Hadapi Ramadhan, Jaga Kesediaan Pangan

      Tidak ada Komentar

LasSekda Provsu Hasban Ritonga (dua kiri), bersama Wakil Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara Harries Meirizal (dua kanan), Kepala Bulog Divre Sumut Imran Rasidy Abdullah (kanan) dan Asisten II Ekbang Provsu Ibnu Sri Utomo (kiri) pada acara Rakorprov TPID Sumut di Hotel Niagara Parapat Jumat (12/5). (Berita Sore/Hj Laswie Wakid )

*Rakorprov TPID Se-Sumut Di Parapat

PARAPAT (Berita ): Menghadapi besarnya kebutuhan bahan pangan, khususnya menjelang jatuhnya bulan suci Ramadhan tahun 2017 ini, Sekretaris Daerah (Sekda) Provsu Hasban Ritonga menegaskan agar instansi terkait di TPID menjaga kesediaan bahan pangan.

Hal itu ditegaskan Hasban ketika membuka Rapat Koordinasi Provinsi (Rakorprov) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Se-Sumatera Utara di Hotel Niagara Parapat Jumat (12/5).

Hadir di sana Asisten II Ekbang Ibnu Sri Utomo, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Harries Meirizal, Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Sumatera Utara Imran Rasidy Abdullah, Kadisperindag Sumut Alwi Sitorus, Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar Eli Chan, para pejabat di instansi terkait yang masuk dalam TPID.

Hasban minta dalam Rakorprov ini ada hasil yang diperoleh yakni apa strategi menjaga inflasi (tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu rendah), terlebih menjelang Ramadhan dimana kebutuhan pangan meningkat.

Menurut Hasban, selama ini pemicu terjadinya inflasi di Sumut selalu dari naiknya harga komoditas pangan, terlebih cabe merah dan bawang merah. Ia menyebut tahun 2016, inflasi Sumut mencapai 6,34 persen, jauh di atas rata-rata nasional sebesar 3,05 persen, bahkan tertinggi kedua nasional. “Pemicunya hanya 1-2 komoditi saja yakni cabe merah tapi bisa membuat tertinggi nasional,” ungkap Hasban.

Sementara pada tahun 2015, sepak terjang kiprah TPID Sumut cukup membanggakan, dimana meraih Reward TPID terbaik se Indonesia diikuti Medan sebagai TPID inovasi terbaik dan Kota Tebing Tinggi terbaik se-Sumatera. Ketiganya mendapat penghargaan piala langsung diberikan Presiden Jokowi.

Tahun ini maunya dapat diraih lagi, tapi bukan pialanya yang penting, melainkan dengan inflasi terjaga baik maka ekonomi di masyarakat baik kebutuhan dan permintaan stabil.”Jadi kalau tak bisa nomor satu, paling tidak nomor yang baiklah. Tapi maunya diraih lagi nomor satu,” katanya.

Hasban menyebut komoditi pangan, khususnya cabe merah yang selalu pemicu inflasi harus dijaga dengan baik. Kalau sebelumnya harga cabe merah naik karena virus kuning, ternyata ada bibit unggulan di Jawa yang tahan terhadap virus tersebut. Konsumsi cabe masyarakat Sumut lebih banyak, tapi kita tidak menyesuaikan dengan luas lahan dan bibit.
Untuk itu Hasban juga menyampaikan pesan Gubsu HT Erry Nuradi agar segera dibuat database lengkap dengan satuan kerja; berapa kebutuhan komoditi, produksi, juga tahu dimana sentra komoditi dan mengatur pola distribusi yang baik; daerah surplus didistribusikan ke daerah yang kurang. Selama sudah ada Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang memuat harga komoditi pangan.

Ia menyebut Gubsu berpesan agar jaga ketersediaan bahan pangan. Bulog juga minta kalau ada diperhitungkan komoditinya rawan maka segera diinformasikan. Ia juga mempertanyakan program tanam cabe PNS.

Meski pada tahun 2017, trendnya lebih rendah yakni dalam tiga bulan ini berturut-turut deflasi, namun Hasban minta TPID di 33 kabupaten/kota di Sumut agar terus menjaganya.

Hasban menegaskan bagi masyarakat dan TPID yang tahu ada penimbun bahan bahan segera laporkan. “Jangan ada spekulan yang mau mengambil untung besar dan merugikan masyarakat,” katanya.

Evaluasi

Wakil Kepala Perwakilan BI Sumut Harries Meirizal menambahkan kita coba evaluasi diri. Tahun 2016 inflasi 6,34 persen, tertinggi kedua nasional, sedangkan tahun 2015 meraih banyak penghargaan. Ini cukup prihatin.

Jadi tahun 2017 ini, meski sampai April masih deflasi 0,43 persen, namun tetap perlu diantisipasi. “Kita lihat inflasi bukan bergejolak turun naiknya, melainkan inflasi yang stabil.

Ada 859 komoditas yang dihitung inflasinya. Namun nomor 1 tetap cabe merah. Selain itu nasi dengan lemak, kontrak rumah dan gula pasir serta komoditi lainnya. “Dalam Rakorprov ini apakah faktor-faktor tersebut juga nanti mempengaruhi inflasi 2017,” jelas Meirizal. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>