Jihad Melawan Kemunafikan

      Tidak ada Komentar

Ibnu Abbas adalah Ibnu Arabi menegaskan, jihad dengan lisan melawan kaum munafik merupakan kewajiban permanen dan berkesinambungan. Karena bahaya yang ditimbulkan selalu ada dan mengancam di waktu perang maupun di waktu damai

Secara kebahasan munafik berasal dari kata nifaq atau nafaq, yang berarti menampakkan sebagian menyembunyikan sebagian yang lain. Dari kata nifaq juga diambil kata infaq yang berarti mengeluarkan sebagian harta dan menyimpan sebagian yang lain. Kata yang sama digunakan adalah untuk jalan yang di bawah tanah adalah nafaq berarti terowongan, terlihat dari luar sebagian dan tidak terlihat bagian yang lain.

Akan halnya orang yang mempelihatkan imannya sebatas lidah mereka dan menyembunyikan kekufuran dalam hati, mereka disebut orang yang munafik. Karena iman adalah pernyataan di lisan, pengakuan di dalam hati, dan pelaksanaan pada anggota tubuh.

Secara historis kemunafikan lahir disebabkan faktor duniawi dan kekuasaan. Hal itu dapat dibuktikan pada fase pra hijrah (periode Makkah) Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muslimin ke Madinah Al Munawwarah belum ada orang yang disebut munafik.

Meskipun ada sekelompok orang yang tidak turut serta berhijrah bersama Nabi Muhammad SAW dari golongan Muslim, namun Allah SWT tidak menyebutnya sebagai kaum Munafikin, tetapi mereka disebut sebagai orang yang menganiaya diri sendiri (zholimi anfusihim).

Allah SWT berfirman: Sesungguhnya orang orang yang diwafatkan oleh para Malaikat dalam keadaan menzhalimi diri mereka sendiri (karena tidak mau berhijrah meninggalkan Makkah) mereka (para Malaikat) mempertanyakan, kenapa kalian? (tidak berhijrah) Mereka menjawab kami adalah orang-orang yang tertindas di muka Bumi ini, bukankah bumi Allah luas lalu kamu berhijrah ke sana? Mereka itu tempatnya adalah Neraka Jahannam, dan seburuk buruk tempat kembali (QS. Annisa: 97)

Secara zahir nash ayat di atas, Allah SWT tidak menyebut mereka sebagai orang munafik meskipun terlihat ciri kemunafikan pada mereka. Mereka belum dianggap sebagai orang Islam yang benar, karena belum berhijrah total meniggalkan negeri kufur. Karena keimanan pada masa itu tidak hanya dituntut untuk meninggal kekufuran tapi dituntut juga untuk meninggalkan tempat (basis) kekufuran terkecuali bagi orang yang lemah seperti kaum wanita dan anak anak.

Dengan kata lain belum ada tokoh munafik yang muncul selama 13 tahun berdakwah di Makkah, baru ketika mobilisasi kaum Muslimin secara besar-besaran meninggalkan harta benda mereka dan dan kampung halaman mereka. Setelah terbentuk masyarakat madani yang beradab dengan mempersaudarakan orang Muhajirin dan orang Ansor di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW muncullah kemunafikan disebabkan seorang yang merasa tergeser ketokohannya, dan kepemimpinannya di kota Madinah.

Tokoh yang merasa tersaingi tersebut adalah Abdullah bin Ubay bin Salul Al Khazraji, seorang tokoh dari yang berpengaruh di zaman jahiliyah. Karena sebelum kedatangan Rasul SAW ke Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul selalu didengarkan, diikuti perintahnya dan arahannya.

Maka setelah Rasulullah SAW. hijrah ke Madinah harapan Abdulah bin Ubay menjadi pemimpin di kota Madinah telah sirna. Dia dan pengikutnya menganggap Rasulullah SAW merampas kekuasaan.

Setelah meletus perang Badar dan kemenangan diraih oleh umat Islam, maka kekuatan umat Islam semakin solid, maka Abullah bin Ubay pun mengatur strategi untuk mencari pengikut dengan cara berpura-pura masuk Islam dan melakukan manuver politik.

Di antara manuver politik Abdullah bin Ubay bin Salul adalah menghasut umat Islam untuk tidak turut serta dalam berbagai peperangan, membangun masjid Dhirar untuk memecah-belah umat Islam.

Di dalam Alquran disebutkan: mereka (orang orang munafik) menjadikan masjid Dhirar, sebagai basis kekufuran dan memecahbelah umat Islam dan menjadikan masjid sebagai markas orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, mereka bersumpah tidak ada tujuan kami untuk membangun masjid ini selain untuk kebaikan (QS.Attaubah: 107). Semua manuver yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay digagalkan oleh Rasullah SAW.

Rencana mereka untuk menarik pasukan dari jihad membela Islam dibeberkan Allah SWT melalui wahyu yang disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga Beliau dan umat Islam dapat mengenal siapa kawan dan lawan mereka, dan dapat menentukan sikap dan memecat prajuritnya yang membelot dari tujuan jihad suci tersebut. Adapun masjid Dhirar yang mereka bangun sebagai markas provokasi, dihancurkan oleh Nabi SAW dan para sahabat.

Dalam konteks kekinian kaum munafikin masih menjalankan misi yang sama dalam rangka untuk merebut kekuasaan dan mengumpulkan kekayaan dunia dan kekuasaan. Mereka bergabung dengan orang oarang kafir untuk meraih kekuasaan, meskipun harus menggadaikan iman mereka. Allah SWT. Berfirman: Beritahulah mereka dengan ancaman azab yang pedih, yaitu orang orang munafik yang mengangkat orang oarng kafir menjadi pemimipin mereka (QS. Annisa: 137).

Dalam hal ini umat Islam diajak berjihad menghadapi mereka, Allah SWT berfirman: Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya (QS. al-Taubah: 73).

Para ahli tafsir berpendapat bahwa jihad yang di maksud dalam ayat tidaklah seperti jihad angkat senjata melawan orang kafir yang terang-terangan memusuhi Islam. Jihad melawan kaum munafik dilakukan dengan lisan sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Sejalan dengan Ibnu Abbas adalah Ibnu Arabi menegaskan bahwa jihad dengan lisan melawan kaum munafik merupakan kewajiban permanen dan berkesinambungan. Karena bahaya yang ditimbulkan oleh kaum munafik ini selalu ada dan mengancam umat Islam baik di waktu perang maupun di waktu damai. Wallahu ‘Almu bishshawab ***** ( Muhammad Nasir, Lc. MA. )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>