Literasi Pasar Modal RI Paling Rendah Hanya 4,3 Persen

      Tidak ada Komentar

PasarDari kiri ke kanan: Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara Lukdir Gultom, Direktur Utama PT Phintraco Securities Jeffrey Hendrik, Arifin Fu selaku Direktur Eksekutif dan Dekan Fakultas Ekonomi UPH Medan serta Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan di UPH Jalan Imam Bonjol Medan Senin (31/7). (Berita Sore/Hj Laswie Wakid )

* Galeri Investasi Ke 6 Di UPH

MEDAN (Berita): Hasil survei tahin 2016, masyarakat yang paham tentang pasar modal atau literasi pasar modal di Indonesia tergolong paling rendah hanya 4,3 persen. Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara Lukdir Gultom mengatakan hal itu pada peresmian Galeri Investasi ke 6 yang terletak di Universitas Pelita Harapan (UPH) Jalan Imam Bonjol Medan Senin (31/7).

Setelah di UPH, sebelumnya ada di UIN, USU, Microskill, Tjut Nyak Dhien dan Nomensen. Peresmian itu dihadiri Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan, Direktur Utama PT Phintraco Securities Jeffrey Hendrik, Arifin Fu selaku Direktur Eksekutif, Plt Wakil Rektor Bidang Akademik dan Dekan Fakultas Ekonomi UPH Medan serta Kepala PT BEI Perwakilan Medan Muhammad Pintor Nasution.

Lukdir menjeaaskan literasi pasar modal Indonesia itu jauh dibanding perbankan 28,94 persen, asuransi 15,76 persen, pembiayaan 13,05 persen dan Pegadaian 17,82 persen.

Penduduk Indonesia 258 juta jiwa, tapi tingkat literasi keuangan hanya 29,7 persn, namun inklusi keuangan (yang melakukan industri keuangan) mencapai 67,8 persen, lebih besar karena banyak yang ikut-ikutan. “Kalau orang beli saham, diapun beli padahal tak paham apa itu saham,” katanya. Jadi yang paham betul produk-produk insklusi keuangan hanya 29 persen.

OJK juga mempermudah masyarakat untuk ikut investasi di pasar saham, kalau dulu satu lot jumlahnya 500 lembar, sekarang 100 lembar. “Melihat fakta itu kita perlu kerja keras untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya masyarakat Medan tentang investasi di pasar modal,” tegas Lukdir.
Sebab negara maju, pasar modalnya juga maju. Kalau pasar modal maju, pembangunannya cepat. “OJK terus mendorong peningkatan jumlah investasi ritel di pasar modal.

Tercatat saat ini pada Mei 2017, jumlah investasi ritel nasional sudah mencapai 1.113.790 terdiri dari saham 569.790, reksadana 439.486 dan surat berharga negara (SBN) 104.411, meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir dari sekira 400.000 tahun 2015 meskipun capaian secara pertumbuhan besar, jika dibanding dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Persentase investor Indonesia hanya 0,39 persen dari jumlah penduduk RI sebanyak 258 juta jiwa.

Untuk investor di Sumut, pada Mei 2017 jumlah investor ritel mencapai 51.615 terdiri dari saham 24.526, reksadana 21.447 dan SBN 5.642 atau sebesar 0,37 persen jika dibandingkan jumlah penduduk Sumut sebesar 14,102 juta jiwa tahun 2016.

Galeri Investasi Ke 276

Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan mengatakan galeri investasi di UPH Medan merupakan ke 276 di Indonesia. Tahun ini ada 36 yang diresmikan. Berarti tiap minggu berdiri 1 atau 2 galeri di kampus-kampus di Indonesia ada di Maumere, Takengon, Sangata dan sebagainya.

Hogan menyebut saat ini transaksi pasar modal mencapai Rp7,5 triliun per hari, ada 554 perusahaan (emiten) yang dapat kita beli sahamnya. “Hampir semua perusahaan besar, bank sudah jadi go publik,” katanya.

Sahamnya tahu lalu naik 15,32 persen. Kenaikan ini nomor 5 tertinggi dunia dan kedua di Asia Pasifik Dalam 10 tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rata-rata naik 200 persen, tertinggi di seluruh dunia. “Manfaatkan galeri investasi ini bukan untuk pengetahuan saja, tapi juga kesejahteraan kita bersama,” katanya.

Direktur Utama

PT Phintraco Securities Jeffrey Hendrik mengatakan pihaknya kerjasama dengan 53 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia dan merupakan sekuritas yang paling banyak kerjasama dengan perguruan tinggi antara lain ada 3 Aceh, Papua, NTT, Sulsel sampai Gorontalo “Malu saya karena tak ada satu pun di Sumut, padahal saya putra sumut,” jelas Jeffrey..

Menurut dia, Galeri Investasi tujuannya untuk mencetak SDM. Konsep galeri investasi ini antara lain tempat untuk belajar, tempat untuk berlatih. Selama ini banyak baca buku. “Kami bangun khusus mesin simulator, bisa melakukan investasi tapi uangnya bohong-bohongan,” ungkapnya.

Galeri investasi juga sebagai sarana untuk melakukan praktek. Ibarat orang baca buku renang tapi tak pernah berenang. Itulah juga kalau kita baca buku investasi bursa tapi tak pernah masuk maka sama saja tak ada tahu. Padahal dengan uang Rp100.000 bisa belajar investasi.

Arifin Fu, Direktur Eksekutif, Plt Wakil Rektor Bidang Akademik dan Dekan Fakultas Ekonomi UPH Medan menambahkan kegiatan ini cukup memberikan sumbangsih pengetahun tentang pasar modal. “Minat mahasoswa tentang pasar modal cukup tinggi,” katanya. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>