Komik Medan Merentang Zaman

      Tidak ada Komentar

Marina1Komik MORINA ini menjadi topic pembicaraan pameran komik di Jakarta baru baru ini karena gambar mirip bintang film Marlyn Monroo ( kiri ) dan gambar kanan, Clamentina Bleduk, isteri Taguan- begitu penuturan Arry Darma. ( beritasore/ist )

Istilah Komik Medan ( KM ) muncul dan populer akhir tahun 1900 an dan awal tahun 2000 an. Artinya tidak jauh rentang waktu antara kehadiran Buku Komik Indonesia karya Marcel Bonneff dari Prancis istilah KM, tetapi Bonnef lebih memilih istilah Priode Medan.

Lanjut Bonnef, priode itu menjadi jaman keemasan komik di Indonesia. Kembali kepada KM. Dapat dikatakan sejak kehadiran buku ditulis bonnef dalam mengulas komik di Indonesia terbit tahun 1996, dan gairah terhadap komik nasional muncul dan marak.

Para penggiat atau penikmat Komik kerap mengadakan pameran serta komik di beberapa Kota di pulau Jawa. Komunitas komik di Jakarta akhirnya menempatkan Komik Medan sebutan tepat dan pas. Genre komik yang bermacam ragam , seperti komik wayang, komik silat, remaja hingga genre sejarah. Artinya komik yang dicetak dan pelukisnya orang Medan memiliki beragam genre.

Pemerhati komik nasional umumnya menyebut kehadiran KM tidak sekedar menyuguhkan estetika gambar tetapi juga thema cerita pun diangkat beragam, dan tinggal pilih saja. Ada thema drama dengan sarat berfilsafat ( Batas Firdaus ), thema Komedi, ( Pak Klowor ), thema perjuangan ( sungai ular atau Medan Area ) dan termasuk thema film pun , misalnya ( Ben Hur, Spartacus dan Kapal Bounty).

Dalam perjalanan KM selanjutnya thema budaya melayu menjadi identik dan paling menonjol dari thema lainnya. Hampir semua komikus ambil bagian berkarya dan judul dipilih pun cukup akrab ditelinga masyarakat yang identik dengan judul lagu melayu klasik. Contohnya komik Tudung Periuk, Tudung , Tudung Sadji , Aiga hingga komik Sarinande.

Syair Tudung Periuk misalnya terdapat pada cover komik dilukis oleh M.Ali,s.

Tudung periuk pandai lah menari
Mainan anak raja malaka
Kain buruk tinggalkan kami
Buat menyapu si airmata

Syair Tudung Sadji

Tudung Saji hanyut terapung
Selendang pelangi bersulam benang
Hajat dihati nak pulang kampung
Lautan luas tidak terenang

Zam Nuldyn

Komikus Zam Nuldyin merupakan satu komikus menghasilkan kisah rakyat melayu paling terdepan. Gambar lukisannya unik dan rumit. Banyak ukiran. Ceritanya akan digubah terkadang berbeda dengan yang lain.

Ia perlu waktu cukup mengumpulkan bahan terutama mendatangi lokasi cerita itu berasal. Sebagai contoh Komik Paluh Hantu misalnya : ditepi jalan Matapao dekat simpang Sialang Buah ( Kab. Sergai ) sejak lama terdapat Keramat Kuda dan berada di tepi jalan raya.

Tidak jauh dari lokasi keramat; pada tahun 60 an masih terdapat sebuah paluh ( telaga ) luas sekali dan bersemak belukar mengeliling. Si pengarang cerita / legenda akan mengaitkan fenomena alam disekitar satu dan lainnya hingga terbentuk satu alur cerita, begitu makna legenda.

Pak Zam tidak merisaukan tentang keuangan keluarganya memburu sumber cerita. Karena sumber utama penghasilan utamanya, ia adalah pegawai kantor di Deppen SU. Salah seorang anak beliau dikenal luas adalah Sakhyan Asmara, Ketua STIKP Medan.

