Hotel Bertingkat 18 Bergerak Di Tengah Laut

      Tidak ada Komentar

TerbangPenulis saat terbang tanpa sayap dalam ruang kaca yang diawasi seorang intruktur dari Amerika Serikat dalam atraksi Ifly yang tersedia dalam kapal pesiar Ovation Of The Seas ketika ikut dalam pelayaran 4 hari dan tiga malam menggitari perairan internasional selat Malaka (3-6/4). ( beritasore/ist)

Hampir sulit membedakan dengan deretan bangunan-bangunan bertingkat pencakar langit di negara kota Singapura karena ketika sandar di Pelabuhan Marina Bay Cruise Center bentuk dan ukurannya bukan seperti kapal yang sering terlihat berlabuh atau melintasi perairan internasional, tetapi sudah benar-benar bagaikan bangunan raksasa dengan pondasi tertanam ke pusat bumi.

Itulah gambaran selintas ketika pertama menatap kapal pesiar (Cruise Ship) “Ovation of The Seas” milik perusahan Royal Caribbean International, ketika penulis hendak memasuki kapal mewah yang akan membawa bersama para wisatawan manca negara untuk mengitari perairan internasional selama 4 hari dan tiga malam (3-6 April 2017).

Sebelum memasuki ruang utama dari kapal Ovation of the Seas, cukup banyak pos pemeriksaan yang mesti dilewati. Tercatat dua pos pemeriksaan paling utama yang menentukan boleh atau tidaknya seseorang sebagai calon penumpang untuk diperbolehkan masuk dan mengikuti wisata bahari dengan kapal mewah berpenumpang 4.905 orang dan 1.500 krew atau awak kapal, yaitu pos pemeriksaan tiket dalam bentuk Set Sail Pass yang disertai Health Declare, dan pos imigrasi untuk pemeriksaan dan cap paspor.

Khusus pada pos pemeriksaan tiket, para petugas juga akan menanyakan kepada calon tamu (penumpang) apakah akan belanja dengan uang tunai (cash) atau dengan Kartu Kredit (Credit Card).

Setelah difoto bagian wajah, setiap tamu kapal akan menerima satu kartu yang berfungsi selain sebagai kunci kamar hotel dalam kapal tetapi juga sebagai kartu yang bisa digunakan untuk belanja (shopping) atau makan dan minum di restoran non-gratis.

Bahkan ketika mulai menginjakkan kaki memasuki kapal, para petugas kapal sudah meminta kartu berwarna biru ukuran KTP itu untuk diperlihatkan dan kemudian direkam dalam komputer khusus. Dan kartu yang mencantumkan nama diri, nomor kamar hotel dalam kapal dan sekaligus waktu berakhir (Debark), benar-benar tidak boleh hilang, karena jika hilang akan mengalami banyak masalah selain tidak bisa masuk kamar hotel tetapi juga bisa disalahgunakan pihak lain untuk berbelanja dengan non-tunai.

Ketika hendak memasuki ruang utama kapal jelas bukan seperti hendak memasuki kapal Ferry yang goncangannya terasa kuat dengan air laut terlihat di bawahnya. Namun kapal pesiar Ovation of the Seas sama sekali bukan demikian.

Malah setelah beberapa langkah memasuki kapal, perasaan dan pandangan sama sekali tidak lagi seperti berada dalam kapal, tetapi bagaikan sudah berada dalam suatu bangunan mewah di darat.

Apalagi setelah diberi arahan oleh tour leader kami, masing-masing sudah bisa mencari kamar sendiri sesuai dengan yang tertera dalam kartu biru yang mesti digantung dileher ketika hendak ke luar kamar hotel.

Sementara untuk memudahkan mencari kamar hotel masing-masing dapat mengambil rumus bahwa angka akhir genap berada di sebelah kanan ketika menghadap ke arah utara dari haluan kapal dan nomor akhir ganjil di sebelah kiri.

Sesampai di kamar hotel yang kebetulan penulis menempati kamar No.704 di Deck (Lantai( 12) dengan menggunakan Lift super cepat dari Deck 5, roomboy merangkap tugas Housekeeping berulang-ulang bergedor pintu kamar yang diikuti dengan bunyi sirine yang seolah kapal dalam bahaya, dan ketika dibuka dia meminta agar segera pergi ke Deck 5 untuk mendengarkan arahan dan pelatihan penyelamatan selama dalam pelayaran di tengah laut.

Usai acara pendek itu, kapal pun bergerak meninggalkan pelabuhan Marina Bay Cruise Center Singapura menuju perairan interansional Selat Malaka. Malah pergerakan pertama saat meninggalkan tempat sandar dari kapal pesiar mewah buatan Jerman yang mulai beroperasi perdana di Singapura 14 April 2016 itu , sepertinya tidak terasa dan tidak ada tanda-tanda karena sedikitpun tidak ada goncangan.

