Tak Semudah berjualan di Pasar Swalayan

      Tidak ada Komentar

Jualan

Pasar tradisional

Terik panas matahari amat terasa, ditambah letihnya tubuh karena sudah bekerja dari subuh. Ya, begitulah yang dirasakan para pedagang di pasar tradisional untuk mendapatkan rejeki.
Mereka bekerja dari pukul 05.00 – 19.00, dari subuh ke malam dan begitu seterusnya. Tapi, hal itu tak menyurutkan semangat para pedagang yang ada di salah satu pasar tradisional di Depok, yaitu Pasar Kemiri Muka.

Pasar Kemiri Muka terletak tepat di samping rel kereta api. Suasana pasar ini tak beda dari kebanyakan pasar tradisional lainnya. Jauh dari bersih, sampah berserakan dimana-mana seakan tak ada yang peduli. Bau amis dan bau makanan busuk menjadi satu, sehingga membentuk bau yang amat tak keruan.

Meski demikian, pasar ini ramai pembeli. Ibu-ibu bahkan bapak-bapak pun sering kali ke sini untuk membeli kebutuhan pangan, misalnya aneka rempah-rempah, aneka jenis sayuran, aneka jenis buah-buahan, dan aneka daging. Tentu berbelanja di pasar tardisional ini menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan pada pasar swalayan.

Pengunjung yang datang ke Pasar Kemiri Muka untuk berbelanja tiap harinya selalu ramai. Di pasar ini, jelas terlihat antar penjual dan pembeli menjalin komunikasi yang baik dalam hal tawar-menawar. Tawar-menawar tentu bukan hal yang tabu untuk para pembeli dan pedagang, hal itu dilakukan untuk mencapai kesepakatan harga untuk pembeli dan juga penjual.

Berjualan di pasar tradisonal seperti ini tentu tidak mudah. Para pedagang harus menghirup bau busuk yang sangat menyengat setiap harinya yang jelas tak baik bagi kesehatan mereka. Beda dengan pasar swalayan yang ruangannya selalu bersih, wangi, dan dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Selain itu, pedagang harus menentukan harga sendiri. Harga yang ditawarkan pedagang di pasar ini relatif murah dibanding pasar swalayan. Meski demikian, tak banyak orang orang yang menawar harga yang sangat murah sehingga pedagang mendapat keuntungan sedikit. Biasanya pedagang memberikan harga murah saat penghabisan saja, dipikiran mereka daripada tidak laku mending dijual dengan harga murah.

Pedagang tak hanya dibebankan oleh sewa lapak dan iuran kebersihan, kadang pungutan liar pun terjadi di sini. Pungutan liar yang dilakukan oleh preman menambah beban pengeluaran para pedagang.

Tak hanya yang dilapak-lapak, pedagang keliling juga dijumpai di sini. Mereka tidak dibebankan dengan uang sewa lapak, iuran kebersihan, atau jatah para preman. Tapi kesulitan mereka harus berjualan mengelilingi pasar dengan memikul dagangan yang berat.

Keliling

Pedang Keliling

Makmun, bapak dari 4 anak ini menjajankan dagangannya dengan cara keliling ke daerah Pasar Kemiri Muka hingga rumah warga yang tak jauh dari pasar itu. Tiap hari beliau berjualan dari pukul 06.00 sampai pukul 19.00. Beliau berjalan mencari orang yang mau membeli dagangannya dan sesekali berhenti untuk beristirahat.

Jajanan berupa tahu sumedang, kacang, telur puyuh, kue kering, dan lain sebagainya dipikulnya tiap hari. Pendapatan yang beliau dapat perharinya dari hasil jualan sekitar Rp 150.000, tapi tak jarang pula beliau mendapat untung yang sedikit karena jajanannya tidak laris. Meski demikian, beliau tetap bersyukur masih bisa mencukupi kebutuhan 4 anak dan istrinya. ***** ( Yolanda : Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>