OJK Permudah Perusahaan Go Public

      Tidak ada Komentar

BEJDirektur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio (kiri) didampingi Kepala PT BEI Perwakilan Medan Muhammad Pintor Nasution (kanan) berbiacara kepada wartawan di Medan Senin (20/3) siang. (Berita Sore/Hj Laswie Wakid )

MEDAN (Berita): Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai otoritas yang mengawasi pasar modal memberi sinyal ke depan akan mempermudah perusahaan untuk go public di PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan hal itu kepada wartawan di Medan Senin (20/3) siang.

Ia berbicara usai dia dan rombongan touring (roadshow) pasar modal ke Aceh, konvoi bersama timnya dengan mengendarai motor besar Harley Davidson. Selama di Aceh Tito juga meresmikan
Galeri Pasar Modal di Takengon. Ia dari Banda Aceh sampai Takengon naik Harley, namun dilanjutkan naik pesawat menuju Medan.

Tito didampingi Kepala PT BEI Perwakilan Medan Muhammad Pintor Nasution menyebutkan perusahaan yang mau masuk bursa, semua dokumen dan persyaratannya diajukan di Medan, termasuk verifikasinya. “Jadi masyarakat Medan tak perlu lagi Jakarta. Semua diurus dan diproses di Medan,” kartanya.

Menurutnya, selama ini hal yang membesarkan bursa saham yakni pertama, infrastruktur dan likuiditas. Kedua, market capitalisasi dimana harus diatas Rp6.000 triliun, sedangkan bank sudah ada di atas Rp6.300-Rp6.400 triliun.

Tito menyebut untuk mendapatkan dana sebesar itu, pihaknya roadshow ke beberapa daerah seperti Takengon, Aceh antara lain meresmikan galeri ke 252 di Indonesia. Dari jumlah itu, di Sumut masih ada 5 galeri. Idealnya Sumut minimun harus punya 15 galeri.

Misi BEI, katanya, bagaimana caranya memobilisasi dana bukan saja di Jakarta tapi juga daerah. Bukan saja perusahaan besar tapi juga perusahaan kecil. “Jadi kalau perusahaan di daerah mau masuk bursa bisa mengajukannya di Medan saja,” terang Tito. Dari jumlah itu, di Sumut masih ada 5 galeri. “Galeri menjadi pusat informasi go public,” katanya.

Ia menyebut banyak perusahaan yang berpotensi besar di Sumut untuk masuk bursa seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Pertumbuhannya (growth) 5-6 persen. “Kalau kita kejar, maka harus dapat 30 perusahaan per tahun dan di Medan mungkin 1 karena beberapa faktor. “Untuk itu, BEI di Medan terus mensosialisasikan ke sejumlah perusahaan,” katanya.

Tito menilai kondisi ekonomi lokal dan global membaik ditandai dengan rencana kenaikan bunga The Fed yang intinya menunjukkan ekonomi AS bagus, termasuk sekarang Belanda dan Perancis. Akan halnya Indonesia, dengan adanya tax amnesty dimana uang masuk ke bank. Jadi likuiditas keuangan dan infrastruktur membaik maka bursa juga kuat.”Kemudahan investasi cukup besar,” katanya.

Menyinggung broker (pialang) atau Perantara pedagang efek (PPE), Tito menyebut jumlahnya sangat sedikit. Transaksi 40 ribu investor/hari, broker hanya 2.800 per hari. Sedangkan 1 broker hanya mampu menangani 10 investor sehingga jumlahnya masih kurang. Untuk itu, BEI kerjasama dengan 30 universitas, termasuk Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut. Dari tahun pertama, mata kuliah ditambah. Jadi tahun keempat lulus maka bisa jadi broker. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>