Asyik Mengitari Lautan Nyaris Lupa Singapura

      Tidak ada Komentar

SinBagian dari wajah kota Singapura ketika ditatap di waktu malam pada akhir acara media tour dengan kapal pesiar Ovation of the Seas selama empat hari tiga malam (3-7/4). ( beritasore/ist)

Entah kenapa telepon di kamar hotel yang saya tempati tidak berdering pada awal subuh itu, padahal menjelang tidur agak larut malam sudah dihubungi bagian layanan informasi (information service) untuk permintaan ”Morning Call” pada pukul 05:00 waktu Singapura.

Saat saya mau komplain ke bagian emergency service, tiba-tiba berdering telepon yang semula dianggap sebagai panggilan susulan “bangun pagi” (wake-up time), namun nyatanya terdengar suara mengingatkan agar tagihan-tagihan yang belum dibayar untuk dilunasi di kasir lantai ( Deck) 5.

Tujuannya saya untuk permintaan Morning Call selain jangan kelewatan waktu shalat subuh tetapi juga agar lebih awal pengemasan barang-barang bawaan ke dalam bagasi. Karena sebelum jam 08:00 waktu setempat sudah harus siap segala-galanya termasuk sarapan pagi (breakfast) di restoran dan kemudian kumpul di Deck 4 untuk berangkat keluar kapal setelah habis masa berlaku pelayaran selama 4 hari 3 malam mengitari perairan internasional Selat Melaka.

Ketika hendak membayar tagihan hanya untuk 4 lembar foto yang diabadikan saat saya terbang tanpa sayap dalam atraksi Ifly di Deck 15 kapal pesiar Ovation of the Seas dan juga sebagai bukti dan kenang-kenangan luar biasa dibawa pulang ke tanah air, jadinya saya sedikit agak kaget.

Semula saya pikir harga satu foto 20 dolar Singapura per lembar, ternyata dipatok dengan dolar Amerika. Sempat juga saya terlibat debat halus dengan pihak kasir kapal. Pasalnya saya tidak membawa dolar AS, tetapi hanya dolar Singapura dan Ringgit Malaysia dan untuk tukar ke money changer masih tutup.

“Kita di sini tak gunakan mata uang negara lain kecuali satu-satunya adalah uang US dolar,” kata kasir wanita berusia muda yang agak kebingungan juga mencari solusi persoalan saya.

Sebenarnya bukan hanya kasir itu saja yang kebingungan tetapi saya malah lebih bingung lagi, karena saya sama sekali tidak tahu kalau mata uang yang berlaku di kapal pesiar milik perusahaan raksasa Royal Caribbean International yang berpangkalan di Miami, AS itu , satu-satunya adalah dolar Amerika.

Karena sewaktu hendak berangkat saya diingatkan untuk hanya membawa ringgit Malaysia untuk makan malam di Penang. Dan karena juga saya bersama rombongan lain dari Indonesia akan berangkat dari Singapura dengan kapal pesiar raksasa itu serta juga akan mengadakan press tour di kota negara tetangga itu, saya jauh hari sebelum berangkat dari Medan sudah siapkan sejumlah lembaran dolar Singapura. Dan sama sekali tidak teringat akan membawa uang dolar Amerika.

“Lain kali anda bila hendak ikut lagi berlayar dengan kapal cruise (pesiar) ini harus bawa banyak-banyak uang dolar Amerika,” tambah kasir dari gadis cantik berkulit putih itu sambil senyum dan berseloroh karena akhirnya pelunasan tagihan saya itu dibantu seorang cewek manis dari Jakarta dengan menggunakan kartu kredit (Credit Card) dan kemudian ditutupi kembali dengan mentransfer dari Medan.

Begitupun dengan pengalaman itu saya lebih maklum, bahwa kapal pesiar Ovation of the Seas yang salah satu darik 23 kapal yang dimiliki perusahaan raksasa Royal Caribbean International (RCI) ini, hanya memberlakukan sistem pembayaran dengan menggunakan mata uang Amerika Serikat.

Kapal boleh sandar di Singapura, di Malaysia, di Bangkok,di China atau di Australia dan negara-negara Eropa lainnya, dan bahkan bukan tidak mungkin suatu saat akan melayani rute ke Indonesia, tetapi sistem perbelanjaan dan pembayaran tetap dipatok dengan US dolar.

