Sertifikasi Ustadz Sudah Perlukah ?

      Tidak ada Komentar

Setiap Muslim punya hak untuk menyampaikan dakwah tanpa harus melalui sertifikasi lebih dahulu

Sertifikasi ustaz adalah upaya menetapkan kriteria yang menjadi standarisasi seserorang untuk menjadi seorang ustadz, yang dijadikan pedoman. Paling tidak ada sertifikat atau sebuah ijazah yang merupakan salah satu prasyarat yang dapat dijadikan pegangan untuk diberi gelar ustadz.

Sehingga tidak segampang mungkin seseorang mengaku sebagai ustadz dan mengatasnamakan ustadz, apalagi di negeri ini terkenal paling longgar dan paling mudah memberi panggilan ustadz.

Kalimat ustadz, berasal dari bahasa yang berarti guru yang mengajarkan ilmu. Dalam perkembangan maknanya, kalimat ini mengalami penyempitan dan pergeseran makna. Siapa saja yang dapat mengajarkan sepotong ayat sudah dipanggil sebagai ustadz.

Padahal di negeri asal kalimat ini misalnya di Al Azhar Mesir, ustadz adalah gelar akademik bagi seorang guru besar yang telah berhasil menyelesaikan sebuah penelitian, sama dengan profesor untuk gelar akademik negeri ini, sama ada keahliannya di bidang agama atau umum.

Tidak ada satu lembaga akademik manapun yang memberi gelar bagi siswa atau sarjananya dengan gelar ustadz. Tetapi gelar ustadz ini diberikan oleh umat sebagai panggilan hormat bagi orang yang mengajarkan ilmu agama.

Ironisnya dalam tradisi sebagian masyarakat di negeri ini seorang yang berpenampilan saleh dan berpakaian yang biasa dipakai para ustadz, seperti sorban tanpa memandang keilmuannya dapat dipanggil ustadz.

Tidak terlalu sulit, dengan modal keberanian, berbekal sepotong dalil ayat Alquran dan hadis dan dapat pula mengebolarasi sedemikian rupa, dapat perhatian jamaah, gelar ustadz pun diperoleh tanpa diminta. Sedemikian mudahnya untuk mendapatkan gelar ustadz di negeri ini.

Tradisi ini tak dapat disalahkan, karena masyarakat Muslim sudah terbiasa menghargai dan memberi gelar baik tanpa ada rasa curiga kepada orang yang dipandang baik secara kasat mata. Hal demikian sejalan dengan ucapan Ali bin abi Thalib dalam memberikan penghargaan kepada seseorang yang dianggap guru meskipun hanya mendapatkan sepotong ayat. Ali bin Abi Thalib mengatakan, ana ‘abdun liman allamni harfan/saya siap menjadi hamba kepada orang yang telah mengajarkan saya satu huruf.

Lagi pula dalam tradisi dakwah Islami tidak dipersulit bagi seorang yang ingin berdakwah, menyampaikan kalimat thoyyibah, sesuai sabda hadis Nabi Muhammad SAW, ballighu’ anni walau ayah/sampaikan daripadaku walaupun sepotong ayat.

Meskipun basic pendidikan bukan dari pesantren atau sekolah agama, setiap Muslim punya hak untuk menyampaikan dakwah tanpa harus melalui sertifikasi lebih dahulu. Walau demikian i’tikad baik untuk menyampaikan pesan prophetic/kenabian harus menjadi pertimbangan sehingga tidak semudahnya orang mengatas namakan ustadz, memperjualbelikan ayat untuk kepentingan tertentu.

Sungguh mudah bagi seorang Muslim untuk turut serta ambil bagian dalam menyampaikan dakwah dan menjadi seorang da’i, berangkat dari tujuan baik, niat yang ikhlas untuk semata mendapat pahala Akhirat.

Jika keluar dari tujuan yang mulia ini, dakwah dijadikan sebagai alat mencari popularitas, dakwah diperalat oleh partai politik, para da’i dicurigai menjadikan dakwah sebagai tameng untuk meraih keuntungan dunia, penguasa menggunakan para ustadz untuk kepentingan rezimnya. Maka muncullah kesulitan kesulitan, timbullah wacana baru untuk melakukan sertifikasi pada ustadz.

Dengan bersangka baik kepada pihak yang menginginkan adanya sertifikasi ustadz, mungkin bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kompentensi para ustadz. Di samping itu ada tujuan baik agar ada keseragaman dalam menyampaikan materi dakwah bahkan mungkin juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para ustadz.

Karena diharapkan dengan adanya sertifikasi mudah-mudahan ada gaji para utadz yang dianggarkan dari APBN atau APBD ? Atau sebaliknya tingkat phobia Islam akhir-akhir ini sudah berlebihan maka dipandang perlu untuk ditertibkan para ustadz, maka langkah untuk mencapai dua tujuan diatas diberlakukan sertifikasi.

Terlepas dari tujuan baik atau tidak sertifikasi tidak layak diberlakukan pada ustadz karena bagi para ustadz menyampaikan dakwah atau khutbah adalah ibadah. Pantaskah orang yang beribadah disertifikasi.

Lagipula lembaga mana yang berhak untuk mengeluarkan sertifikat, sementara gelar ustadz itu sendiri adalah pemberian dari umat, dan umat tidak akan mungkin sepakat untuk berbuat kesesesatan, sebagaimana Sabda nabi Muhammad SAW: tidak akan sepakat umatku dalam berbuat kesesatan/kesalahan.

Tidak dapat pungkiri relasi antara masyarakat dan ustadz terkadang terjadi perbedaan pendapat yang memberi ceramah di pengajian pengajian dalam menyampaikan dan menguraikan dalil yang diambil dari Alquran dan hadis hadis Nabi Muhammad SAW.

Bahkan bisa terjadi kesalahan pada penyampaian fatwa fatwa dan mengambil pendapat yang mu’tamad. Perbedaan pendapat seperti ini dan hal khilafiyah yang sudah berakar di tengah masyarakat sebenarnya tidak ada pengaruhnya dalam persatuan dan kesatuan umat dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan sertifikasi.

Jika ada di antara para ustadz yang menyalahgunakan dakwah untuk kepenting pribadi dan politik, mereka pasti akan terseleksi dengan sendirinya. Karena yang bermanfaat tetap akan bertahan dan yang tidak bermanfaat akan hilang dengan sendirinya seperti buih, sebagaimana firman Allah SWT: Allah telah menurunkan air hujan dari Langit maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya maka arus itu membawa buih yang mengambang dan dari logam yang mereka bakar dalam api untuk membuat perhiasan dan alat-alat ada pula buihnya seperti buih arus tersebut.

Demikan Allah buat perumpamaan antara yang benar dan salah, adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak berharga sedangkan sesuatu yang tak berharga akan tetap di Bumi (QS,Arra’ad ;17). Wallahu a’lamu bishshawab ***** ( H.Muhammad Nasir Lc,MA )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>