Ibuku Yang Tangguh

      Tidak ada Komentar

IbuBu begitu tangguhnya engkau. Kau terjang segala badai yang menghampiri. Tak peduli apa yang terjadi pada dirimu sendiri bu. Yang kau penting kan bagaimana anak-anakmu ini merasa aman dan nyaman. Raut mukamu, tak pernah menunjukkan rasa susah, gelisah, maupun gundah. Terima kasih bu, dari dirimu aku belajar banyak hal dalam hidup ini.
Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan yang terdengar mudah tapi pada realitanya lebih sulit dari kerja kantoran, karena Ibu harus mengerjakan banyak pekerjaan tiap harinya, dari pagi sampai malam lalu istirahat, dan seterusnya seperti itu tiap harinya.

Beliau adalah orang yang tiap hari melayani anak-anak dan suaminya, dalam melayani keluarga, beliau sama sekali tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Kegiatan seperti, mencuci, menyetrika pakaian, memasak, membersihkan rumah dan masih banyak lagi tentunya Ibuku kerjakan sendiri.

Terkadang aku membantu Ibu membereskan rumah, itu juga kalau ada waktu senggang karena aku sibuk kuliah dan mengajar di salah satu bimbingan belajar. Jika sekarang aku di posisi Ibu mungkin belum tentu bisa menyelesaikan semua pekerjaan itu.

Nama Ibuku Fatma Yetti, beliau dinikahi orang seseorang lelaki yang bernama Revianeza Aziz, yaitu Ayahku sendiri pada tahun 1989. Pendekatan antara Ayah dan Ibu tidak berlangsung lama, hanya membutuhkan waktu seminggu, lalu tahun 1990 keduanya memutuskan untuk menikah.

Setelah menikah Ayah dan Ibu merantau ke Jakarta. Saat itu beliau masih mengontrak disalah satu kawasan Rawamangun. Lalu seiring berjalannya waktu, pada tahun 2000, akhirnya Ayah dan Ibuku memiliki rumah sendiri, yang berlokasi di Depok.

Lalu dari hasil pernikahan Ayah dan Ibu menghasilkan tiga anak perempuan dan aku anak kedua. Kakakku bernama Karina dan adikku bernama Widya. Aku dan dua saudaraku lainnya dari dulu diajarkan untuk hidup sederhana dan mensyukuri apapun yang diberi oleh Sang Maha Kuasa. “Lebih baik sedikit tapi berkah, daripada banyak tapi tidak berkah, “ begitu kata Ayahku.

Rasa syukurku bisa berada di keluarga ini, meski waktu itu aku sempat menyesalkan keberadaanku di sini. Aku menyesalkan keberadaanku di keluarga ini karena saat aku menginjak usia 10 tahun, musibah datang kepada Ayahku.

Entah mengapa musibah itu bisa terjadi. Mungkin teguran ataupun ujian yang menimpa keluarga kecil ini. Tetapi aku bersyukur ada penguat di keluarga ini pada saat itu, yaitu Ibuku. Ya, Ibu yang membuat aku dan dua saudaraku bertahan dengan keadaan yang rumit ini.

Saat itu musibah datang kepada Ayahku, pada tahun 2007, beliau mengalami depresi sedang. Perlahan tingkah laku Ayah amat berbeda dari biasanya. Saat itu aku tidak menemukan sosok Ayah yang biasanya memperhatikan anaknya, bahkan saat itu aku dan saudaraku lebih sering dimarahi tanpa sebab.

Sampai pada suatu waktu aku berkata pada Ibu, “ Aku gamau punya Ayah gila” . Lalu dengan spontan Ibu berkata, “ Sssstt… kamu gaboleh ya ngomong begitu. Kita harus bisa bikin Ayah sembuh ya, nak”. Lalu Ibu memberikan senyuman seakan mengisyaratkan kalau aku harus kuat.

Penyebab Ayah mengalami depresi sedang karena mulai bulan Februari 2007, beliau mengikuti pengajian tetapi tidak sesuai dengan kaidah Islam yang sebenarnya. Tentu bukan kemauan Ayahku mengikuti kegiatan itu, temannya lah yang mulanya mengajak beliau.

Ayah sering menerapkan ajaran-ajaran yang diberikan pengajian sesat itu dirumah, yang pada akhirnya Ibu pun merasa ada yang tidak beres dengan pengajian itu. Ibu sempat beberapa kali menyuruh Ayahku untuk berhenti dari pengajian itu, tapi apa daya Ayah tetap berkeras untuk tetap mengikuti kegiatan itu. Entah “guna-guna” apa yang digunakan h pengajian yang sesat itu, sehingga Ayahku sangat mempercayainya.

Pengajian sesat yang diikuti Ayahku sungguh di luar nalar. Ayah pernah berkata, bahwa guru pengajian sesat itu bisa menghidupkan orang yang mati. Tak hanya itu, jika Ayah mengikuti semua ajaran, maka 7 turunan akan masuk surge kelak. Sangat aneh, mengaku guru pengajian tapi berperilaku layaknya Tuhan. Lebih anehnya lagi, Ayahku mempercayai sesuatu yang mustahil dilakukan oleh manusia.

