Alquran Membawa Pesan Perdamaian

      Tidak ada Komentar

Para pemeluk ketiga agama (Islam, Yahudi, Kristen) telah hidup bersama dalam naungan hukum Islam selama 460 tahun hampir separuh millenium

Alquran sebagai sumber ajaran Islam adalah kitab suci yang membawa pesan perdamaian bagi kemanusiaan universal. Misi Kerasulan Nabi Muhammad SAW menurut Alquran adalah menebar pesona perdamaian dan rahmat bagi seluruh alam.

Sebab itu Islam sabagai agama perdamaian tidak diragukan lagi kebenaran ajarannya dan misi yang diembannya terkecuali bagi orang yang skeptis dan orang yang sudah dirasuki paham skeptisisme/paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan).

Agama Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian kepada umatnya bahkan kepada seluruh umat manusia. Islam adalah agama yang rasional dan memuliakan akal dalam menyikapi perdamaian berlaku adil dalam bertindak. Perdamaian dalam persepsi Islam tidak bisa ditekankan kepada satu pihak saja membela sekelompok etnis, menekan etnis lain dengan alasan perdamaian. Tetapi perdamaian yang menyeluruh menyentuh semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Nabi Muhammad SAW sebagai Alquran yang hidup telah mewujudkan pesan perdamaian Alquran dalam realitas kehidupan masyarakat Madinah yang majemuk dengan adil, terbuka dan demokratis.

Masyarakat Madinah terdiri dari masyarakat yang multietnis dan agama, kaum Muslimin terdiri dari golongan Muhajirin dan Ansor, kaum Yahudi Bani Qoinuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraidzah yang saling bertentangan serta kaum paganisme (orang Musyrikin) dapat dipersatukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Karena Alquran belum sempurna diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW sampai di Madinah maka ikatan damai yang dapat mempersatukan masyarakat Madinah pada waktu itu dituangkan dalam bentuk Piagam Madinah yang dijadikan sebagai dasar dasar kehidupan bermasayarakat yang begitu majemuk di kota Madinah.

Salah satu poin yang dituangkan dalam Piagam Madinah (Watsiqoh Madinah) adalah kebebasan memilih agama dan menjaga dan membela kemanan kota Madinah secara bersama dari serangan musuh yang datang dari luar kota Madinah.

Di antara butir yang dicantumkan dalam Piagam Madinah dalam kaitannya mempertahankan keamanan kota Madinah adalah “orang orang Yahudi mengeluarkan biaya bersama orang-orang beriman (Muslim) jika mereka diperangi oleh musuh dari luar.

Orang Yahudi Bani ‘Aufastu umat bersama orang beriman. Orang Yahudi itu berhak atas agama mereka dan orang orang beriman berhak atas agama mereka pula. Semua suku Yahudi lain di Madinah sama kedudukannya dengan suku Bani A’uf”.

Butir kesepakatan kebersamaan yang dituangkan dalam Paiagam Madinah ini cukup jelas tidak mengistimewakan etnis yang satu dengan yang lainnya meskipun umat Islam adalah golongan mayoritas dan terdiri etnis Arab.

Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yang membawa misi perdamaian memperlakukan mereka dengan adil dan tidak ada yang diperlakukan sebagai orang paling hebat dan istimewa di bawah kepemimpinan Rasul SAW.

Kesepakatan dan kebersamaan yang tertulis dari teks Piagam Madinah meskipun sifatnya sementara (setelah sempurna Alquran Piagam Madinah include dalam kandungan Alquran). Namun dapat dipahami bahwa Piagam Madinah secara utuh diartikan sebagai dasar pengukuhan solidaritas dan menjalin solidaritas, saling mencintai antara kaum beriman dengan orang Yahudi serta pengukuhan bahwa Islam adalah agama yang membawa misi perdamaian.

Dalam penerapan butir kesepakatan yang tertuang adal Piagam Madinah tersebut, sejarah telah mencatat bahwa nabi Muhammad SAW mengajak orang Yahudi ikut serta bersama kaum Muslimin dalam perang Uhud ketika mengahadapi serangan dari luar kota Madinah. Nabi mengajak orang Yahudi mengeluarkan biaya dan menjadikan orang yang ingin menguasai kota Madinah sebagai musuh bersama.

Tetapi orang-orang Yahudi tidak bersedia ikut serta dalam perang Uhud dengan alasan mereka melakasanakan ibadah pada hari Sabtu. Karena perang Uhud jatuh pada hari Sabtu, hari suci mereka.

Ternyata Nabi Muhammad SAW tidak memaksakan mereka. Namun ada seorang Yahudi yang bernama Mukhayriq, ikut berpartisipasi dalam perang Uhud tersebut karena mempertahankan negeri mereka dan akhirnya tewas dalam dalam petempuran itu. Nabi Muhammad SAW sangat terharu dan memuji dengan kata-kata yang terkenal, ’’Mhukhayriq adalah sebaik-baik Yahudi”.

Konsep Piagam Madinah ini mengilhami Khalifah Umar bin Khattab dalam menciptakan perdamaian dan mempersatukan antara umat Islam Yahudi dan Nasrani di Yerussalem di bawah sebuah ikatan perjanjian yang dikenal dengan watsiqah al aliyah/Piagam Aliyya. Namun sangat disayangkan pandangan mereka yang skeptis terhadap Islam sebagai agama menjadi berubah setelah usai perang Salib (1096-1099).

Karen Amstrong (1944) seorang Biarawati, feminis dan penulis tentang keagamaan Yudisme, Kristen, dan Budisme menulis, “bahwa sebelum tentara Salib tiba di Yerussalem pada bulan Juli 1099 dan membantai orang-orang Yahudi dan Islam secara biadab, para pemeluk ketiga agama (Islam, Yahudi, Kristen) telah hidup bersama dalam naungan hukum Islam selama 460 tahun hampir separuh millenium.
Perang Salib telah membangun kebencian kepada kaum Yahudi sehingga menjadi penyakit yang tak tersembuhkan dan di seluruh Eropa. Islam dipandang sebagai musuh peradaban yang tak tersembuhkan, prasangka buruk dari pihak Barat ini memberikan andil dalam stuasi konflik hingga kini. Masyarakat Baratpun memandang Islam dan Arab hingga kini adalah sebagai musuh peradaban. Wallahu”alamu bishshawab’’. **** ( H. Muhammad Nasir Lc,MA )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>