Karakteristik Munafik Dalam Alquran

      Tidak ada Komentar

(Kajian QS. Al Baqarah ayat 8-20)

Karakteristik munafik bermuka dua dijelaskan di dalam Alquran bila mereka berjumpa orangMukmin mengaku beriman dan jika berjumpa koleganya mereka menyatakan tetap dengan pendiriannya

Salah satu tipologi manusia yang digambarkan oleh Alquran adalah munafik. Kelompok ini mengakumulasi karakteristik antara orang-orang Mukmin dengan orang-orang kafir. Karakteristik ini mereka lakukan karena berasumi bahwa cara inilah yang membuat mereka selamat.

“Munafik” adalah istilah orang-orang tertentu yang dipopulerkan oleh Alquran yang sebelumnya istilah ini belum pernah diketahui. Penyebutan istilah ini oleh Alquran menunjukkan bahwa tipe orang-orang yang seperti ini tetap eksis di dalam kehidupan agama dan sosial.

Alquran memberikan gambaran yang utuh tentang karakteristik orang-orang munafik karena agak sulit memahami pola hidup mereka. Gambaran ini sengaja dikemukakan oleh Alquran agar orang-orang Mukmin senantiasa hati-hati terhadap gerak-gerik orang-orang munafik.

Karakteristik pertama (yang paling menonjol) dari orang-orang munafik adalah tidak sesuai perkataan dengan keyakinan (lain di mulut lain di hati). Di dalam Alquran disebutkan bahwa mereka mengaku beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat padahal mereka sama sekali tidak mengimani keduanya.

Menurut al-Jaza’iri, mereka menggaungkan keimanan dengan lidahnya tetapi di dalam hati mereka menyimpan kekafiran. Menurutnya lebih lanjut, orang-orang munafik ini jauh lebih jahat bila dibanding dengan orang-orang kafir karena sifat kekafiran yang ada dalam diri mereka lebih dahsyat lagi.

Pada prinsipnya, sifat-sifat munafik ini dapat dideteksi melalui perbuatan-perbuatan. Jika seseorang mengaku beriman kepada Allah namun perbuatannya tidak sesuai dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah maka yang bersangkutan adalah orang-orang munafik.

Jika seseorang mengaku beriman kepada hari akhirat namun tidak ada takutnya melakukan perbuatan yang diazab di hari tersebut maka yang bersangkutan adalah munafik. Sama halnya seseorang yang tidak menyiapkan bekal untuk menghadapi akhirat maka yang bersangkutan adalah munafik.

Karakteristik ini membuat mereka lebih berbahaya dari orang-orang kafir. Dikatakan demikian karena mereka berada di dalam kelompok orang-orang Mukmin namun tujuannya untuk memporakporandakan orang-orang Mukmin dari dalam.

Pada ayat berikutnya disebutkan bahwa tujuan dari orang-orang munafik bersikap seperti ini adalah untuk menipu Tuhan dan juga orang-orang yang beriman. Tipuan yang mereka lakukan tidak memiliki dampak yang signifikan kecuali merugikan diri mereka sendiri.

Salah satu dampak kerugian dimaksud adalah keberadaan mereka yang senantiasa dicurigai. Tidak hanya orang-orang Mukmin bahkan orang-orang kafir juga menaruh curiga yang sangat tinggi kepada orang-orang munafik. Oleh karena itu, wajar saja jika mereka selalu tersisih di dalam pergaulan.

Para munafik ini digambarkan oleh Alquran sebagai sosok yang memiliki penyakit hati dan tidak ada upaya dari mereka untuk meredam penyakit hati dimaksud bahkan menurutinya. Ketiadaan upaya ini yang menyebabkan Allah menambahkan penyakit-penyakit lain ke dalam hati mereka.

Menurut al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghayb, setiap perbuatan yang muncul dari hati yang berpenyakit pastilah hasilnya akan membawa kemudaratan. Kemudian kemudaratan ini mendatangkan penyakit baru bagi hati yang sudah berpenyakit sehingga semakin bertambah parah.

Karakteristik orang-orang munafik berikutnya adalah persoalan mental yaitu suka menutup-nutupi kejahatan yang mereka lakukan. Jika dimohon kepada mereka agar tidak melakukan keonaran di muka bumi maka mereka bersikukuh bahwa perbuatan yang mereka lakukan selama ini adalah baik.

