Kehidupan Akhirat Bukan Ramalan

      Tidak ada Komentar

Kelompok yang tidak mengimani hari Akhirat bukan hal baru. Alquran telah menjelaskan kelompok manusia yang disebut dahriyuun yang meyakini kehidupan Dunia hanya faktor alamiah tidak ada campur tangan Tuhan

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita datang dari alam ketiadaan dan akan kembali kepada alam ketiadaan. Setiap alam yang kita lewati memiliki karakter tersendiri dan setiap perpindahan dari satu alam ke alam lain. Pasti disertai dengan perubahan karakter yang mau tidak mau mesti diikuti sesuai dengan hukum yang berlaku.

Bukankah hukum dan karakter yang berlaku sewaktu kita di alam janin sudah berhenti dan tidak berlaku lagi ketika kita dilahirkan ke Dunia? Karakter dan hukum yang berlaku antar Dunia ke Dunia saja berbeda, seperti karakter penduduk di Bumi berbeda dengan karakter penduduk yang menghuni ruang angkasa apatah lagi hukum dan karakter kehidupan Dunia dibanding dengan kehidupan Akhirat.

Semua itu berjalan bukan secara kebetulan, tapi telah diatur Sang Pencipta. Dia yang mengadakan Dia pula mengatur karakter dan hukum yang berlaku setiap alam yang sudah dijalani dan akan dijalani oleh manusia.

Lagi pula, jika Allah SWT tidak menjadikan kehidupan Akhirat, kehidupan Dunia ini penuh dengan kesia-sian, dan Mahasuci Allah SWT dari berbuat kesia-siaan. Allah SWT mencipatakan alam semesta ini penuh dengan hikmah. Tampak semua ciptaanNya tersusun rapi dan sempurna. Mana mungkin ciptaanNya yang begitu indah dan rapi hanya diciptakan untuk kehidupan Dunia yang yang fana tanpa ada kelanjutan hidup yang berikutnya yaitu kehidupan Akhirat yang kekal abadi.

Akhir-akhir ini keyakinan umat Islam terhadap adanya hari Akhirat mulai digugat oleh kelompok-kelompok tertentu dari golongan kafirin, munafiqin dan atheis. Mereka berani mengatakan secara terbuka di media media massa bahwa kehidupan setelah mati, alam kubur, hari berbangkit dan hari Akhirat adalah ramalan para ustadz. Dengan alasan para ustadz itu sendiri belum pernah mengalami peristiwa yang mereka sampaikan.

Ungkapan demikian jika tidak bertujuan untuk menggugat keyakinan para penganutnya, paling tidak bertujuan untuk menanamkam bibit keraguan ke dalam hati umat Islam yang telah meyakini adanya kehidupan setelah mati secara mengakar dan harga mati.

Hari Akhirat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini, tak dapat ditawar. Siapa saja dari kaum Muslimin yang mengingkari adanya hari Akhirat, berarti dia sudah keluar dari Islam. Karena yang meyakini tidak akan terjadi kiamat dan tidak adanya Akhirat adalah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman: berkata orang orang kafir tidak akan terjadi hari kiamat (QS Assaba: 3).

Sepakat ulama menghukum batal keimanannya dan keislamannya alias kafir. Karena persoalan yang akan datang yang berkaitan dengan kematian dan kehidupan setelah kematian adalah persoalan akidah yang dasar keilmuannya bersumber dari wahyu atau ilmu yang bersifat sam’iyyat (didapat berdasarkan apa yang didengar dari pembawa wahyu).

Konsekuensi dari tidak meyakini hari Akhirat, dapat membatalkan rukun rukun iman yang lain. Seperti beriman kepada Rasul, kepada kitab-kitab, beriman kepada Malaikat dan beriman kepada qadha dan qadar.

Alasannya, beriman kepada hari Akhirat tidak berdiri sendiri karena informasi terhadap adanya hari Akhirat diperoleh dari kitab suci Alquran. Dan Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Jika imformasi tentang adanya hari Akhirat diingkari, berarti mengingkari kerasulan Nabi Muhammada SAW. Dengan kata lain rukun iman yang kedua telah batal sebagai konsekuensi dari mengingkari hari Akhirat.

Konsekuensi berikutnya dapat membatalkan rukun iman yang ketiga yaitu iman kepada kitab-kitab karena keterangan terhadap hari Akhirat bukan diada-adakan oleh Nabi Muhammad SAW, atau ramalan Beliau, tetapi sebagai wahyu yang diterima dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril Alaihissalam.

Konsekuensi berikut, adalah pembatalan rukun iman yang keempat yaitu beriman kepada Malikat. Alasan karena Nabi Mummad SAW menerima kitab suci Alquran tidak langsung dari Allah SWT tetapi melalui Malaikat Jibril Alaihissalam yang wajib diimani sebagai pesuruh Allah SWT. Dengan arti kata, tidak percaya kepada hari Akhirat berarti tidak percaya pula kepada para Malaikat.

Terakhir, pembatalan rukun iman yang keenam yaitu iman kepad qadha dan qadhar, sebagai imbas yang tak terelakkan dari mengingkari hari Akhirat. Karena inti dari beriman kepada qadha dan qhadar adalah meyakini bahwa ketentuan terakhir manusia ini bukan sebatas kehidupan di Dunia.

Tetapi Allah SWT sudah menentukan (menakdirkan) kesudahan manusia di Akhirat nanti. Apakah sebagai penghuni Neraka atau Surga. Bagaimana seorang yang tidak percaya kepada hari Akhirat bisa mengimani qadha dan qhadar Allah SWT.

Sebab itu, dalam berbagai hadis yang sahih Nabi Muhammad SAW sangat menekankan beriman kepada Allah dan hari Akhirat saja. Sebagai contoh hadis yang mengatakan: Barang siapa yang beriaman kepada Allah dan hari Akhirat muliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat berkatalah yang baik atau diam, dan banyak lagi hadis yang sama menekankan pada dua rukun iman saja.

Kelompok yang tidak mengimani adanya hari Akhirat bukan hal baru. Alquran telah menjelaskan ada satu kelompok manusia yang disebut dengan kelompok dahriyuun yang meyakini bahwa hidup dan kehidupan Dunia ini hanya faktor alamiah tidak ada campur tangan Tuhan.

Allah SWT berfirman: mereka berkata tidaklah ada kehidupan kami di Dunia ini melainkan hanya hidup dan mati belaka, dan tidak ada yang membinasakan kami melainkan hanya peroses berjalannya masa (QS.Al-Jatsiyah: 25). Wallahu a’lamubshshawab. ***** ( H.Muhammad Nasir, Lc. MA )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>