Perambahan Hutan Marak Di Abdya

      Tidak ada Komentar

BLANGPIDIE ( Berita ) : Sejak beberapa tahun terakhir aksi perambahan hutan marak di Kab. Aceh Barat Daya (Abdya), khususnya di wilayah Kec. Babah Rot.Informasi diterima menyebutkan, perambahan hutan yang dilakukan masyarakat sudah jauh memasuki kawasan hutan lindung dikawasan itu.
Kapolres Abdya AKBP Andy Hermawan melalui Kapolsek Babah Rot AKP Syamsuir, Selasa (11/7) mengungkapkan, perambahan hutan di kawasan hutan lindung terjadi sepanjang Jalan Ie Mirah, Kec. Babah Rot hingga memasuki kawasan Terangun, Kab. Gayo Lues, tepatnya di wilayah Krueng Sapi.

Dikatakan, hampir setiap hari warga merambah hutan lindung untuk berkebun. Areal hutan yang dibabat tidak saja di pinggiran kawasan hutan lindung, melainkan telah jauh memasuki kawasan yang dilarang undang-undang.

Akibat adanya aksi pembalakan hutan secara ilegal, kondisi hutan lindung di kawasan Babah Rot yang berbatasan dengan Gayo Lues sudah dalam keadaan gundul.

Perambahan hutan itu kata Syamsuir, semakin parah disebabkan masyarakat setempat akan menanam jernang (daemonorops), yaitu tanaman sejenis resin yang dihasilkan dari beberapa spesies rotan.

Resin berwarna merah itu telah sejak lama diperdagangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pewarna, dupa dan bahan obat tradisional. “Harganya fantastis, menyebabkan warga beramai-ramai melakukan aksi merambah hutan serta mewacanakan menanam jernang, ”kata Syamsuir.

Syamsuir mengaku, pihaknya bersama unsur Muspika sudah turun ke lapangan meninjau kondisi hutan yang telah dibabat. Puluhan hektare hutan diketahui telah gundul. Hutan yang semula hijau, saat ini sudah berubah menjadi tanah gersang.

Muspika Babah Rot, termasuk pihak kepolisian telah mensosialisasikan kepada masyarakat, dengan membuat imbauan baik secara lisan maupun tulisan agar tidak merusak kawasan hutan lindung.

Akan tetapi, aksi perambahan tetap berlanjut dengan mengabaikan aturan yang telah ditetapkan.“Kami telah memberikan imbauan dan peringatan, agar aksi merusak hutan segera dihentikan. Kalau tidak diindahkan juga, tentu akan dilakukan penindakan langsung,” tegas Syamsuir.

Muhaimin, salah seorang warga Babah Rot mengaku khawatir dengan maraknya aksi perambahan hutan yang terjadi di kawasan itu. Menurutnya, jika dibiarkan tanpa penanganan serius dari pihak terkait, kawasan hutan lindung yang berfungsi menjaga kestabilan alam, menjaga ketersedian air serta penangkal terjadinya bencana longsor maupun banjir akan rusak tanpa dapat dikendalikan.

Ditambahkan, sejak dahulu, pemerintah telah menetapkan Hutan Produksi Terbatas (HPT)di sisi kiri-kanan sepanjang jalan kawasan tersebut, yakni 100-200 meter dari badan jalan yang bisa dikelola masyarakat untuk bercocok tanam.

“Kalau perambahan hutan itu dikarenakan keinginan sekelompok orang untuk menanam jernang, baik bibit yang diadakan sendiri ataupun bibit yang diadakan pemerintah, Pemkab Abdya harus mengkaji ulang program pengadaan bibit jernang. Dengan harapan agar bibit itu tidak ditanam di hutan lindung dan kawasan terlarang lainnya,” harap Muhaimin.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya Mahyudin SP kepada wartawan mengatakan, perambahan hutan yang terjadi saat ini memang sangat dilarang. Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak, sebab persoalan kehutanan merupakan wewenang Provinsi Aceh.

Bidang Perkebunan Distanpan, kata dia,memang mewacanakan membuat usulan pengadaan bibit jernang untuk masyarakat Abdya. Namun usulan itu nantinya akan melalui beberapa proses, seperti evaluasi kelompok penerima manfaat, hingga survei ketersediaan lahan tempat penanaman bibit.

“Program ini masih dalam tahap usulan. Kalau diterima, kami akan mengevaluasi di lapangan agar bibit itu tidak disalah gunakan, termasuk mengenai ketersediaan lahan yang tidak bermasalah,” katanya.(WSP/cza/C)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>