Dan di situlah letak kecanggihan teknologi negara Eropa itu. Terkadang muncul juga dalam benak penulis pertanyaan: “Siapalah orangnya perancang pertama sehingga bisa menciptakan bangunan tinggi, 18 tingkat yang hanya 16 tingkat diperuntukkan bagi para tamu wisatawan”.

Memang tidak tejawab dan juga tak perlu dijawab, namun hasil berpikir yang diwujudkan dalam suatu karya besar oleh sahabat kita dari Jerman itu yang entah siapa namanya , kini kapal besar raksasa yang digunakan untuk wisata (pesiar) antar negara dan benua dengan fasilitas serba lengkap, dan malah ada atraksi baru yang belum ditemui di darat, sudah dipatok dengan harga sekitar 1 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 13 triliun.

Untuk hotel berstandard bintang lima sudah tersedia 2.090 kamar yang terbagi dengan Window ( menghadap laut) dan Inside (tengah), serta Balcony dan VIP dan Suit yang harga masing-masing sangat bervariasi. “Kalau kamar Inside jelas berbeda harga dengan kamar window.

Demikian juga antara balcony dengan VIP dan Suits harganya sangat bervariasi,” kata Andi S.Indana selaku Marketing Manager dari Multi PT.Alam Bahari International perwakilan Indonesia yang selama pelayaran dengan kapal pesiar berukuran 348 meter (panjang) dan 41 meter (lebar) itu terus ramah tanpa bosan-bosan pelayani rombongan media dari Indonesia walau terkadang ada yang bertingkah.

Walau statusnya hotel mewah dalam kapal, namun sepanjang pelayaran mengarungi perairan internasional selat Melaka, hampir tidak terasa goncangan. Malah sewaktu tidurpun hampir lupa bahwa kami itu menginap dalam kamar hotel yang dibangun di atas kapal yang tengah bergerak dalam kecepatan 22 knot atau 41 km per jam di tengah laut.

Kecuali sewaktu sujut di waktu melaksanakan shalat fardhu atau sunnat yang arah kiblatnya terkadang berubah tanpa pasti, agak terasa goncang bagaikan gempa kecil namun dalam penilaian masih di bawah getaran 1 derajad pada skala richter.

Demikian pula fasilitas Ripcord By Ifly, yaitu suatu bentuk atraksi yang menguji keberanian dan kekuatan jantung peserta karena dalam ruang bundar tertutup kaca di deck 15 itu bisa membuat peserta terbang tanpa sayap.

Malah kalau kondisi tubuh memungkinkan dengan berat di bawah 60 kg, bisa terbang sampai mencapai 5-10 meter. Kekuatan untuk bisa terbang adalah dengan menghandalkan tiupan angin kuat dari bagian bawah ruangan dengan kecepatan antara 250 sampai 300 km per jam.

Bahkan jauh lebih kecang lagi dibandingkan tekanan udara (angin) yang penulis rasakan sewaktu hendak menaiki pesawat Helikopter berbaling-baling dua milik Angkatan Militer Singapura pasca tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. Jadi kalau mau mencoba terbang dengan melayang di udara tanpa sayap, di kapal pesiar Ovation of the Seas bisa didapati.

Untuk menyaksikan bentuk kapal dari angkasa, kapal pesiar milik perusahaan royal Caribbean Internasional ini juga menyediakan menara “North Star” yang pada bagian paling ujung tersedia kapsul tertutup kaca dengan ruang berkapasitas 14 orang. Menara North Star ini akan bergerak turun-naik dengan sistem komputerisasi membawa para tamu sampai pada ketinggian 90 meter.

Bila sudah mencapai pada punc ak tertinggi cukup unik dan mengesankan pemandangan yang terlihat, temasuk menyaksikan bentuk dari kapal pesiar Ovation of the Seas itu sendiri. Banyak lagi fasilitas tersedia dalam kapal mewah termasuk kolam renang, kolam berselancar (Flowrider), ruang olahraga, Theater, perpustakaan, tempat hiburan atau bisnis ketangkasan seperti yang ada Genting Highland (Malaysia), ruang pertemuan atau rapat yang bisa menampung sampai 1.000 orang serta lainnya. Jadi kalau suatu perusahaan ingin menggelar rapat, tersedia di kapal ini sambil menikmati perjalanan wisata bahari.

Malah restoranpun cukup banyak tersedia. Mulai dari non-bayar (gratis) untuk sarapan pagi, makan siang dan malam sampai kepada restoran mewah berkelas. “Setiap tamu yang berada di kapal ini tidak akan pernah mengalami kelaparan, karena ada sejumlah restotan dibuka secara gratis dengan menu lengkap dan tersedia berbagai jenis buah-buahan, kata Andi yang didampingi Ms Siti Aisyah dari BW Communications PR Agency dan Ms Rika dari singapore Tourism Board.

Memang benar bahwa ada restoran gratis di lantai 4 yang buka selama 24 jam non-stop dan boleh didatangi oleh siapa saja dari tamu hotel dalam kapal. ***** * Laporan Dari Kapal Pesiar Raksasa (Bagian I) Aidi Yursal ( Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>