Bahaya Gempa Berkedalaman 10 Km

      Tidak ada Komentar

TANAH KARO ( Berita ) : Gempa bumi yang terjadi pada 14 Juli 2017 di Tabagsel, merupakan pergerakan tektonik di Patahan Angkola.
Sedangkan gempa bumi yang terjadi 16 Januari dan Februari 2017 yang mengguncang Deliserdang dan Karo, bersumber dari pergerakan tektonik busur belakang dari Pantai Timur Sumbagut.

“Ada Patahan yang memotong Sumut pada arah Utara – Selatan, yaitu Patahan Tanjung-pura dan Patahan Tanjungmorawa sebagaimana dipublikasikan Prof Tjia HD (UKM),” kata Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Ir. Jonatan Tarigan kepada Wartawan di Berastagi, Minggu (16/7), menanggapi isu terkait gempa besar yang bakal menggoncang Sumut.

Di Sumut, gempa bumi 7,2 SR dimunculkan dari Patahan Renun pernah terjadi pada tahun 1936. Kemudian gempa bumi 7,6 SR dimunculkan dari Patahan Angkola pada tahun 1892.

Fakta empiris di berbagai belahan dunia mengungkapkan bahwa kejadian gempa bumi di jalur patahan berulangkali terjadi dengan variasi periode ulangnya antara 60 hingga 150 tahun.

Kewaspadaan terhadap ancaman bahaya gempa bumi,tidak harus pada gempa bumi berskala besar, misalnya di atas 7 SR. Tetapi gempa bumi berkekuatan 6 SR dengan kedalaman 10 kilometer sudah dapat menimbulkan bencana katastrofa, jika tidak diantisipasi.

“Sebagai contoh, gempa bumi 5 SR dengan kedalaman 8 km berdurasi 6 detik, telah meratakan Kota Aga dir di Maroko. Jadi yang terpenting adalah bagaimana upaya mitigasi yang berkelanjutan,” kata Jonathan.

Akibat konstelasi tektoniknya yang sedemikian rupa dan fakta-fakta sejarah kejadian gempa bumi di Patahan Renun dan Patahan Angkola serta karakteristik perulangan kejadian gempa bumi, lanjut Jonatha, maka Sumut berpotensi dilanda gempa bumi besar.

Misalnya di Nias. Jalur megathrust ini masih berpotensi memunculkan gempa bumi pada kisaran 8 SR. Kemudian, gempa bumi berkekuatan 7 SR di jalur Patahan Renun atau Patahan Angkola.

Namun, kata Jonathan, tidak harus mengantisipasi gempa bumi berkekuatan besar, baru membangun masyarakat yang siaga tehadap bahaya bencana. Sebab, gempa bumi 5 SR dari kedalaman 10 km dengan durasi guncangan 60 detik dapat menimbulkan kerusakan yang massif.

Karena itu, upaya mitigasi yang berkelanjutan, merupakan kewajiban moral pemerintah provinsi, kabupaten dan kota. Kerangka tektonik yang mengkondisikan kejadian gempa bumi di Sumatera Utara adalah penunjaman lempeng Samudera India di bawah Pulau Sumatera.

Penunjaman ini memunculkan unsur tektonik yang menjadi sumber gempa bumi di jalur kegempaan Nias, Mentawai, jalur patahan Sumatera dan jalur tektonik busur belakang di Pantai Timur Sumbagut.

Kemudian, pergerakan mikrokontinen India yang menekan benua Asia dimana muara penekanan itu menghujam Sumut dari kawasan Pantai Timur. Lalu, pergerakan tektonik “spreading” di Anambas yang dapat memicu pergerakan patahan-patahan di Sumut seperti Renun, Toru, Angkola dan Barumun.

Di Sumatera Utara, menurut Jonathan, ada empat segmen Patahan Sumatera. Pertama, Patahan Renun yang mempengaruhi Dairi, Karo, Pakpak Bharat dan Humbahas. Kedua, Patahan Toru yang mempengaruhi Tapanuli, Samosir dan Simalungun. Ketiga, Patahan Angkola yang mempengaruhi Tabagsel, Tapteng dan Madina. Keempat, Patahan Barumun yang mempengaruhi Palas dan Paluta.

Jonathan juga mengatakan, di Tanah Karo juga pernah terjadi gempa bumi pada tahun 1936 yang dikenal dengan Linur Batu Karang. Akibat bencana alam itu, belasan orang tewas dan terjadi pergeseran tanah sekitar 10 meter dari tempatnya semula.(WSP/cpn/a36/I)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>