Kekuatan Di Balik Aksi Zikir

      Tidak ada Komentar

Zikir bukanlah sikap pesimis, bukan juga sikap berputus asa, dan bukan tanda ketidakberdayaan. Di balik zikir terdapat efek spiritual membangkitkan semangat, dan membuat lebih kuat dan tenang

Belakangan ini zikir berjamaah populer di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Kepopuleran tersebut mulai mencuat pasca kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok.

Terdapat dua alasan besar mengapa dikatakan populer, pertama kegiatan yang bukan hanya sekali terjadi, namun telah berulang-ulang (Zikir 4/11, 2/12 dan belakangan 11/2). Kedua banyaknya jumlah peserta zikir, bahkan berhasil merekrut ribuan simpatisan dari seluruh pelosok negeri.

Ternyata selain populer, aksi ini juga terbilang cukup unik. Jika biasanya zikir dilakukan di sela-sela peringatan hari besar Islam, zikir yang satu ini dilakukan di tengah-tengah perjuangan ummat dalam membela agama.

Berbagai spekulasi pun muncul dari banyak kalangan, mulai dari yang bernada pro hingga kontra. Mereka yang pro menganggap bahwa zikir tersebut berisi panjatan doa dan kekuatan spritual bagi para mujahid, sedangkan mereka yang kontra berargumentasi zikir tersebut merupakan rekayasa para pemimpin untuk meredam kemungkinan tindakan anarkis.

Bahkan sesekali terdengar ocehan di telinga kita, bahwa hal itu dilakukan karena ketidakmampuan umat Islam dalam memenangkan kasus tersebut. Terlepas dari berbagai spekulasi tersebut, ada baiknya untuk mencermati bagaimana pandangan Islam tentang praktik zikir tersebut.

Berzikir Di Medan Perjuangan

Ketika umat Islam tengah berada dalam sebuah perjuangan, baik dalam bentuk peperangan atau mempertahankan agama Allah, Alquran membimbing kelompok Mukmin dengan beberapa arahan ketuhanan yang harus mereka pegang dan perhatikan dengan baik. Bimbingan tersebut dapat dilihat pada firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar, dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Anfaal [8]: 45-47).

Yusuf Qardawi dalam kitabnya Fiqh Jihad, mejelaskan bahwa tiga ayat Alquran dari surah Al-Anfal tersebut, yaitu surah yang juga membahas tentang Perang Badar, mengandung enam perintah yang harus diperhatikan oleh orang-orang mukmin apabila bertemu musuh atau berada dalam perjuangan dan peperangan.

Enam perintah dari ayat tersebut ialah meneguhkan hati, zikir kepada Allah, menaati Allah dan rasul, tidak berpecah belah, bersikap sabar, mengikhlaskan niat hanya karena Allah.

Dari ke enam perintah tersebut, jelaslah bahwa Zikir merupakan perintah kedua yang harus dilakukan umat Islam tatkala perang sedang berlangsung (dalam perjuangan). (Yusuf Qardhawi, Fiqh Jihad; Dirasah Muqarranah li Ahkamihi wa Falsafatihi fi Dhau’ Alquran wa Sunnah, h. 537).

Sesungguhnya zikir kepada Allah pada momen-momen perjuangan bisa memberikan kekuatan spiritual bagi para mujhid, dan benteng kokoh yang bisa digunakan sebagai perlindungan. dalam doa yang dipanjatkan, mereka akan mendapati rasa aman ketika situasi sedang bahaya, keteguhan langkah dalam kesulitan, keyakinan dalam keputusasaan, dan harapan yang tinggi dalam keterpurukan.

Hal ini karena Allah SWT. pemilik kekuatan yang tidak bisa dikalahkan, kemampuan yang tak bisa ditandingi, dan bala tentara yang tidak bisa dilawan. Dia mahakuasa atas segala sesuatu, dan maha mengetahui segala yang terjadi. sesungguhnya kemenangan dan pertolongan tidak akan datang kecuali hanya dari Allah SWT.

Sebagaimana firmannya : dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Ali Imran [3]: 136).

Etika Berzikir

Zikir kepada Allah SWT bisa dalam bentuk dua versi, yakni dengan hati maupun lisan. Tetapi dalam pelaksanaanya harus tetap mengikutsertakan hati, karena secara bahasa zikir (ingat) merupakan kebalikan dari lupa (nisyan).

Firman Allah SWT. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa… (Q.S. al-Kahfi [18]: 24). Tentu kita tahu bahwa lupa adalah perbuatan hati, bukan perbuatan lisan. Terkait dengan aksi damai, zikir yang sering dipraktikkan adalah zikir lisan. Zikir lisan juga dalam bentuk dua versi, yakni pujian dan doa.

Pada dasarnya Rasulullah SAW tidak menyenangi bersuara dengan keras ketika berzikir atau berdoa ketika di Medan perang, sehingga dihukumi makruh oleh para ulama. Namun hukum itu tidak berlaku untuk teriakan zikir secara masal.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan al-Qurthubi, menurutnya teriakan zikir dengan suara yang keras (zikir masal) ketika berada ditengah medan perang, merupakan perbuatan yang hasanah (baik), karena itu bisa melemahkan perasaan musuh dan memberikan ketakutan kepada mereka. (Abi Abdillah Muhammad ibn Ahmad Ibn Abi Bakr al-Qurthubi, Jami’ Liahkamil Qur’an, Jilid X, h. 39-40).

Namun tidak sepatunya seorang mukmim zikir kepada Allah hanya dalam kondisi tertentu. Yang dituntut dari seorang mukmin adalah senantiasa berzikir kepada Allah dalam situasi dan kondisi, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Ahzab [33]: 41-42.

Kekuatan Di Balik Aksi Zikir

Zikir bukanlah sikap pesimis, bukan juga sikap berputus asa, dan bukan tanda ketidakberdayaan. Namun di balik zikir terdapat efek spiritual yang membangkitkan semangat setiap orang, dan membuatnya menjadi lebih kuat dan tenang.

Teriakan ‘Allahu Akbar’ di tengah aksi damai bisa memberikan keguncangan dan semakin menguatkan tekad dan langkah orang-orang beriman. Sebagaimana Nabi Saw. berteriak keras dalam Perang Khaibar, “Allahu Akbar! hancurlah Khaibar! apabila kita mendatangi suatu kaum (musuh), maka buruklah bagi orang-orang yang diperingatkan”.

Tuhan Yang Maha agung memerintahkan kepada orang-orang yang berjihad agar selalu berzikir kepada-Nya saat bertemu dengan musuh, mereka harus percaya bahwa Allah bersama mereka, mendengar dan melihat mereka, serta tidak luput sedikitpun dari memperhatikan mereka. Wallahu ‘alam ***** ( Rahmat Rifai Lubis, M.Pd.I : Dosen STAIS-Medan )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>