Dongeng “Smong” Selamatkan Rakyat Simeuleu Dari Tsunami

      Tidak ada Komentar

JPGYoko Takafuji dari Wako University Japan (tengah) foto bersama timnya Agus, Yusuf, Ahmad Arif dan murid-murid serta guru SMA Budi Agung Jalan Platina Raya Titi Papan Medan Sabtu (18/3). (Berita Sore/Hj Laswie Wakid )

MEDAN (Berita): Ternyata dongeng “Smong” yang terjadi sejak tahun 1907 hingga sekarang secara turun temurun di Pulau Simeuleu, berhasil menyelamatkan rakyat pulau itu dari bencana gempa dan tsunami dahsyat yang terjadi pada 26 Desember 2004.

Memang sudah hampir 13 tahun kejadian mengerikan itu menimpa sebagian besar kawasan Aceh, termasuk Simeuleu, namun sampai sekarang menceritakan tsunami tetap tak ada habis-habisnya. Sebab korban tsunami tahun 2004 di Aceh sekitarnya, Sumatera bagian Barat, termasuk Nias mencapai lebih 221.000 jiwa.

Inilah yang menggerakkan Yoko Takafuji dari Wako University, Jepang untuk meneliti tsunami di Aceh dan Nias. Ketika tsunami 26 Desember 2004 terjadi di Aceh sekitarnya, Yoko melihatnya di TV NHK. Ia sejak usia 3 tahun hingga tamat SMP pernah berada di Jakarta ikut ayahnya yang seorang pengusaha.

Saat tsunami di Aceh dan Nias terjadi, Yoko merasa terpanggil datang ke negara kedua baginya, setelah Jepang. Tahun 2005, Yoko mendarat di Aceh dan ke Simeuleu karena di sana korban tewas hanya 7 orang, sementara ribuan rumah hampir rata dengan tanah.

“Setelah saya selidiki, ternyata nyanyian “Smong” yang selalu dibawakan warga Simeuleu secara turun temurun justru menyelamatkan mereka dari hantaman tsunami 2004,” ungkap Yoko. Menurut Yoko, “Smong” dalam bahasa Simeulue dan “Tsunami” dalam bahasa Jepang itu sama artinya yakni gelombang besar lautan setelah terjadi gempa dahsyat.

Selama ini nyanyian dengan Smong dengan syair (nandong) itu ibarat dongeng bagi penduduk Simeuleu. Meski dianggap dongeng tapi karena nandongnya enak dibawakan maka selalu jadi lagu pertemuan atau nyanyian nina bobok.

Nandong Smong yang dinyanyikan dengan merdu kira-kira: “Kalau terjadi gempa, tanah bergerak-gerak dan air laut surut, ikan-ikan berkeluaran maka segeralah berlari ke ketinggian di atas bukit. Karena Smong akan datang…”

Lagu itu terjadi sejak tahun 1907 ketika Smong terjadi di Simeulue yang menghantam wilayah sekira 110 mil laut dari pesisir pantai barat Provinsi Aceh. Akhirnya lagu Smong turun temurun hingga sekarang.
Simeuleu merupakan salah satu dari 23 kota/kabupaten di Provinsi Aceh yang berada di kepulauan. Waktu tsunami 2004, pusat gempa justru lebih dekat dengan wilayah Simeuleu.

Hal ini menurut Yoko, sama seperti pengetahuan Tsunami di Jepang yang dikisahkan melalui cerita bergambar (Kamishibai) sejak kecil secara turun temurun juga. Ini yang membuat masyarakat sangat familiar dengan Smong dan Tsunami sehingga korban bisa lebih kecil.

Yoko yang diutus kampusnya Wako University Japan didukung Konsulat Jenderal Jepang di Medan, Japan Foundation dan Japan International Cooperation Agency (JICA) mensosialisasikan pengetahuan Tsunami ke sekolah-sekolah, kampus dan masyarakat umum di Sumut dan Aceh.

Dalam sosialisasinya itu, Yoko membawa timnya terdiri dari Agus (pendongeng), Yusuf (pembaca puisi dan memainkan alat musik) serta Ahmad Arif seorang peneliti bencana alam, wartawan Kompas, juga penulis buku.

Mereka sosialisasi sudah di beberapa tempat, hampir 20 tempat keliling di Sumut, Aceh, bahkan sampai Yogyakarta dan Tokyo. Di Sumut, Yoko sosialisasi di SMA Budi Agung Jalan Platina Raya, Titi Papan dan Universitas Potensi Utama di Jalan KL Yos Sudarso Medan Sabtu (18/3). Kemudian Minggu (19/3) ke PP Al Qomariyah Galang dan Senin (20/3) di MAN 1 Tanjungpura.

