Produksi Gabah Sumut Tiap Tahun Meningkat

      Tidak ada Komentar

MEDAN (Berita): Produksi padi atau gabah di Sumatera Utara dalam 12 tahun terakhir meningkat signifikan mulai dari tahun 2005 hingga sekarang. Sumut juga urutan keenam nasional produksi gabah setelah Jatim, Jabar, Jateng, Sulsel dan Sumsel.

“Produksi gabah di Sumut tiap tahun meningkat,” tegas Marino, Kasie Program Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut kepada wartawan di kantornya Selasa (14/3).

Marino yang berbicara mewakili Plt Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut Azhar Harahap menjelaskan produksi padi mengalami peningkatan 13 persen pada tahun 2016 dibanding tahun 2015.

Ia didampingi staf Seksi Program Mugiono menyebutkan peningkatan ini karena Upaya Khusus (upsus) padi, jagung, kedele (pajale), sesuai instruksi Presiden dari tahun 2015-2017. Sekarang ditambah lagi upsus cabe merah dan bawang merah.

Produksi gabah angka sementara (Asem) tahun 2016 – posisi Januari 2017 sebesar 4,6 juta hektar dengan luas lahan 436.000 hektar. Sedangkan angka tetap (Atap) tahun 2015 sebesar 4,044 juta ton, tahun 2014 sebesar 3,631 juta ton. Jatim produksinya 13 juta ton, tertinggi di Indonesia.

Marino menyebut untuk sawah di daerah ini jaringan irigasi 75 persen sudah bagus. Sedangkan irigasi yang belum bagus direhabilitasi dan yang belum ada irigasinya, dibuat kerjasama dengan instansi terkait.

Sebagian besar pertanaman padi sawah masih Indeks Pertamanan (IP) rata-rata 1,75 atau 2 kali tanam. Ada juga IP 2 lebih atau hampir IP3 yang 3 kali tanam yakni di Pematangsiantar, Padangsidempuan, Simalungun, Batubara dan Langkat. “Ini karena irigasi mereka bagus. Tapi IP3 wajib dipupuk organik,” ungkap Marino.

Ia menyebut alat perontok padi Combine Harvester dinilai mampu menghasilkan panen padi yang maksimal dan harga jual gabah lebih tinggi Rp200-Rp300 dari perontok lainnya dimana campurannya lebih banyak. Produktivitas padi di Sumut hanya 5,2 ton per hektar, lebih rendah padi di Jawa 6,5 ton per hektar. Kebutuhan beras di Sumut 126 kg/kapita/tahun.
Ia mengakui untuk harga gabah kering panen (GKP) Rp4.500/kg, sedangkan harga pembelian pemerintah (HPP) melalui Bulog Rp3.700/kg. Oleh karena itu serapan Bulog sedikit bahkan tak ada karena harga di tingkat petani lebih tinggi dari HPP. Data tanggal 14 Maret 2017 di Dairi, Gabah Kering Giling (GKG) Rp5.500 per kg, GKP Rp4.400-4.500 per kg “Sementara kalau di Jawa serapan tinggi karena harganya hampir sama dengan HPP,” jelasnya.

Cabe Merah

Marino menambahkan produksi cabe merah di Sumut 160.000 ton. Kebutuhan cabe per tahun hanya 24.264 ton. Berarti masih ada swasembada cabe merah 137.752 ton, sehingga menempatkannya di urutan ketiga nasional. “Naik turun harga cabe karena kebanyakan dibawa keluar kota,” terangnya.

Ada wacana pemerintah (Disperindag tingkat II) di daerah membeli produksi petani yang kelebihan produksi seperti cabe merah. Sebab konsumsi cabe merah 1,78 kg/kapita/tahun. Untuk komoditi bawang merah 2,59 kg/kapita/tahun. Produksinya 13.497 ton, berada di urutan 8 nasional.

Jagung produksinya 1,557 juta ton, menempatkannya di urutan 4 nasional. Ubi kayu urutan 5 nasional dengan produksi 1,228 juta ton. Ubi jalar urutan 5 nasional dengan produksi 91.531 ton.

Kacang kedelai produksinya 5.062 ton, berada di ururan ke 18 nasional. Kacang tanah produksinya 4.870 ton di urutan 12 nasional. Kacang hijau urutan ke 7 nasional dengan produksi 2.171 ton. (wie)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>