2017 BI Targetkan Inflasi Sumut 4±1 Persen

      Tidak ada Komentar

PARAPAT (Berita): Pada tahun 2017 ini, Bank Indonesia (BI) menargetkan inflasi tercapai 4±1 persen dengan inflasi yang terkendali, bukan bergejolak. Hal itu ditegaskan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Harries Meirizal pada acara Rakorprov Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Sumatera Utara Semester I tahun 2017 di Hotel Niagara Parapat Jumat (12/5).

Acara yang dibuka Sekda Provsu Hasban Ritonga, para Kadis di Sumut dan perwakilan TPID dari 33 kabupaten/kota dan hadir cuma 21 TPID, membahas strategi inflasi tahun 2017, khususnya dalam menghadapi bulan suci Ramadhan ini. “Kita inginkan inflasi yang terkendali, bukan bergejolak,” tegas Meirizal.

Ia menyebut bulan suci Ramadhan secara historis memberikan tekanan inflasi. Rata-rata dalam enam tahun terakhir sumbangan inflasi hingga 1,9 persen dengan kecenderungan menurun. Namun rata-rata kenaikan inflasi pada bulan I (puasa) 0,8 persen dan bulan II (Idul Fitri) 1,1 persen.

Ia menyebut pertumbuhan penduduk menjadi salah satu faktor penentu kebutuhan pangan. Cabe merah di Sumut selalu memberikan pengaruh inflasi terbesar disusul komoditi pangan lainnya. “Penurunan luas lahan cabai merah di Sumut perlu mendapat perhatian,” jelasnya.

Sementara itu, produksi tanaman cabai merah Sumut, katanya, masih berpotensi ditingkatkan menyamai Jawa Barat. Menurutnya, selama ini menurunya produksi cabe merah karena beberapa faktor yakni faktor musiman (tidak tumbuh optimal saat musim hujan), teknik bercocok tanam (petani belum gunakan teknik bercocok tanam yang optimal) dan perubahan musim.

Jadi ia mengajukan beberapa solusi seperti penggunaan bibit kencana dari BPTP, penguatan peran penyuluh dan selalu mendapat informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Perlu sinergitas produksi TPID Sumut melalui perbaikan pola tanam,” katanya.

Selain masalah komoditi, Meirizal juga menyinggung masalah distribusi yang memiliki dampak buruk pada kesejahteraan masyarakat. Mengacu pada inflasi 2016 yang mencapai 6,34 persen, dia menuturkan kondisinya karena distribusi terhambat, mata rantai distribusi yang panjang, infrastruktur dan logistik yang kurang baik, kurangnya kontrol terhadap distributor.

Adanya disparitas harga yang tinggi antara petani dan konsumen. Biaya transportasi yang mahal dan pergerakan harga yang tidak logis. “Masalah yang dihadapi oleh Sumut tahun lalu karena distribusi,” katanya yang mengajak distributor untuk ikut mengendalikan inflasi.

Untuk tahun 2017 ini, jelas Meirizal, pada High Level Meeting TPID 25 Januari 2017 disepakati perluanya penguatan infrastruktur logistik pangan di daerah, khususnya pergudangan untuk penyimpanan komoditas, membangun sistem data lalulintas barang, khususnya komoditi pangan.

Penggunaan instrumen dan insentif fiskal untuk mendorong peran pemerintah daerah dalam stabilitas harga. Mendorong diversifikasi pola konsumsi pangan masyarakat, khususnya untuk konsumsi cabai dan bawang segar antara lain dengan mendorong inovasi industri produk pangan olahan. Penguatan kerjasama antar daerah, mempercepat pembangunan infrastruktur konektivitas dan memperbaiki pola tanam pangan. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>