Anti Islam

      Tidak ada Komentar

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci (QS.As Shaff: 9).

Anti Islam atau dalam bahasa populernya disebut Islamofobia adalah istilah yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan umatnya. Istilah ini sudah ada sejak tahun 90-an, tapi menjadi lebih populer setelah peristiwa serangan 11 September 2001.

Tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai “rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim”. Dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktek diskriminasi terhadap kaum Muslimin dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa.

Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya Barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama.

Langkah-langkah telah diambil untuk peresmian istilah ini dalam bulan Januari 2001 di “Stockholm International Forum on Combating Intolerance” (Islamphobia ini sudah dikenal sejak zaman Rasulullah SAW, dimana Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sofyan adalah pelopor kebencian terhadap Islam dan Rasulullah SAW).

Di Swedia anti Islam dikenal sebagai bentuk intoleransi seperti Xenofobia dan anti Semitisisme. Berbagai sumber telah mensugesti adanya kecenderungan peningkatan dalam anti Islam, sebagian diakibatkan serangan 11 September 2001(sedangkan serangan 11 September itu adalah rekayasa Amerika untuk memojokkan Islam, seperti halnya penciptaan legenda Osamah bin Laden, adalah juga rekayasa Amerika), sementara yang lainnya berhubungan dengan semakin bertambahnya umat Islam di dunia Barat.

Dalam bulan Mei 2002 European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) mengeluarkan laporan berjudul “Summary report on Islamophobia in the EU after 11 September 2001″, yang menggambarkan peningkatan anti Islam di Eropa.

Para penyanggah mengkritik konsep itu, diduga ada penyalahgunaan saat menggali kritik Islam yang sah, dan menyebutnya sebagai “mitos”. Penulis novel Salman Rushdie dan teman-temannya menandatangani manifesto berjudul ‘Together facing the new totalitarianism’ di bulan Maret 2006 menyebut Islamofobia “konsep yang buruk yang mencampurkan kritik terhadap Islam sebagai agama dengan stigmatisasi terhadap para penganutnya.”

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengabarkan berencana meluncurkan jaringan satelit sebagai salah satu upaya untuk memerangi anti Islam. OKI bahkan berencana membahas peluncuran sebuah jaringan televisi satelit berbahasa Arab, Inggris dan Prancis.

Salah satu tujuannya, untuk memperbaiki citra Islam, melawan gerakan anti Islam khususnya di Barat. “Anti Islam terus meningkat,” kata Sekretaris Jenderal OKI Ekmeleddin Ihsanoglu dikutip media asing. “Bahkan, hal itu telah memasuki tahap ketiga.”.

Pada tahap pertama, kata Ihsanoglu, kaum anti Islam menggunakan kebebasan berekspresi sebagai alasan untuk mempromosikan kebencian terhadap umat Islam. Tahap kedua, berupaya melembagakan kebencian terhadap Islam dan Muslim, tambahnya.

Pertanyaan yang layak dikemukakan adalah, mengapa hal ini bisa terjadi ? Mengapa dari era pre-modern hingga post-modern , anti Islam di Barat tetap terpelihara dengan baik ? Mengapa Barat selalu bersemangat menaruh curiga besar kepada Islam dan umatnya ? Tidak mudah untuk menjawabnya. Namun hal ini ternyata dapat kita telusuri mulai dari masa hidup “Sang Bapak Bangsa” yang kita kenal dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam (as) dalam Alqur’an dan Abraham dalam Khazanah Israiliyat.

Secara singkat, dalam Bibel dikisahkan bahwa Sara (Sarah) yang merupakan istri pertama Nabi Ibrahim as (Nasrani menyebutnya Abraham) merasa cemburu kepada Hagar (Hajar) yang merupakan istri kedua Abraham yang dipilihkan sendiri oleh Sara.

Hal ini disebabkan karena Hagar yang awalnya adalah budak Sara asal Etheopia mendapatkan perhatian lebih dari Abraham karena Hagar dapat memberikan keturunan lebih dulu dari pada Sara yang sudah sangat tua. Anak yang dinamakan Ismael itulah yang kelak melahirkan bangsa Arab, termasuk Bani Hasyim yang menjadi nashab Nabi Muhammad SAW.

Meskipun pada akhirnya Sara juga melahirkan anak buat Abraham (Nabi Ibrahimas) yang dinamai Ishak sang kakek Israel. Kelahiran 2 anak beda ibu ini dalam Bibel Kitab Kejadian pasal 21 disebutkan berselang 14 tahun. Ismael lahir saat usia Nabi Ibrahim as (Abraham) 86 tahun dan Ishak lahir saat usia Abraham 100 tahun.

