Bulan Rajab Dan Keutamaannya

      Tidak ada Komentar

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan Langit dan Bumi… (QS. At-Taubah: 36)

Di antara dua belas bulan dalam kalender Islam (mulai dari Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah) terdapat empat bulan haram atau bulan yang dihormati; tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram, dan satu bulan tersendiri, yaitu bulan Rajab. Bulan Rajab adalah bulan ketujuh dari bulan Hijriah. Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW untuk menerima shalat limat waktu diyakini terjadi pada 27 Rajab.

Hukum Puasa Rajab

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam membahas masalah puasa Rajab. Pertama, tidak ada riwayat yang benar dari Rasulullah SAW yang melarang puasa Rajab. Kedua, banyak riwayat tentang keutamaan puasa Rajab yang tidak benar dan palsu. Tulisan singkat ini akan mencoba menghadirkan riwayat yang benar sekaligus pemahaman para ulama empat madzhab tentang puasa di bulan Rajab.

Tidak dipungkiri adanya hadis-hadis lemah (dha’if) dan palsu (maudhu’) yang sering dikemukakan sebagian pendukung puasa Rajab. Dan perlu diketahui, dengan banyaknya hadis palsu tentang keutamaan puasa Rajab bukan berarti tidak ada hadis yang benar membicarakan tentang keutamaannya bulan Rajab.

Dalil tentang puasa pada bulan Rajab adalah: Pertama, berdasar hadis riwayat Imam Muslim: Sesungguhnya Utsman Ibn Hakim Al-Anshori berkata: Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab.

Sa’id menjawab: Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan Beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan Beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan Beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.

Dari riwayat tersebut dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rajab dengan utuh, dan Nabi-pun pernah tidak berpuasa dengan utuh. Artinya di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rajab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rajab bukanlah sesuatu yang wajib.

Begitulah yang dipahami para ulama tentang amalan Nabi SAW, dimana jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya maka itu menunjukan amalan itu bukan suatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.

Kedua, berdasar hadis riwayat Abu Dawud dan Ibn Majah: Dari Mujibah Al-Bahiliah dari ayahnya atau pamannya. Sesungguhnya ia (ayah atau paman) datang kepada Rasulullah SAW.

Kemudian berpisah dan kemudian datang lagi kepada Rasulullah setelah setahun dalam keadaan tubuh yang berubah (kurus). Dia berkata: Ya Rasulullah apakah engkau tidak mengenalku ? Rasulullah SAW menjawab: Siapa engkau ? Dia pun berkata: Aku al-Bahili yang pernah menemuimu setahun yang lalu.

Rasulullah SAW bertanya: apa yang membuatmu berubah sedangkan dulu keadaanmu baik-baik saja (segar-bugar), ia menjawab: aku tidak makan kecuali pada malam hari (yakni berpuasa) sejak berpisah denganmu.

Maka Rasulullah SAW bersabda: Mengapa engkau menyiksa dirimu. Berpuasalah di bulan sabar dan sehari di setiap bulan. Lalu ia berkata: Tambah lagi (ya Rasulullah). Sesungguhnya aku masih kuat. Rasulullah SAW berkata: Berpuasalah dua hari (setiap bulan). Dia pun berkata: Tambah lagi ya Rasulallah.

Rasulullah SAW berkata: berpuasalah tiga hari (setiap bulan). Ia pun berkata: Tambah lagi (Ya Rasulullah). Rasulullah SAW bersabda : Jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram). Dan jika engkau menghendaki maka tinggalkanlah. Beliau mengatakan hal itu tiga kali sambil menggenggam tiga jarinya kemudian membukanya.

Imam Nawawi menjelaskan hadis tersebut. Sabda Rasulullah SAW: “Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah. Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan berbuka kepada orang tersebut karena dipandang puasa terus-menerus akan memberatkannya dan menjadikan fisiknya berubah.

Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa dibulan Rajab seutuhnya adalah sebuah keutamaan. (Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 6 halaman 439).

Imam asy-Syaukani memberi penjelasan dalam kitabnya, Nail al-Authar, bahwa bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan kesunnahan puasa pada bulan Rajab itu kurang kuat dijadikan dasar hukum, maka hadis lain dari Nabi yang menganjurkan berpuasa dalam bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) bisa dijadikan dasar hukumnya.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda: Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia) (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).Di samping itu, juga tidak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.

Hadis lainnya adalah riwayat an-Nasa’i dan Abu Dawud (disahihkan oleh Ibnu Huzaimah). Usamah berkata pada Nabi Muhammad SAW: “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab: Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.

Menurut asy-Syaukani, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih Imam Muslim. Bahkan berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan. Nabi bersabda: Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Al-Ghazali menyatakan dalam kitabnya, Ihya’ Ulum ad-Din, bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah).

Hari- hari utama dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan, dan tiap minggu.Terkait siklus bulanan ini, Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab termasuk al-asyhur al-fadhilah (bulan yang utama), di samping Dzulhijjah, Muharram dan Sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum (bulan yang dihormati) di samping Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Disebutkan dalam Kifayat al-Akhyar, bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan adalah bulan haram, yaitu Dzulqa’dah, Dzul hijjah, Muharram, dan Rajab. Di antara keempat bulan itu yang paling utama adalah bulan Muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Ar-Rayani, bulan puasa yang utama setelah Muharram adalah Rajab.

Kesimpulan

Dari penjelasan para ulama telah jelas bahwa puasa bulan Rajab adalah sunnah, hanya menurut mazhab Imam Ahmad saja yang makruh. Ternyata kemakruhan puasa Rajab menurut madzhab Imam Ahmad itu pun jika berpuasa sebulan penuh, adapun kalau dibolongi satu hari saja maka kemakruhannya sudah hilang, atau bisa disambung dengan sehari saja sebelum atau sesudah Rajab. Wallahua’lam. ***** ( HM. Nasir, Lc.MA : Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara Dan Wakil Sekretaris Dewan Fatwa PengurusBesar Al Washliyah )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>