khas Minang Nasi Kapau Uni Emi, Pasar Petisah Medan Kamis (3/8), kibat kenaikan harga garam ini, membuat garam sulit didapatkan, terutama garam kasar.

“Harga garam sekarang parah. Ini pengaruhnya besar. Sejak garam mahal, ada garam yang tidak ada. Seperti garam kasar sekarang ini sulit kita didapatkan. Biasanya kita sekali belanja itu, 4 sak garam kasar dan 6 sak garam halus. Satu sak itu ukuran 10 kg,”keluhnya seraya mengeluhkan di pasaran kata pedagang pasokannya masih menunggu import.

Kenaikan harga ini sambungnya, membuat pasokan garam untuk kebutuhan usaha tidak bisa seperti biasanya. “Sekarang tidak sanggup,”ujarnya. Bahkan sambungnya, untuk garam kasar langka ini berakibat pada harga kebutuhan lainnya seperti cabai giling yang biasanya hanya Rp2.000 per kg, mengalami kenaikan menjadi Rp4.500 per kg. “Belum lagi bumbu giling lainnya juga ikut naik. Semua naik, sekarang tidak ada yang murah. Garam yang paling luar biasa naiknya,” keluhnya.

Kenaikan harga garam ini juga dirasakan pemilik warung nasi Thamrin di Jalan M Yamin. “Harga garam naik, semua naik, semua mahal,” keluhnya. Biasanya harga garam yang ukuran 1 kg itu hanya Rp5.000 saat ini sudah menjadi menjadi Rp8.000. “Harganya sudah hampir sama dengan beras sekilo,” keluhnya.

Disisi lain, Yusuf pemilik Cofffe Kampoeng menyebutkan kenaikan harga garam yang begitu signifikan memberikan imbas bagi bisnisnya. “Penggunaan garam kita memang cukup tinggi, mengingat garam merupakan bagian dari cita rasa di menu kami,” ujarnya.

Namun, sejauh ini dengan kenaikan harga garam, pihaknya belum mengambil kebijakan untuk menaikkan harga. “Ini ini sifatnya tentatif hingga kita nggap perlu tidaknya menaikkan harga, jika dianggap perlu maka akan dilakukan itu,” ujarnya seraya berharap harga garam dapat stabil kembali mengingat Indonesia merupakan negara maritim.

Tidak berbeda dengan Makmur Santoso pengusaha mie ayam mengatakan kenaikan harga garam ini memberikan efek. “Pengaruhnya ada, tapi tidak terlalu signifikan. Karena pemakaian kita tidak terlalu banyak. Dalam satu hari rata-rata kita hanya membutuhkan 500 gram garam. Karena garam ini bukan komponen utama bagi kita,” ujarnya.

Dengan kenaikan harga garam saat ini sambungnya, berimbas pada garam yang biasa digunakan sulit ditemukan dipasaran. “Sejak harga garam naik, garam yang biasa kita gunakan sulit didapat. Jadi sekarang ini, kita cari garam dengan harga murah, namun kualitasnya tidak berbeda,” ujarnya. Baik Hj Helmi, Makmur Santoso, Yusuf berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap harga garam ini. (wie )

One thought on “Harga Garam Naik, Bisnis Kuliner Terancam

  1. Suzhi Mei

    Bolavada Promo HUT RI
    Kami segenap dari Bandar Betting Bolavada mengucapkan Selamat Hari Raya Kemerdekaan Bangsa Indonesia
    – Bonus Deposit Tambahan 50%
    – Dan masih banyak lagi
    Hubungi Kami dan Segera Daftarkan diri Anda di:
    BBM : D89CC515
    Whatsapp : 0812-9727-2374
    LINE : BOLAVADA
    Facebook : BOLAVADA

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>