Kalau dibandingkan dengan nilai tukar rupiah Rp 13.300 per satu US dolar, berarti satu lembar foto ukuran jumbo itu mesti dibayar Rp 266 ribu sebelum diskount 50%. Dan itulah salah satu bentuk bisnis kelas kecil dalam kapal pesiar mewah. Sementara bisnis kelas besarnya adalah penjualan tiket yang ambil saja contoh untuk perjalanan wisata empat hari tiga malam itu, dipatok dengan US dolar dengan kurs rupiah sekitar Rp 8 sampai 13 juta.

Dan banyak lagi bisnis yang bisa dilakukan, termasuk bisnis warlaba yang menuntut uji nyali keberuntungan di atas deretan meja bergaris dan kotak atau box cantik berwarna warni, yang kesemua itu juga menerapkan mata uang dolar AS.

Tepat jam 08:30 waktu Singapura posisi kapal sudah berhenti dengan sempurna dan gerbang pun sudah dibuka untuk para penumpang yang selesai menghabiskan masa libur dalam petualangan bahari sepanjanjang jalur Selat Malaka.

Paspor yang sejak masuk kapal sudah dipegang pihak petugas dan baru dikembalikan kepada setiap tamu pada malam sebelum keluar kapal, mesti sudah berada dalam genggaman tangan masing-masing bersama kartu pengenal warna biru yang tetap terlilit di leher. Malah kedua dokumen penting itu telah menjadi pemeriksaan awal pihak petugas dan sekaligus sebagai syarat utama untuk bisa keluar meninggalkan ruangan kapal.

Empat hari tiga malam dalam kapal walau menginap di kamar hotel mewah menghadap laut, adalah nyaris lupa daratan. Adalah sangat beralasan setelah dari laut pihak Singapore Tourism Board (STB) mengajak rombongan media tour berkeliling kota Singapura sejak pagi sampai larut malam.

Kalau di kapal pesiar kami juga diajak menyaksikan proses masak makanan di dapur umum (kitchen), mulai untuk sarapan pagi, makan siang dan malam sampai untuk restoran non-bayar buka 24 jam, namun di kawawan Geylang Serai (Kampong Melayu) juga demikian.

Bedanya adalah selain peralatan dapur serba lengkap sampai pada penyediaan mesin buat roti yang disajikan untuk para tamu kapal secara gratis dan non-gratis, namun di beberapa perusahaan pembuat makanan (roti) home-industri milik keluarga Muslim itu hanya berorientasi untuk dijual kepada umum. Yang gratis barangkali hanya sejumlah potong roti yang disajikan kepada kami dari rombongan media tour asal Indonesia.

Habis dari Geylang Serai terus berganti mengunjungi objek wisata Kampong Gelam yang juga mayoritas berpenduduk Muslim. Penduduk di sini banyak berasal dari Bugis dan Jawa.

VesvaPengemudi wanita dari Vespa antik yang dimodifikasi membawa wartawan Harian Waspada berkeliling kawasan Kampong Gelam dalam acara media tour bersama rombongan dari In donesia usai pelayaran dengan kapal pesiar Ovation of the Seas. ( beritasore/ist)

Naik vespa antik yang sudah dimodifikasi berkeliling kawasan Kampong Gelam juga bagian dari wisata kota yang cukup menarik karena selain vesva antik tetapi pengemudinya kaum wanita. Akhir dari lawatan kami mengunjungi satu bangunan bertingkat 62, dan tercatat paling tinggi untuk kawasan kota Singapura, yakni Hotel Altitute yang menyediakan fasilitas lengkap.

Pada tingkat 62 dengan ruang terbuka lepas ke angkasa, kami pun berkesempatan menyaksikan keindahan wajah kota Singapura di waktu malam dengan kilauan lampu berwarna-warni dan cuaca lagi terang benderang.

Msosial adalah hotel baru yang baru dibuka dengan menghandalkan pelayanan sistem robot, dan disitulah tempat kami menginap pada akhir lawatan ke kota Singapura. Malah belum sempat memejamkan mata dengan sempurna sudah berdering pula pesawat telepon untuk panggilan “Wake Up Time” karena jam 07:00 sudah mesti turun ke lobby dan sekaligus sarapan pagi yang selanjutkan berangkat ke bandara Changi Airport untuk kembali ke tanah air di Medan. Selamat Tinggal Kapal Pesiar Ovation of the Seas dan selama tinggal kota Singapura dengan harapan bisa kembali lagi. **** (Aidi Yursal )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>