Sekjen MPR RI Berharap Kegiatan Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat Beri Manfaat Pada Semua

      Tidak ada Komentar

JAKARTA (Berita) Sekretaris Jenderal (Sekjen) MPR RI, Maruf Cahoyono mengakui dirinya berharap akan kegiatan “Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat” yang merupakan agenda rutin Pepustakaan MPR RI, dan memberi manfaat pada semua, khususnya menambah pengetahuan yang mumpuni bagi peserta diskusinya.

“Saya berharap apa yang dilakukan Perpustakaan MPR ini dapat memberi manfaat kepada kita semua,” ujar Maruf Cahoyono saat membuka acara Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat yang membedah Novel berjudul “Cintku di Lembata” karya Sari Nurlita di Perpustakaan MPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (4/5).
Dia pun mengapresiasi novel karya penulis Sari Nurlita. Bahkan, menurut dia novel yang didiskusikan di Perpustakaan MPR ini lebih seperti buku panduan perjalanan, mengingat banyaknya detail informasi tentang daerah Lembata.

“Novel ini membuat kita mampu membayangkan seperti apa keadaan di sana, seperti bagaimana kemeriahan pesta kacang di kampung adat dan sebagainya diulas dengan cukup menarik, juga mengenai perbuuruan ikan paus,” papar Maruf .

Hadir sebagai pembicara pada kegiatan “Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat” yang digelar Perpustakan MPR, antara lain, Anggota MPR/DPR RI DR. Ir. Hetifah Syaifudian MPP, Alexander Aur, Ratna Suranti, dengan moderator Henry Stephen Sabari. Sari Narulita juga ikut bicara, termasuk menceritakan alasan ia menulis Cintaku di Lembata.

Dalam kesempatan sama, Hetifa mengaku sangat tertarik membacar novel karya-karya Sari Narutila. “Kita tahu Sari Narulita seorang penulis yang telah banyak menerbitkan karya-karyanya,” kata dia.

Sari Nurlita sendiri, selain penulis, juga pemain film di era tahun 60-70-an. Sari Narulita resmi meluncurkan novel terbarunya berjudul ‘Cintaku di Lembata’. Sari tidak hanya menyajikan kisah cinta, tetapi juga perjalanan, keindahan alam, dan budaya di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang belum banyak terekspos.

Melalui tokoh Kayla dan Gringgo, pembaca diajak meniti seribu anak tangga menyaksikan para penenun di Jontona. Desa Jontona juga dikenal sebagai tempat pembuatan garam secara tradisional menggunakan daun lontar dan siput-siput laut. Banyak turis tertarik dan datang sekadar melihat proses pembuatannya.

Petualangan berlanjut dengan menaiki gunung Ile Lewotolok ke kampung lama Lewohala. Selanjutnya, pembaca diajak untuk menyaksikan atraksi perburuan ikan paus secara tradisional di Lamalera, hingga menikmati senja di Bukit Cinta, Wolor Pass.

Sari terlanjur jatuh cinta pada Lembata. Dia terkagum dengan keindahan alamnya yang masih murni, budaya, dan tradisi yang masih terjaga. Namun sayang, belum banyak orang mengetahui tentang wilayah itu.

“Keinginan saya ingin memperkenalkan Lembata ke masyarakat yang lebih luas. Karena lewat buku akan dikenang puluhan tahun,” tuturnya.

Manager Bidang Fiksi Gramedia Pustaka Utama, Anastasia Mustika, menilai novel ini akan membuat pembacanya mengenal Lembata lebih jauh. Tidak saja keindahan alam yang eksotis, tetapi juga adat istiadat dan kebudayaan yang memikat. “Saya terbayang bagaimana rasanya memandang pantai berpasir putih dengan lautan sewarna turquoise dari ketinggain, seperti yang dideskripsikan dalam novel,” imbuhnya.(aya)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>