Wartawan Waspada Disambut Di Ruang Nahkoda

      Tidak ada Komentar

KaptenWartawan Waspada Aidi Yursal saat pamitan dengan Kapten Flemming B.Neilsen usai mengadakan kunjungan bersama rombongan dari Indonesia diterima di ruang kerjanya di Deck 12 kapal pesiar Ovation of the Seas dalam pelayaran mengitari Selat Melaka Rabu (5/4). (beritasore/ist)

Setelah Dua hari dua malam mengitari perairan internasional Selat Malaka dengan sempat singgah di Pelabuhan Penang, Malaysia untuk mengadakan tour pantai selama beberapa jam sejak Selasa (4/4) sore sampai malam, akhirnya wartawan senior Harian Waspada Aidi Yursal yang tergabung dalam rombongan media tour dari Indonesia, diundang dan disambut Captain (Kapten) Flemming B.Nielsen, nahkoda (pimpinan) kapal pesiar mewah “Ovation Of The Seas”, di ruang tugasnya yang hampir sekeliling ditutupi kaca sehingga tembus pandang menyaksikan permukaan laut dan panorama alam bahari.

Kendati sudah diundang khusus oleh pimpinan kapal pesiar buatan MeyerWerft, Jerman itu namun bukan berarti begitu datang bisa terus nyelonong masuk ke ruangannya.

Tahapan-Tahapan mesti dilalui dengan terlebih dahulu pimpinan rombongan melapor kepada “protokoler” yang beda ruang dengan kapten. Setelah ada kontak untuk diperbolehkan masuk, kami dari anggota rombongan mesti lagi digiring ke suatu ruangan khusus untuk diperiksa semua isi tas bawaan, termasuk isi kantong celana yang ketatnya seperti ketika pemeriksaan paspor dan barang bawaan di kounter imigrasi bandara Changi Airport Internasional, Singapura. Bahkan mengambil foto dengan kamera apa saja, sangat dilarang. Rekan yang satu rombongan dari Indonesia sempat berurusan dengan petugas karena ketahuan membidikan kameranya saat dilakukan pemeriksaan, namun akhirnya tetap diperbolehkan masuk.

Ketatnya pemeriksaan secara berlapis oleh pihak petugas sekuriti juga sangat dimaklumi, yakni demi keselamatan dan kenyamatan dengan mencegah lebih awal agar kapal pesiar yang punya rute Internasional yang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya, terhindar dari aksi-aksi yang tidak diinginkan.

“Sampai sekarang sejak beroperasi kapal pesiar Ovation of The Seas tidak pernah terjadi hal-hal yang membahayakan atau mengancam keselamatan kapal dan penumpang,” kata salah seorang petugas di bagian masuk ruang kapten yang tidak bersedia disebutkan jatidirinya.

Beberapa menit melewati jalan lorong di Deck 12 pada bagian paling depan (haluan) kapal setelah lolos dari pemeriksaan petugas sekuriti, sampailah di ruang Kapt. Flemming B.Nielsen.

Wartawan Waspada dan rombongan disambut langsung oleh kapten kapal tanpa didampingi oleh staf lainnya karena masing-masing mereka sedang sibuk melaksanakan tugas dalam mengendalikan pelayaran pada jalur perairan intenasional sewaktu hendak balik ke Pelabuhan Marina Bay Singapura.

Sambil mengucapkan selamat datang kepada anggota rombongan, Kapt. Flemming langsung mengajak kami menyaksikan peralatan kemudi dengan teknologi canggih yang terpasang lengkap, dan menjelaskan fungsinya mengetahui keadaan kapal dan mengendalikan bangunan raksasa yang mengapung dan bergerak cepat di permukaan laut untuk melayani rute pesiar international.

Khusus untuk peralatan pengawasan dan pengendalian kapal pesiar Ovation of the Seas yang dinahkodai Flemming B.Nielson itu adalah berada di bagian paling kiri dari haluan kapal. Sementara beberapa peralatan kemudi untuk tugas yang sama yang dikendalikan oleh beberapa anggota tim nakoda lainnya berada secara terpisah dalam ruangan yang sama.

Ruang yang dijadikan penempatan peralatan kendali utama yang khusus untuk Captain Flemming juga dilengkapi dengan beberapa layar monitor tv yang dipasang di bagian atas dari alat kontrol, serta juga sedikitnya dua CCTV ukuran besar yang dipasang di bagian luar atas dari sudut ruangan mengarah timur dan utara.

