Esensi Dan Eksistensi Alquran

      Tidak ada Komentar

(Kajian Q.S. Al-Baqarah ayat 2)

Itulah Alquran yang isinya tidak dapat diragukan dan sebagai petunjuk untuk bertakwa (Q.S. al-Baqarah ayat 2)

Semakin panjang usia dunia ini maka semakin penjang pula deretan penemuan-penemuan baru yang terinspirasi oleh Alquran. Hal ini membuat kedudukan Alquran menjadi kitab suci yang paling terhormat karena kandungan ajarannya tetap saja aktual di segala masa, tempat dan generasi.

Sekiranya setiap pernyataan Alquran dipegang teguh dan dijadikan petunjuk oleh manusia maka kondisi dunia ini jauh lebih maju dari sekarang. Sayangnya, kebanyakan di antara umat Islam ini memahami bahwa Alquran adalah “gudang” untuk mencari pahala bukan “gudang” untuk mencari petunjuk.

Lebih ironi lagi adalah terbentuknya opini public bahwa kewajiban mengajari anak-anak tentang Alquran hanya sebatas dapat membacanya bukan memahaminya. Opini inilah yang membuat kajian Alquran hanya dapat melahirkan ribuan qari dan hafiz tetapi sangat minim melahirkan para mufassir.

Kemudian kajian tentang Alquran di sekolah-sekolah bersifat tebang pilih yaitu dengan mengutamakan ayat-ayat yang berorientasi akidah, ibadah dan syari’ah. Adapun ayat-ayat yang berkenaan dengan sains dan teknologi demikian juga tentang fenomena alam sering luput dari pembahasan.

Pada ayat di atas, Allah menggunakan kata tunjuk untuk yang jauh (zalika) ketika membicarakan Alquran. Meskipun sebagian ulama mengartikan kata zalika dengan “ini” yang seharusnya “itu” namun pemaknaan ini terkesan dipaksakan karena makna kata zalika tetap digunakan untuk yang jauh.

Penggunaan kata zalika pada ayat ini adalah sebagai isyarat dari Tuhan bahwa Alquran sudah diberikan Tuhan kepada manusia. Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa Alquran tidak lagi berada di “tangan” Tuhan, tetapi sudah dipindahkan-Nya ke tangan manusia.

Jika memang demikian maka manusialah yang seharusnya bertanggungjawab untuk mengembangkan isi-isi kandungan Alquran. Untuk menjalankan tanggung jawab ini dengan baik dan benar maka Tuhan memberikan garansi kepada manusia bahwa semua isi kandungan Alquran tidak ada yang diragukan.

Garansi ini mengisyaratkan bahwa Alquran harus dijadikan oleh manusia sebagai sumber untuk melakukan berbagai inspirasi. Karena itu, jika manusia berkeinginan untuk mengembangkan kehidupan dan memajukan peradaban maka Alquran sudah cukup dijadikan sebagai landasan untuk itu.

Ungkapan “tidak ada yang diragukan padanya” dapat dipahami sebagai bentuk motivasi kepada manusia agar belajar dari Alquran tentang kehidupan. Dengan kata lain, objek apa saja yang dibicarakan Alquran sudah pasti benar dan sudah pasti pula dapat dipahami dan ditelusuri oleh manusia.

Kebenaran Alquran ini, menurut al-Jaza’iri, dapat dilihat ketika menggunakan huruf-huruf potongan (alif, lam, mim). Dalam hal ini seolah-olah Tuhan mengatakan bahwa Alquran disusun melalui huruf-huruf tersebut dan manusia dipersilakan untuk melakukan hal yang sama.

Menurutnya lebih lanjut, jika manusia sama sekali tidak punya kemampuan untuk melakukan hal yang sama maka seharusnya manusia dapat menerimanya sebagai firman Tuhan. Karena itu, manusia sudah seharusnya mengimani Alquran dan dapat dipastikan bahwa mereka akan meraih kesuksesan.

Kuat dugaan bahwa penerimaan sebagian umat Islam akan kebenaran Alquran dilakukan sebatas formalistik. Maksudnya, umat Islam berani mati membela kebenaran Alquran sekalipun tidak memahami kandungan ayat-ayatnya. Hal ini tentu baik namun lebih baik lagi jika kebenarannya dapat direalisasikan.

