GNPF – MUI Dan Geram Ke Kejatisu, Hukum Di Indonesia Tercabik

      Tidak ada Komentar

GeramMassa yang tergabung dalam GNPF-MUI dan Geram Sumut melakukan aksi damai di kantor Kejatisu, Rabu (3/5). ( Repro/ WSP/ Rama Andriawan/C )

MEDAN ( Berita ) : Ratusan massa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI dan Gerakan Rakyat Muslim Bersatu Sumatera Utara (Geram Sumut) melakukan aksi damai di depan kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Rabu (3/5). Dalam orasinya, massa meminta kepada Kejatisu agar menghukum seberat-beratnya pelaku penistaan agama yang ada di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara.
Koordinator Aksi Rizatta Tripaldi menyampaikan, pelaku penista agama seperti halnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok harus dihukum seberat-beratnya agar tidak ada lagi orang-orang yang berani menghina agama orang lain.

Demikian halnya dengan pelaku penistaan agama di Sumut yang dilakukan AH yang saat ini sudah ditahan kepolisian segera diproses ke Kejaksaan.“Kita meminta kepada pemerintah dalam hal ini melalui Kejatisu agar menghukum penista agama seperti Ahok dihukum tanpa mengurangi hukumannya sedikit pun, kami juga meminta agar tidak ada tebang pilih,” ujar Rizatta Tripaldi yang diiringi teriakan takbir dari massa.

Menurut Rizatti, meskipun Ahok menistakan agama di Jakarta, tetapi karena ulah dari mantan Gubernur DKI Jakarta itu sudah membuat kegaduhan bahkan perpecahan terhadap umat Islam di Indonesia

.“Tolak Ahok, jangan coba-coba masuk ke Sumut. Kami siap berjihad dan membela Islam. Gara-gara Ahok aturan hukum di Indonesia tercabik-cabik. Kita sebagai umat Islam wajib menegakkan hukum yang adil di negara ini. Kita tidak ingin merusak hukum di Negara ini,” ujarnya.

Massa meminta agar penegak hukum di Indonesia menghentikan kriminalisasi terhadap ulama di Indonesia. Sejatinya, sebut massa tidak ada ulama menghancurkan tatanan negara, mereka hanya menyampaikan kebenaran.

Apresiasi Kepolisian

Dalam orasinya massa menyampaikan apresiasi kepada Poldasu yang begitu cepat menerima laporan dan menangkap pelaku penistaan agama dilakukan AH belum lama ini. “Memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kapoldasu dan Polrestabes Medan serta Kasat Intel yang bertindak cepat dalam menerima laporan dari FPI Medan Sunggal atas penistaan agama yang ada di Medan dengan tersangka AH,” katanya.

Apa yang dilakukan kepolisian di Sumut, sudah sepatutnya menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia untuk bertindak tegas terhadap pelaku penista agama. Mereka berharap, kasus penistaan agama yang dilakukan AE dihukum seadil-adilnya.

Sementara itu, Asintel Kejatisu Idianto mengatakan, terkait penistaan agama dilakukan oleh AH saat ini masih ditangani kepolisian. Idianto menyebutkan, bila tersangka memenuhi alat bukti nantinya tersangka akan disidangkan.

Namun, lanjutnya, jika tersangka ditahan berarti harus memilki keyakinan minimal dua alat bukti yang menguatkan tersangka melakukan perbuatan menista agama. Untuk Surat Perintah Dimulainya Penyelidikan ( SPDP),l anjut Idianto, bukan dari Kejatisu namun dari Kejari Medan. (WSP/cra/K)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>