Bukan hanya itu, di bagian bawah pada lantai dekat alat kendali tadi juga terdapat kaca ukuran kurang satu meter persegi yang berfungsi untuk memonitor pergerakan gelombang laut serta kemungkinan yang tak diinginkan dilakukan oleh kelompok pengganggu tranportasi laut.

Kaca yang tahan pijak dan injak (anti pecah) ini sepertinya jenis kaca mikroskop (pembesar) dimana pergerakan air laut bisa dilihat lebih dekat padahal jarak dari deck (lantai) 12 itu puluhan meter dari permukaan laut.

Ketika wawancara dengan Captain Flemming tentang tugasnya sebagai seorang nahkoda dalam mengantisipasi kemungkinan ada kendala atau gangguan seperti karang besar yang mungkin saja membuat kapal kandas di tengah lautan yang entah pada kedalaman berapa meter , dia mengaku sudah punya alat berteknologi canggih yang bisa memantau gangguan dari jarak jauh.

“Kita sudah mengetahui terlebih dahulu melalui layar monitor tv segala sesuatu pada jalur laut yang hendak dilalui untuk kedalaman melebihi dari dasar kapal dan pada jarak tertentu dari jalur yang hendak dilewati kapal ini,” kata Flemming sambil menunjukkan suatu alat petunjuk dalam layar komputer yang bisa memecah lautan pada jalur yang hendak dilewati. Karena kapal ini berada pada kedalaman 9 meter di bawah laut, minimal 10 meter sudah diketahui tentang hal ikhwal bawah laut.

Dia juga mengakui bahwa selama peralatan yang terpasang dalam kapal masih berfungsi bagus, hal-hal yang akan membuat kandas kapal di tengah laut sangat minim sekali atau tak mungkin terjadi. Namun ketika ditanya kenapa ada kapal pesiar milik maskapai pelayaran Inggris sempat kandas tersandung karang di kawasan perairan Raja Empat, Indonesia. beberapa waktu lalu.

Namun Flemming mengaku sama sekali tidak tahu kenapa itu terjadi. “Saya sama sekali tidak tahun hal itu,” katanya dengan mengangkat bahu yang sepertinya tidak mau tahu dengan urusan permasalahan kapal pesiar lain dari bendera negara dan perusahaan yang berbeda.

Bagi Flemming sendiri untuk mengitari perairan internasional dengan tujuan berbagai negara di dunia sudah bukan baru lagi. Sebagai seorang pria kelahiran Denmark pada daerah yang dikelilingi laut, sudah sejak kecil bercita-cita untuk menyaksikan dunia ini dari laut. Malah dia lulusan Akademi Angkatan Laut dan menjadi calon perwira tahun 1983.

Setelah beberapa tahun menjalani pelatihan dan pendidikan dia berhasil meraih Sertifikat atau Surat Izin Mengemudi Kapal tingkat Master di bidang pelayaran tahun 1992, dan tahun 1994 diterima bekerja oleh perusahaan pelayaran Denmark A.P Moeller dan dipercaya untuk menahkodai kapal kontainer untuk tujuan ke berbagai negara di dunia.

Namun tahun 2000, dia hengkang dari perusahaan itu dan memilih bergabung dengan perusahaan Royal Caribbean International (RCI) yang berpangkalan di Miami, AS. Sebelum mengkapteni Ovation of the Seas, Flemming sudah pindah-pindah kapal milik perusahaan RCI yang kini punya 23 unit kapal mewah jenis serupa dan tahun depan akan tiba satu lagi kapal mewah dan modern.

Grandeur of the Seas merupakan kapal pesiar pertama milik RCI yang dikemudikan Flemming, kemudian disusul Explorer of the Seas, Freedom of the Seas, Rhamsody of the Seas, Explorer of the Seas dan Mariner of the Seas.

Kalau menelihat sepintas kondisi tubuh dan wajah Captain Flemming B.Neilsen, dia sebenarnya sudah mesti pensiun dari kapal raksasa ini. Namun barangkali pihak RCI tidak bersedia melepas dia dengan alasan memiliki segudang pengalaman atau jam terbang yang sulit mencari pengganti.

Apalagi untuk menahkodai (memimpin) sebuah kapal raksasa milik RCI ini tentu bukan mudah mencari sosok orang yang mengantongi kompetensi keahlian tingkat master untuk bidang pelayaran internasional seperti Flemming B.Neilsen yang memang siap mengabdikan diri dan menghabiskan usianya hanya di laut. **** Laporan Dari Kapal Pesiar Raksasa (Baian 2) (Aidi Yursal ) (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>