Merealisasikan kebenaran Alquran tidak cukup hanya melalui retorika tetapi harus melalui realita. Dalam tataran ini, orang-orang yang beriman kepada Alquran harus mampu merealitakan ajaran-ajaran Alquran supaya kontribusinya dapat dirasakan dalam segala lini kehidupan.

Tanpa berupaya merealitakan pesan-pesan Alquran melalui penelitian maka pengakuan terhadap kebenaran Alquran tidak memiliki pengaruh yang signifikan bahkan kebenaran yang semacam ini termasuk khayali. Sekiranya berita Alquran tentang Fir’aun tidak terealitakan maka keyakinan akan berita tersebut adalah bagian dari khayali.

Ketika Alquran menguatkan pernyataannya dengan menggunakan lafaz la rayba fihi (tidak ada yang diragukan padanya) berarti ada semacam keinginan agar pesan-pesannya harus direalitakan. Hal ini dilakukan agar pesan-pesan dimaksud dapat dijadikan petunjuk di dalam kehidupan.

Karena itu, kata berikutnya langsung menegaskan bahwa Alquran adalah sebagai petunjuk (hudan). Dengan demikian, tanpa adanya upaya merealitakan pesan-pesan tersebut maka terlalu sulit menjadikan Alquran sebagai petunjuk di dalam kehidupan.

Jika hal ini terjadi maka pesan-pesan yang terdapat di dalam Alquran akan berlalu tanpa makna bagi manusia. Ketika kata hudan ini diletakkan setelah kalimat la rayba fihi maka kesan yang tertangkap adalah “jadikanlah semua berita Alquran sebagai petunjuk dan jangan ragu-ragu untuk melakukannya”.

Inilah agaknya makna penggalan ayat yang menyatakan bahwa “Allah tidak pernah malu menjadikan hewan yang sangat kecil sebagai perumpamaan”. Karena sekecil apapun hewan yang disebutkan di dalam Alquran seperti Semut pasti dapat dijadikan sebagai petunjuk.

Hal yang terpenting bagi Alquran adalah kemampuan manusia untuk menjadikan segala sesuatu sebagai petunjuk. Untuk mendapatkan petunjuk ini, manusia harus meneliti semua objek yang telah disebutkan di dalam Alquran karena petunjuk harus dicari dan tidak datang dengan sendirinya.

Kata hudan (petunjuk) digunakan dalam bentuk nakirah yang memiliki makna umum. Artinya, semua ayat Alquran dapat dijadikan sebagai petunjuk baik untuk urusan duniawi seperti pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban maupun untuk urusan ukhrawi sebagai akhir dari kehidupan.

Adapun tujuan dari pernyataan hudan (petunjuk) ialah untuk menyadarkan manusia akan esensi dan eksistensi Tuhan. Ketika Alquran menyebutkan objek tertentu dan kemudian dilakukan penelitian maka kesan petunjuknya akan mendalam, berbeda halnya jika objek tersebut hanya sebatas diyakini saja.

Pascamelakukan penelitian terhadap objek-objek yang disebutkan oleh Alquran dapat dipastikan bahwa peneliti akan sampai kepada kesimpulan bahwa Tuhan adalah Mahabesar. Bersamaan dengan itu pula akan muncul keinginan yang mendalam untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.

Kondisi yang seperti ini dapat dipahami dari penutup ayat yaitu lilmuttaqin (untuk bertakwa). Huruf lam yang terdapat pada kata ini menurut sebagian ulama adalah lishayrurah yaitu menukar makna dari kata benda (bagi orang-orang yang takwa) menjadi makna kata kerja (untuk bertakwa).

Kebenaran pernyataan Alquran yang kemudian melakukan penelitian terhadapnya dijamin akan menjadi orang-orang yang bertakwa. Karena itu, terlebih dahulu dipelajari ayat-ayat Alquran secara serius supaya dapat bertakwa, bukan petunjuk Alquran hanya ditujukan kepada orang-orang yang takwa saja.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa esensi dan eksistensi Alquran dapat diyakini secara teguh jika ayat-ayatnya dipelajari terlebih dahulu. Selama ayat-ayat ini tidak terpahamkan maka keyakinan terhadap kebenaran Alquran hanyalah keyakinan yang dipaksakan. ***** ( Achyar Zein : Dosen UIN SU )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>