Kemudian dikisahkan ketika tiba masa Ishak disapih, maka semakin bertambahlah rasa cemburu Sara pada Hagar. “Bertambah besarlah anak itu (Ishak) dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.

Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang bermain dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” (lihat Kitab Kejadian 21 : 8-10).

Dari kisah cemburunya Sara inilah kristolog seperti Ahmad Deedat berpendapat bahwa kecemburuan itu sedikit banyak telah menurun kepada beberapa anak cucunya hingga sekarang. Dan itulah juga menjadi dasar di antara salah satu dari awal kebencian Barat yang merepresentasikan diri sebagai “anak nakal” Israel terhadap keturunan Ismael alias bangsa Arab wabil khusus, Islam.

Kebencian itu makin bertambah karena Tuhan juga memindahkan tongkat kekuasaanNya dari Bangsa Israel kepada Bangsa Arab (Ismael) karena Israel mengingkari perjanjian yang telah disepakati oleh nenek moyang mereka dengan Tuhan melalui Musa (lihat Keluaran 19 : 3-8).

Di era Perang Salib, kebencian Barat semakin menjadi-jadi terhadap Islam, saat Yerussalem jatuh ke tangan kaum Muslim untuk kedua kalinya, tepatnya saat umat Muslim dipimpin Salahudin Al Ayyubi, kegusaran Barat yang saat itu berpusat di Eropa (Inggris) juga semakin besar.

Pasca kejatuhan Yerussalem yang kedua, Paus Urbanus II berpidato di Clermont pada bulan November 1095 yang isinya menghasut orang-orang Kristen untuk memerangi umat Islam yang dikatakannya sebagai bangsa keji dan barbar yang menguasai Tanah Suci Yerussalem.

Pidato sarat kebencian inilah yang dianggap sebagai Proklamasi Peradaban Barat yang bercirikan sinisme kepada Islam hingga sekarang, dan kembali dilontarkan oleh presiden Amerika Serikat saat ini Donald Trump yang Facis.

Leopold Weiss, seorang penulis kenamaan berdarah Yahudi Polandia memiliki sebuah pandangan menarik mengenai akar kebencian Barat kepada Islam. Penulis yang setelah memeluk Islam memakai nama Muhammad Asad ini dalam buku memoarnya yang terkenal, “Road To Mecca”, menulis bahwa pengalaman dahsyat dalam Perang Salib inilah yang akhirnya menyadarkan bangsa Eropa bahwa mereka memiliki satu kesatuan kultural.

Sebab sebelumnya bangsa ini hampir sulit disatukan karena besarnya ego masing-masing kaum seperti Frank, Saxon, Jermania, Burgundia, Norman, Sisillia, dan Lombardia. Perang Salib pertama inilah yang telah menyatukan mereka dalam satu kebanggaan sebagai bangsa Kristen Eropa. Kisah Perang Salib inilah yang kemudian dijadikan doktrin kepada putra-putri Barat agar membenci Islam.

Menurut Muhammad Asad, Perang Salib sangat berbeda dengan perang lainnya. Karena betapa banyak perang besar yang terjadi dan memakan banyak korban dan seolah tak dapat dimaafkan pada masanya ternyata di kemudian hari perlahan bisa dilupakan.

Sejarah pengeboman Pearl Harbour, perang vietnam, dan bom atom Hiroshima-Nagasaki yang pada masanya sangat heboh toh saat ini sudah dianggap sebagai histori belaka dan negara yang terlibat pun kini hubungan diplomatiknya juga semakin erat seolah lupa bahwa mereka pernah bermusuhan di masa lalu.

Artinya kebencian masa lalu tak berlanjut di masa kini. Ini berbeda dengan Perang Salib. Selain berlangsung lama dan bertahap, perang ini ternyata tak hanya memakan banyak korban namun juga menimbulkan luka intelektual bagi Barat.

Dan luka intelektual inilah yang kemudian jadi pemantik bara dendam Barat pada Islam. Dengan difasilitasi media-media, citra Islam dibiaskan Barat sejak dini. Sebutan Nabi Muhammad diganti dengan Mahound sebagai bentuk penghinaan. Allahu a’lam. ***** ( Fachrurrozy Pulungan : Ketua Forum Komunikasi Lembaga Dakwah (FKLD) Sumut. Sekretaris Dewan Syari’ah AMTI Sumut )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>