Taguan Hardjo

Kalau Zam Nuldyn tampak figur orang yang menjauhi hiruk-pikuk keramaian cendrung dan memilih ketenangan terutama menciptakan karya- karya, sosok berbeda ada dalam diri Taguan Hardjo.

Ia selalu gelisah dan lasak. Artinya seakan ada obsesinya belum kesampaian dalam menekuni profesi komikus maupun sebagai pekerja teater ( drama ). Kegelisahan tampak sejak dari aktivitasnya sebagai pembuat komik sejak Musang Berjanggut (1958) hingga Kartu Mati (1978) dimuat diharian Jawa Pos (Surabaya) .

Lebih spesifik lagi gelisah dan lasak pula ia mampu bertahan hampir lima dekade berprofesi, artinya manakala pelukis di Kota Medan belum tertarik dalam menekuni profesi ini ( 1958) hingga era KM berakhir pertengahaan tahun 60 an, dan Taguan tetap menekuni profesi itu dengan setia. Bahkan karyanya Musang Berjanggut di lukis ulang dan kemudian diterbitkan oleh Grafiti Jakarta tahun 1991.

Seminar dan Pameran Komik Medan.

Baik Karya Zam, Taguan maupun komikus lainnya sebahagian karya mereka dapat disaksikan dalam Pameran Komik Medan di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda Medan sejak tanggal 12 hingga 15 Mei.

Pameran yang sebelumnya didahului seminar sehari. Sebagai narasumber disampaikan oleh Dr. Iwan Gunawan (IKJ – Ketua Forum Cergam, Jakarta), Koko Hendri Lubis (Penulis dan pengamat komik Medan) dan Dr. Ichwan Azhari, MS (Kepala Pussis Unimed).

KM pada awal Pemberantasan Buta Huruf ( PBB) tahun lima puluhan dan awal enampuluhan sangat berjasa, baik sebagai alat hiburan, alat edukasi digandrungi ditengah masarakat.

Pengamat komik Nasional, seperti Ashadi Siregar, (UGM, Novelis dan ahli Komunikasi massa LP3 Yogyakarta) pernah menuliskan keberadaan KM ; yang lebih bisa muncul sebagai media ekspresi kesenian dan mampu menyampaikan missi sosial budaya, dan hal ini tidak bisa disampaikan secara lebih leluasa oleh komikus berikutnya.

eminar dan pameran dibuka resmi Sabtu, 12 Mei oleh wakil wakil dekan II FIS Unimed, ibu Flores Tanjung, MA.

Mentjari Musang Berdjanggut

Awal komik bersambung di harian Waspada telah menyita banyak perhatian terutama pihak kaum wanita. Seperti serial sinetron layaknya- membius penonton dari episode ke episode laainnya. terkadang mengharukan, jenaka hingga menegangkan. Komik Musang Berjanggut pun demikian.

Seperti bagian kisahnya ,bagaimanakah kelak nasib Tun Utama mencari wanita idaman hatinya ?, atau begaimana pula kelanjutan ayah angkatnya si anak muda Tun Utama bernama Raja Negara Tua serta menteri dan hulubalang di istana memendam hasrat asmara terhadap Siti Sarifah, isteri Tun Utama- yang tidak hanya cantik tetapi juga cerdas dan bijak pula; agar kemelut penyakit asmara dilingkungannya berakhir baik-baik.

Kemunculan KM ini berkebetulan kondisi di Kota Medan dan sekitar tahun 1958 tidak dalam kondisi kondusif. Ada peristiwa pemberontakan PRRI/Kol Simbolon, sebaliknya di Jakarta era tahun 50 an dan Pemerintah pusat menganut Demokrasi Liberal , sehingga partai- partai mayoritas saling menjatuhkan.

Berita politik tak enak ini cenderung memicu pembaca surat kabar (masyarakat) mencari oase, keteduhan berita. Ternyata komik yang digagas oleh H. Moh. Said Muhammad Said mampu lagi ampuh mengimbangi situasi, darurat pembaca .

