Pemimpin Dan Ulama Aspek Kemajuan Negara

      Tidak ada Komentar

Merekalah sebenarnya pengemban misi paling depan dan utama, mereka (ulama) inilah manifestasi ulama klasik yang terdahulu

Ibnu Khaldun mengungkapkan, seorang ulama dengan ilmu keagamaannya akan sulit menjadi kaya. Sebab harta menurutnya, berputar pada poros-poros tertentu yang menyinggung kepentingan dan kebutuhan hidup sebagian besar manusia. Sementara manusia pada umumnya tidak setiap saat membutuhkan nasihat agama.

M. Anis Matta menimpali dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, produk kepahlawanan dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya pengetahuan agama tidak dapat mengantar seorang ulama menuju kekayaan. Karena itu dapat disimpulkan orang yang ingin menjadi kaya jangan berprofesi sebagai tokoh agama, ulama atau ustadz namun menjadi pengusaha dalam segala bidang yang dibutuhkan manusia.

Contoh nyata adalah Rasulullah SAW, yang kaya raya sebelum menjadi Rasul. Setelah diangkat menjadi Rasul, maka seluruh harta kekayaan lama kelamaan habis demi perjuangan dakwah menyebarkan Islam.

Bukan hanya harta milik Beliau saja, tetapi harta sang isteri, sang konglomerat Makkah, Khadijah ludes habis. Bukannya bersedih Khadijah malah berujar, “Seandainya kakanda membutuhkan jembatan untuk menyeberang sungai dan tidak menemukannya, maka adinda siap berkorban untuk menjadi jembatan tersebut demi perjuangan dakwah Islam”. Maka tak ayal Rasul menggelarnyapun dengan “Khadijah al-Kubro”, Khadijah yang agung.

Ini mengajarkan pada kita, bahwa semestinya para ulama berada pada posisi moral yang tinggi dan terhormat yang biasanya tidak akan mereka rusak dengan berbagai macam praktik tidak terhormat, yang umumnya memenuhi dunia bisnis.

Jual beli suaranya demi mendukung salah satu kandidat calon pemimpin kepala daerah misalnya, menjadi sebatas cap stempel pemerintah dalam setiap kebijakan yang tidak menguntungkan masyarakat lebih menitikberatkan berapa banyak materi yang ia dapatkan dalam dakwahnya, bukan seberapa penting dan urgen masyarakat terhadap diri dan dakwah yang akan disampaikannya.

Imam Syafi’i yang berasal dari keluarga yatim lagi miskin pernah berujar, seperti yang diungkapkan M. Anis Matta. Pada mulanya menuntut ilmu (agama) menjadi kaya. “Aku rasa kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah,” ujarnya. Tapi lanjutnya “setelah aku mendapatkan ilmu ini, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak boleh dituntut untuk mendapatkan dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh jika dituntut untuk menuju kejayaan Akhirat”.

Di dalam Alquran dinyatakan, sesungguhnya manusia yang paling takut kepada Allah SWT adalah para ulama. Karena mereka merupakan pewaris nabi, menguasai ilmu pengetahuan agama sekaligus mengamalkannya dan tentu saja yang paling banyak mengetahui ma’rifatullah.

Merekalah sebenarnya pengemban misi paling depan dan utama, mereka (ulama) inilah manifestasi ulama klasik yang terdahulu. Firman Allah SWT dalam Alquran: Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan di Dunia ini menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.

Aspek Kemajuan Negara

Sebuah negara akan berdiri kokoh dan mencapai puncak kejayaannya jika ditopang empat hal. Pertama, jika diperintah seorang pemimpin adil dan jujur. Menggunakan kekuasaannya demi kepentingan rakyat dan kesejahteraan mereka.

Pemimpin adil akan dicintai rakyatnya. Pemimpin yang jujur akan mendorong kemajuan ekonomi dan kemakmuran negerinya, karena dia akan senantiasa memikirkan kemashlahatan rakyatnya bukan kemashlahatan diri, keluarga dan kelompoknya.

Kedua, adalah pengusaha yang dermawan. Mereka inilah penggerak roda ekonomi sebuah negeri. Pencipta lapangan kerja dan sumber pemasukan devisa negara. Pengusaha yang dermawan tidak akan menerapkan sebuah sistem ekonomi kapitalis yang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya guna membangun imperium bisnis demi kesejahteraan pribadi dan keluarganya.

Penguasa dermawan akan membagikan secara rata keuntungan bisnisnya demi kesejahteraan para buruh dan karyawannya. Mereka tidak akan zalim dengan mengorbankan banyak orang demi keuntungan pribadi.

Pemimpin dermawan akan resah gelisah jika bisnisnya menyengsarakan orang lain dan mengakibatkan kerugian rakyat dan negara. Penyelesaian ganti rugi materil kepada penduduk Sidoarjo akibat lumpur Lapindo tidak akan berlarut dan menjadi musibah nasional jika dikelola pengusaha dermawan.

Ketiga, pemimpin berkarakterkan ulama yang memiliki integritas keilmuan dan moral yang tinggi. Pemimpin ini sejatinya adalah pewaris nabi. Artinya pemimpin yang seperti inilah yang dinginkan rakyat karena ia paling paham mengenai permasalahan agama dan berusaha mengaplikasikan pemahaman keagamaannya tersebut dalam kehidupan dan lingkungannya.

Rasulullah SAW bersabda: Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang beribadah adalah seperti keutamaan Bulan dari seluruh bintang-bintang. Artinya pancaran cahaya illahi yang terpantulkan dari dirinya setidaknya akan menyejukkan dan mendamaikan hati umat.

Fatwa-fatwa mereka akan diikuti. Jika pemimpin seperti ini konsisten pada khittahnya sebagai qudwah dan penjaga moralitas bangsa, maka negeri ini akan melahirkan generasi bangsa yang tangguh dan berkualitas.

Keempat, rakyat yang ridha akan pemimpinnya. Keridhaan rakyat terhadap pemimpinnya adalah dikarenakan kemakmuran dan keadilan yang dirasakannya. Dia tidak perlu mencari keadilan karena keadilan telah diberikan penguasa kepadanya.

Dia tidak akan menuntut hak karena haknya telah diterima sebagaimana mestinya. Maka mereka pun melakukan kewajiban yang diembankan negera kepada mereka dengan sukarela. Membayar pajak, melakukan pekerjaan sebagai abdi negara yang disiplin, profesional dan memiliki etos yang tinggi.

Bercocoktanam penuh gairah karena hasil panennya dapat dinikmatinya dengan baik. Jika seluruh rakyat ridha terhadap pemimpinnya maka akan mendatangkan keberkahan bagi sebuah negara karena setiap sektor dari sendi-sendi negara akan berjalan dengan baik.

Penutup

Semoga ibu kota Jakarta dalam waktu tidak lama lagi akan memiliki pemimpin yang berkarakterkan ulama’ yang memiliki integritas keilmuan dan moral yang tinggi dan rakyat yang ridha akan pemimpinnya sebagaimana pemimpin sekaligus ulama’ terdahulu. Yang ikhlas di jalan Allah SWT demi dakwah seperti Rasulullah SAW. Wallahu Muafiq Ila Aqwami Thariq ***** ( Heri Azmi, S.Ag, MA : Staf Kementerian Agama Kota Medan )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>