Sosialisasinya bukan berupa seminar yang kaku, tapi mengajak audiensnya seolah-olah masuk dalam suasana Tsunami. Agus (narator) yang juga pendongeng menceritakan kisah bergambar (Kamishibai) “Nama Saya Smong” dan “Inamura no Hi” (Api Jerami).

Dikisahkan “Nama Saya Smong”, merupakan anak laki-laki lahir 26 Desember 2004 di atas pebukitan Simeuleu, di tengah Tsunami menghantam daerah itu. Kini usia Smong hampir 13 tahun dan katanya sebentar lagi mau sunat.

Syukur, ibu Smong dan seluruh warga lari ke atas bukit usai gempa besar terjadi, ikan-ikan di laut berkeluaran, dataran pasir nampak, lalu Smong ketinggian lebih 10 meter, melebihi pohon kelapa menghantam Simeuleu yang akhirnya mereka selamat.

Sedangkan cerita “Inamura no Hi” dari Jepang mengisahkan seorang petani tua, Gohei yang mengalami gempa dahsyat di desanya dengan 400 warga. Setelah gempa, Gohei melihat gelombang laut bergerak ke lepas pantai yang berlawanan dengan arah angin, di pantai muncul dataran berpasir dan karang. “Ini pasti akan terjadi Tsunami,” gumam Gohei yang tinggal di atas bukit.

Lalu petani tua itu membakar tumpukan padinya dan warga melihat terbakar, berlarian ke atas bukit. Setelah itu, Tsunami benar-benar datang dan penduduk itu selamat semuanya. Agus menceritakannya dengan diiringi musik dan gambar sehingga audiens dapat lebih cepat memahaminya. “Dua kisah itu menggambarkan kalau ada gempa hebat, air laut surut, maka segeralah lari mencapai tepat tinggi atau jauh dari tepi pantai,” terangnya.

Yoko Takafuji menambahkan di Jepang ada istilah “Tendeng ko” atau janji kepercayaan. Jadi kalau gempa dan tsunami menghantam, sudah ada Tendeng ko dengan keluarga masing-masing harus utamakan menyelamatkan diri sendiri dulu dengan berlari ke ketinggian. Jangan cari suami/isteri atau anak. Janji (tendeng ko) jumpa di ketinggian agar semuanya selamat. “Kalau saling cari, bisa-bisa semua gak selamat,” terang Yoko.

Warga yang tinggal di daerah langganan gempa, Yoko mengatakan perlu tetap waspada dengan selalu menyediakan peralatan darurat seperti helm, senter, makanan, minuman. “Kalau ada gempa jangan panik, tapi tetap antisipasi dengan menutup kepala pakai tas atau apa yang ada,” katanya.

Hal ini diakui Ahmad Arif yang meneliti beberapa gempa dan tsunami di Indonesia menyebutkan bahwa kecilnya pengetahuan tentang tsunami membuat banyak korban. “Kalau pengetahuan tentang Smong dan Tsunami lebih banyak maka korban dapat dihindari,” jelas Arif.

Yang membunuh bukan gempa dan tsunaminya tapi bagaimana kita merespon dengan pengetahuan tentang bencana tersebut, dengan berlari di ketinggian dan membangun rumah yang tahan gempa.

Menurut Arif, Indonesia dan Jepang sama-sama langganan Tsunami, tapi paling banyak jatuh korban di Indonesia karena kurangnya pengetahuan tentang Tsunami. Jadi dengan mengetahui resiko kita lebih siaga bencana.

Bukan gempa yang membunuh, tapi bangunan. Banjir dan longsor disebut bencana jika berdampak pada manusia. “Tsunami tidak mematikan kalau kita mengungsi tepat waktu,” tegasnya.

Tim Yoko Takafuji mendapat sambutan hangat oleh lebih 100 murid di SMA Budi Agung Jalan Platina Raya Titi Papan dan mahasiswa program studi (Prodi) Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Politik dan Pendidikan Universitas Potensi Utama Medan Sabtu (18/3).

Sandi Basuki, Kepala Sekolah SMA Budi Agung menyebutkan istilah bahasa Jepang sangat familar dengan siswa yang memang sejak dua tahun ada ekskul Bahasa Jepang dan Bahasa Perancis, selain Bahasa Inggeris mata pelajaran wajib. “Sosialisasi tanggap bencana Tsunami merupakan ilmu berharga dari siswa yang banyak tinggal di pinggiran pantai,” kata Sandi.

Hal senada diungkapkan Ketua Prodi Hubungan Internasil Fakultas Ilmu Politik dan Pendidikan Potensi Utama Muhammad Novan Prasetya yang menyebutkan pendidikan kebencanaan mesti dilakukan secara lebih sistematis dan berkelanjutan “Pendidikan melalui budaya bencana menjadi penting.” katanya. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>