Malah dengung komik ini hingga ke Malaysia, seiring sirkulasi Waspada menjangkau Malaya setiap hari. Ditahun 1959 aktor P. Ramlee memproduksinya menjadi film dengan judul sama.

Di era pemerintahan Sumut era Gubernur EWP Tambunan; di tahun 1983 komik ini diproduksi kembali menjadi film sebagian mengambil lokasi di Istana Maimun. Bintang utamanya Roy Marten dan Rini S Bono.

Peranan Pak Said Terhadap Taguan

Menurut Ewald, panggilan akrab adik Taguan Hardjo itu dan bernama lengkap E. Bismo Hardjo, pada awal tahun limapuluhan ketika menginjak Tanah Deli ,ia dan seperti abangnya tak satu etnis pun dikenalnya disini yang memang hetrogen.

Yang Cuma diketahuinya hanya etnis Jawa yang ada di Suriname . Dapat dipahami bagaimana luar biasa kemajuan diperoleh Taguan setelah meretas komik Musang Berjanggut. Baik thema maupun jumlah judul dihasilkan melampaui pelukis lain.

Dalam catatan lama, setidaknya ada tiga karya Taguan dalam mengangkat cerita berunsur sejarah, dan ketiga komik ini berkelas, seperti komik Keulana (Aceh- Portugis), Intan Dirdja Lela (Aceh, Melayu dan Pahang, (Malaysia) dan komik Morina (Malaka -Portugis)

Nah siapa orang yang membentuk Taguan mendalami thema sejarah kalau bukan Pak Said sendiri yang memang seorang sejarawan.

Dalam suatu wawancara dengan para wartawan disela shooting film Musang Berjanggut di Istana Maimun tahun 1983 itu, Taguan Hardjo hadir sebagai supervisor, menyebut Pak Said sebagai gurunya.

Lain lagi Hr Kompas, 5 September 1979 menuliskan sebagai berikut …….. untung Taguan bertemu Mohammad Said yang memimpin harian Waspada. Pak Said inilah yang memberi semangat dan dorongan besar pada Taguan. Naskah komik Tjip Tupai (1957) diterima untuk dimuat dan ia juga diterima sebagai illustrator.

Awal karirnya di Waspada bahasa Indonesia ketika itu masih berlepotan (Bahasa Indonesia, bahasa Jawa Suriname dan Belanda). Untung ada Eddy Elisson Kr (Kasirun) wartawan Waspada dan anak dari kota Tebing Tinggi menjadi polisi bahasa baginya dan teman Tino Sidin yang komikus yang bermukim di kota lemang. Hal ini menjadi indikasi positif Taguan menemukan jati diri, sebagai orang Jawa, penulis hingga melukis.

Hr Waspada

Perkembangan KM tak terlepas peran surat kabar dan majalah memang banyak bermunculan di Medan. Pada awal-awal tahun 50 an waspada menampilkan komik strip barat seperti, Flash Gordon, Ryp Kirbi dan cerita cowboy ,Lone Ranger. Sebaliknya dipasaran dibanjiri buku komik wayang karya RA Kosasih dan tarzan, misalnya.

Tenrnyata genre komik semacam itu belum dapat diterima masyarakat luas ,dengan alasan komik dari Barat itu identik dengan penjajah (baca : Belanda) dan komik wayang identik dengan Jawa.

Hr Waspada selain menampilkan komik dari barat juga menampilkan ikonnya komik Wak Gantang, karya Saleh Hasan. Pada priode berikutnya yakni Tahun 1975 Waspada bergerak lebih maju lagi menampilkan lembaran berwarna – satu halaman dan halaman karya komikus Troy Ts dan Saleh Hasan (Wasta Bonsirga) di halaman yang lain Saleh Hasan saat itu bermukim di Jakarta dikenal luas .
Karyanya berjudul 4 Sekawan hadir di Hr Pos Kota. Kartunis terkenal Jhonny Hidayat juga pernah menampilkan kartun Si Jontik (si Genit) dan karya M.Ali,s berjudul Bung Karno Putra Sang fajar.***** ( Has)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>