Ibu bingung bukan kepalang, hanya kepada Rabbnya , Ibu mengadukan semua yang terjadi. Dikala aku sedang lelap-lelapnya tidur, tapi tidak dengan Ibu. Setiap tengah malam Ibu sujud, lalu berdoa meminta petunjuk.

Ibuku berdoa dengan khusyuk, meminta untuk memperlihatkan kalau pengajian yang Ayah ikuti itu sesat. Benar, tidak perlu menunggu lama, perilaku Ayah berubah dan tidak masuk akal, mulai dari situ Ayahku mengalami deperesi sedang.

Tak ada maksud Ibuku mendoakan yang tidak baik untuk Ayah. Seperti yang Ibu minta, yaitu meminta ditunjukkan kalau pengajian itu bukan membawa kebaikan tapi malah menjerumuskan. Mungkin dengan cara itu Allah menguak bahwa pengajian itu sesat.

Dengan kebesaran hati Ibuku menerima keadaan Ayahku yang seperti itu. Keadaan Ayah menjadi buah bibir para tetanggaku. Aku sangan heran, di keadaan yang sedang susah begini, bukan dukungan yang diberikan kepada keluargaku, tapi malah cibiran dari tetanggaku tentang Ayahku yang sedang mengalami depresi sedang.

Walaupun keadaan runyam, Ibuku tetap menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan baik. Tiap pagi ibu tetap membuat makan untuk aku, kakak dan adikku. Tak ada niatan Ibuku untuk meninggalkan keluarga ini.

Ibu tetap bertahan, walaupun itu sulit. Meski keadaan sulit, tapi Ibu tidak pernah sekalipun melihatkan kesedihannya. Hanya pernah sekali aku melihat Ibu, melamun lalu keluar air mata yang deras dari matanya. Saat aku bertanya mengapa Ibu tiba-tiba menangis, tak ada jawaban sedikitpun dari bibirnya, hanya senyuman saja yang diberikan kepadaku.

Tiap tengah malam doa Ibuku selalu menyertai Ayah. Ibuku selalu meminta kesembuhan untuk Ayah dan rutin membawa ke RS. Namun, perjuangan Ibuku ini, malah tidak dihargai oleh adik-adiknya Ayah.

Dewi dan Desi, menurutku adik-adik Ayah sangat keterlaluan. Ibuku dituduh kalau Ayah mengalami depresi sedang karena ulah Ibuku. Ibuku dituduh menjadi penyebabnya karena memang sebelum Ayahku sakit, Ibu pernah meminta dibelikan sepeda motor untuk mengantar aku dan saudaraku pergi sekolah.

Saat itu memang ekonomi keluarga kami sangat tidak baik. Makanya mereka berani menuduh Ibuku seperti itu. Padahal Ibu sama sekali tidak memaksa Ayah untuk membeli sepeda motor saat itu juga.

Akhirnya dengan mata berlinang, Ibu menjelaskan kepada adik-adik Ayah kalau penyebebnya penyakit yang Ayah alami, yaitu karena Ayah mengikuti pengajian yang tidak sesuai dengan yang sudah ditentukan di kitab Al-Quran. Tapi mereka tetap tidak percaya. Mungkin malu, untuk mengakui kalau yang disangkakan ke Ibuku salah.

Pada bulan April 2007, keadaan Ayahku mulai membaik dan terus membaik. Rupanya usaha Ibuku ini tidak sia-sia. Kebesaran Allah mengabulkan doa Ibu sehingga keadaan Ayah sangat membaik. Kini Ayah sudah tidak berperilaku atau berbicara yang aneh-aneh lagi. Ayah lebih banyak diam, tapi Ayah sudah nyambung jika diajak berkomunikasi.

Dengan kekuaasaan Yang Maha Kuasa dan kesabaran hamba-Nya, pada bulan Mei 2007 Ayahku sembuh dari penyakitnya itu. Mirip seperti orang amnesia, Ayahku bingung apa yang terjadi pada dirinya saat ia mengalami deperesi sedang. Lalu Ibuku menjelaskan semuanya kepada Ayah.

Setelah mendengar semua penjelasan dari Ibuku, Ayah langsung menghampiri Ibu dan sujud di kaki Ibuku sambil meneteskan air mata. Ayahku meminta maaf kepada Ibu karena telah membuatnya susah, karena memang selama Ayahku sakit, Ibu menjadi banyak pikiran.

Suasana haru biru yang menghiasi ruang tamu. Ayahku pun berjanji untuk tidak mengulangi hal itu. Ibuku membangunkan Ayah dari sujudnya di kaki Ibu dan berkata bahwa sudah memaafkan Ayah dari awal kejadian ini. Ibuku sudah melupakan kesalahan Ayah, dan memulai lembaran kehidupan baru yang lebih baik. **** ( Yolanda : Mahasiswi Jurnalistik-Politeknik Negeri Jakarta )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>