Orang-orang munafik akan selalu mencari-cari dalih agar perbuatan jahat yang mereka lakukan dapat dipandang sebagai suatu kebaikan. Kadang-kadang mereka tidak segan-segan mengatasnamakan “kemanusiaan” untuk melindungi berbagai tindakan kejahatan padahal tujuannya untuk mencari untung.

Bagi orang-orang munafik, melakukan kejahatan bukanlah hal yang tabu karena mereka adalah manusia yang tidak punya perasaan. Fitnah dan pembunuhan adalah dua hal yang selalu dimainkan oleh orang-orang munafik untuk memuluskan jalan mereka mencapai ambisi kekuasaan.

Memandang orang-orang Mukmin sebagai orang-orang yang bodoh adalah bagian dari karakteristik orang-orang munafik. Hal ini menggambarkan tentang keegoisan orang-orang munafik dan karenanya pengakuan tentang keimanan mereka hanyalah keterpaksaan saja.

Keegoisan orang-orang munafik ini dikemukakan oleh Sayyid Thanthawi di dalam tafsirnya al-Wasith tentang penilaian mereka terhadap orang-orang Mukmin. Menurutnya, penilaian ini muncul karena pandangan mereka yang materialis sehingga kebenaran selalu diukur dengan pangkat dan harta.

Pernah dikisahkan oleh Ibn ‘Athiyah di dalam tafsirnya al-Muharrir al-Wajiz bahwa Abdullah bin Ubay berkomentar “jika kami ikut serta ke Madinah berarti kami meninggalkan kemuliaan menuju kehinaan”. Umar hendak memukul yang bersangkutan tetapi dilarang oleh Rasulullah karena takut muncul isu bahwa Rasulullah membunuh sahabatnya.

Abdullah bin Ubay adalah pemimpin orang-orang munafik yang selalu membuat berita hoax. Sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah terhadap Abdullah bin Ubay ini penuh dengan kehati-hatian karena orang-orang munafik senantiasa mencari celah untuk mendiskreditkan Rasulullah.

Karakteristik yang lain lagi selalu ditampilkan oleh orang-orang munafik adalah bermuka dua. Karakteristik ini dijelaskan di dalam Alquran yang bila mereka berjumpa dengan orang-Mukmin mereka mengaku beriman dan jika berjumpa dengan koleganya mereka menyatakan tetap dengan pendiriannya.

Sifat ini digambarkan di dalam tafsir al-Muntakhab bahwa orang-orang munafik tidak segan-segan menyatakan satu akidah dengan orang-orang Mukmin. Tetapi ketika berkumpul dengan sesamanya mereka mengatakan tetap berada di dalam koridor dan perbuatan teman-temannya.

Karakteristik orang-orang munafik yang digambarkan oleh Alquran di atas tetap saja eksis sampai saat ini. Bila dilihat dari segi penampilan maka mereka tidak diragukan lagi sebagai orang Mukmin. Akan tetapi, jika dilihat prilaku dan perbuatan maka seolah-olah iman sudah tercerabut dari diri mereka.

Kondisi ini mirip dengan sebagian orang yang selalu menjajakan agama untuk memenuhi ambisi politiknya. Ketika ambisi politik ini tercapai maka tidak nampak sedikitpun gairah agama di dalam kehidupan mereka bahkan terlalu berani melakukan hal-hal yang jelas bertentangan dengan agama.

Kesan ini semakin jelas terlihat ketika sebagian manusia menjadikan agama sebagai topeng untuk menggapai kekuasaan. Setelah syahwat kekuasaan ini mereka gapai maka pesan-pesan agama tidak lagi mengalir di dalam darahnya sehingga mereka selalu saja berhadapan dengan hukum.

Orang-orang yang seperti ini pada hakikatnya adalah munafik sebagaimana yang digambarkan di dalam Alquran. Mengingat bahwa orang-orang munafik ini ada di segala waktu dan tempat maka kehadiran mereka patut untuk diperhatikan karena mereka lihai dalam memainkan berbagai peran. ***** ( Achyar Zein : Dosen UIN SU )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>