Narkoba Musuh Bersama Dalam Islam

      Tidak ada Komentar

Fuqaha Hanafiyah dan Malikiyah bahkan membolehkan hukuman ta’zir itu sampai berupa hukuman bunuh

Bahaya yang datang dari Narkoba tidak hanya sekali, melainkan berulangkali. Bahaya Narkoba tidak hanya berpengaruh pada fisik saja tetapi mental pecandu. Sebenarnya Narkoba merupakan senyawa psikotropika yang biasa digunakan dokter atau rumah sakit untuk membius pasien yang akan dioperasi atau sebagai obat tertentu.

Tetapi persepsi tersebut disalahartikan akibat penggunaan di luar fungsinya. Apabila disalahgunakan, bahaya Narkoba dapat mempengaruhi susunan syaraf, mengakibatkan ketagihan dan ketergantungan. Dari ketergantungan inilah bahaya Narkoba akan mempengaruhi fisik, psikologis, maupun lingkungan sosial.

Meningkatnya perilaku menyimpang manusia dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa. Kaum tua sebagai contoh dan pemudanya sebagai generasi pelanjut sesungguhnya diharapkan mengelola bangsa ini dengan cerdas dan bermoral. Jika manusia-manusia suatu bangsa banyak yang rusak akibat zat adiktif penghancur syaraf, niscaya harapan itu hanya tinggal kenangan.

Narkoba bisa menghantam siapa saja yang lemah imannya, sehingga tidak ada perasaan diawasi oleh Allah SWT dan kesadaran mempertanggungjawabkan perbuatannya di hari Akhirat. Karena itu tua-muda, kaya-miskin, pintar-awam, semuanya bisa terlena dalam kenikmatan semu Narkoba.

Hukum Islam

Syariat Islam mengharamkan segala sesuatu yang memabukkan. Maksud pengharaman itu adalah karena sesuatu tersebut mengandung bahaya bagi manusia, kesehatan, akal, dan kehormatannya.

Di dalam QS. Al-Maidah ayat 90 dikalamkan oleh Allah SWT bahwa khamr termasuk perbuatan Setan yang harus dijauhi. Sementara Setan adalah musuh dan berkomitmen menyesatkan manusia. Rasulullah SAW juga bersabda tentang tidak boleh bagi seseorang memudharatkan dirinya sendiri dan orang lain: La dharar wa la dhirar.

Sebab mudharat Narkoba inilah datang keharusan menghukum oknum yang terlibat. Para fuqaha sepakat bahwa pengonsumsi Narkoba tanpa uzur dan alasan yang dibenarkan (seperti kepentingan medis) ia dikenai hukuman ta’zir.

Bentuk hukuman tersebut diserahkan kepada penguasa, apakah dipukul, dipenjara, dipublikasikan, dikenai sanksi denda berupa harta, atau lainnya yang bisa memberi efek jera.

Fuqaha Hanafiyah dan Malikiyah bahkan membolehkan hukuman ta’zir itu sampai berupa hukuman bunuh. Mereka menyebutnya dengan istilah hukuman bunuh sebagai bentuk kebijakan yang pas dan tepat. Artinya, jika hakim melihat ada kemaslahatan sesuai dengan kondisi dan situasinya.

Hukuman Akhirat juga menanti oknum-oknum pemabuk. Diriwayatkan Imam Ahmad, bahwa Nabi SAW bersabda: Ada tiga macam manusia yang tidak masuk Surga; peminum khamr, pemutus silaturahim, dan orang yang mempercayai sihir.

Barangsiapa mati sebagai peminum khamr, maka Allah memberinya minum dari sungai Ghuthah.” Seseorang bertanya: “Apa itu sungai Ghuthah?”. Rasul menjawab: “Sungai yang mengalir dari faraj para pelacur. Para penghuni Neraka lainnya merasa terganggu oleh bau faraj mereka (HR. Ahmad dalam Musnadnya 4/399).

Narkoba Musuh Bersama

Berdasar akal sehat manusia, Narkoba memang terbukti bisa merusak suatu generasi. Karena itu, Dunia juga menyatakan perang terhadap Narkoba. Indonesia mengatur tentang zat berbahaya ini dalam UU No. 35 tahun 2009.

Masalahnya adalah penyebaran penyalahgunaan Narkoba yang sangat sulit untuk dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat Narkoba dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Tentu saja hal ini membuat orangtua, organisasi masyarakat, dan pemerintah khawatir.

Upaya memberantas Narkoba pun sering dilakukan, namun tetap saja sedikit kemungkinan untuk menghindarkan Narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak SD dan SMP pun banyak yang terjerumus.

Hingga saat ini upaya yang paling efektif mencegah penyalahgunaan Narkoba adalah pendidikan keluarga. Orangtua diharapkan optimal mengawasi dan mendidik anaknya agar selalu menjauhi penyalahgunaan Narkoba.

Memerangi Narkoba tidak semudah memerangi teroris. Lantas bagaimana cara kita memerangi Narkoba? Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah; Pertama: seluruh komponen masyarakat harus berkomunikasi intens dengan pihak Kepolisian. Kedua, pidana hukuman mati bagi para pengedar harus dijalankan, karena pengedar Narkoba merupakan teroris abad modern saat ini.

Tidak salah kalau kita katakan bahwa negara ini sudah dalam situasi darurat Narkoba. Kenapa penyalahgunaan Narkoba di negeri ini tidak mereda, melainkan kian merajalela ? Pertanyaan itu sesungguhnya sudah usang, tetapi selalu relevan dikemukakan lantaran hingga detik ini belum ada jawaban nyata dari para pihak yang berkepentingan.

Ketegasan adalah satu-satunya jawaban untuk meredam sepak terjang para penjahat Narkoba. Penegak hukum terlalu lembek memberantas Narkoba. Hukum bahkan dijadikan sebagai lahan basah untuk mengeruk uang. Karena uanglah, mereka berikan pada pengedar, bandar, dan gembong Narkoba keleluasaan mengendalikan bisnis laknat ini dari penjara.

Seharusnya para penjahat Narkoba penghancur generasi bangsa tidak diberikan ampun. Negara tidak boleh berbelaskasihan kepada mereka yang tidak punya secuil pun rasa iba kepada anak-anak bangsa. ***** (( HM. Nasir, Lc, MA : Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara, Wakil Sekretaris Dewan Fatwa Pengurus Besayr Al Washliyah. )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>