Shalat Subuh Berjamaah

      Tidak ada Komentar

Nabi SAW menyebut orang-orang yang tidak suka berjamaah shalat Subuh sebagai orang yang memiliki sifat munafik. Sesungguhnya dua shalat ini (Subuh dan Isya’) adalah shalat yang berat bagi orang-orang yang munafik. Sesungguhnya, jika saja mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat Subuh dan Isya maka mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak (HR. Imam Bukhari-Muslim).

Imam Ibnu Umar ra mengatakan bahwa orang yang tidak suka ke masjid untuk menunaikan shalat Subuh berjamaah layak diprasangkai buruk. “Apabila kami kehilangan seseorang dalam shalat Subuh dan Isya, kami pun akan berprasangka tidak baik kepadanya”. Maksud prasangka buruk adalah kecurigaan bahwa dia adalah orang munafik.

Ada beberapa ciri-ciri orang yang shalat Subuhnya sukses. Salah satunya adalah pada pagi hari sampai waktu sebelum Zuhur, dia akan menjadi pribadi tenang yang tidak banyak komentar. Mengapa ? Karena canda dan tawa serta pernyataan yang dikeluarkan pada waktu-waktu kritis itu berisiko menyakiti hati orang lain.

Keistimewaan shalat Subuh, yaitu dianjurkannya membaca Surat Al-Falaq: 1-5. Dalam Surat Al-Falaq, selain diminta untuk memohon perlindungan dari kejahatan makhluk, seseorang dikondisikan untuk memohon perlindungan dari Allah SWT dari kegelapan malam.

Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan perempuan-perempuan tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

Shalat Subuh dilakukan menjelang pagi dan awal hari yang baru. Ketika melihat cahaya Matahari, saat itu kegelapan mampu menyelimuti hati. Pada saat matahari beranjak tinggi dan semua indera kita aktif, kekuatan nafsu bangkit dalam diri manusia. Segala sesuatu yang indah secara indrawi akan mendominasi sistem pengambilan keputusan.

Kita bisa lupa diri dan terjebak dalam gulitanya cinta Dunia. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat membawa seseorang menjadi pribadi yang tergesa-gesa, sulit bermuhasabah, mengintrospeksi diri, dan kurang bijak memosisikan diri. Dalam kegelapan tadi seseorang berpeluang menjadi pribadi yang kufur, pribadi yang menjadikan proses memertuhan diri sebagai bagian dari aktivitasnya.

Gelap hati menjadikan pribadi kurang peka dan acuh terhadap kesulitan dan penderitaan orang lain. Ia menjadi pribadi yang kaku, penakut ketika keinginannya tidak terpenuhi. Shalat Subuh menjadi kunci antara hamba dan sang Khalik, hari yang dijalani lebih bermakna dan senantiasa dalam keberkahan Allah SWT. Karena, mengawalinya dengan keikhlasan. Karena itu, selain shalat berjamaah di masjid, Rasulullah SAW senantiasa membaca doa ketika Subuh datang.

Kami mendapatkan Subuh dan jadilah segala kekuasaan itu milik Allah SWT, demikian juga kebesaran dan keagungan, penciptaan makhluk, segala urusan, malam dan siang, dan segala yang terjadi pada keduanya.

Semuanya kepunyaan Allah SWT. Ya Rabb, jadikanlah permulaan hari ini suatu kebaikan, pertengahannya suatu kemenangan, dan penghabisannya suatu kejayaan, wahai Tuhan yang paling Penyayang dari segala yang penyayang. Ya Khaliq, sesungguhnya hamba mohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rezeki yang baik, serta amal yang diterima” (HR/ Imam Ibnu Majah). ***** ( Dirja Hasibuan )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>