Ganggu Kerukunan

      Tidak ada Komentar

MEDAN ( Berita ) : Sejumlah elemen mengatasnamakan Gerakan Penyelamatan Sumut (GPS) menyayangkan terjadinya kasus penistaan agama Islam dilakukan AH sehingga berpotensi mengganggu kerukunanantar umat beragama di Sumut.
Mereka, Prof Dr Ir Abdul Rauf MP, guru besar USU, Hj Dewi Budiati aktivis sosial kemanusiaan dan praktisi lingkungan, Jefri Wanda pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumut, Ugra dari Generasi Hijau Nasional, Muhammad Yusuf BEM Kehutanan USU, Dewa Tara BEM Pertanian USU, Arif pengurus GPS dan Iqbal Nasution Komunitas Anti Penistaan Agama.

Prof Abdul Rauf yang juga Badan Kenaziran Masjid (khatib) kepada Wartawan, Senin (17/4), mengatakan, bukan hanya umat muslim yang ternista, tetapi semua umat agama, khususnya di Sumut juga ikut ternista.

“Hanya di Sumut yang di dalam satu keluarga bisa memiliki keyakinan/agama berbeda-beda. Tidak sedikit keluarga di Sumut yang orang tuanya kristiani misalnya, tapi anaknya ada yang muslim, demikian sebaliknya.

Banyak pula dijumpai dalam satu keluarga anaknya tujuh orang, empat kristiani, tiga muslim, demikian sebaliknya. Fenomena semacam ini sudah berlangsung sangat lama, dan dalam hubungan sosial budaya bahkan ekonomi sehari-hari tetap berjalan harmonis,” sebutnya.

Dikatakan, ketika lebaran Idul Fitri semua turut merayakan dan berbahagia, demikian halnya ketika hari raya Natal dan Tahun Baru. Hal itu merupakan cerminan sekaligus implementasi kerukunan antarumat beragama yang mungkin tidak lazim terjadi di daerah lain.

“Itulah sebabnya saya katakan penistaan agama Islam dilakukan AH sangat potensial mengganggu kerukunan antarumat beragama di Sumut yang dikenal sebagai daerah paling heterogen di Indonesia, bahkan di dunia. Oleh sebab itu sebelun terjadi hal-hal tidak diinginkan maka proses hukum terhadap AH harus dilakukan sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku di NKRI,” tegasnya.

Pihak berwajib dalam hal ini kepolisian, harus mengusut tuntas penistaan agama dilakukan AH dan dilanjutkan ke peradilan agar ketertiban dan keamanan di sumut ini tetap terpelihara.

KAMMI Sumut juga menyangkan terjadinya penistaan agama di Sumut, khususnya di Kota Medan. Pada dasarnya warga Medan sangat menghargai kerukunan umat beragama. “Ini adalah bentuk dari upaya memecah belah persatuan umat.

KAMMI Sumut mengajak semua elemen masyarakat mengawal kasus itu sampai tuntas agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” kata Ketua Divisi Kebijakan Publik KAMMI Sumut Jefri Wanda.

Dia menyebutkan, KAMMI Sumut meminta kepada aparat penegak hukum bertindak tegas dalam penegakan kasus itu. “Hukum harus ditegakkan, NKRI harga mati. KAMMI Sumut akan turun ke jalan apabila kasus ini tidak tuntas,” tegasnya.

Sebelumnya, aliansi ini datang ke Mapoldasu untuk menemui Kapoldasu Irjen Pol. Rycko Amelza Dahniel. Mereka meminta kepolisian segera mengusut pelaku. “Tadinya berencana menjumpai Kapolda agar memberi perhatian serius kasus ini, tetapi sebelum bertemu Kapolda sudah mendapat informasi pelaku diamankan Polrestabes Medan, sehingga niat bertemu Kapolda dibatalkan,” tambah Dewi Budiati. Aktivis lingkungan itu mengatakan, tidak ingin masyarakat Sumut terpecah belah karena adanya kasus penistaan agama. (WSP/m27/J)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>