Pandangan Alquran Tentang Integrasi Ilmu Pengetahuan

      Tidak ada Komentar

(Peluang Dan Tantangan Bagi UIN SU)

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ? Kalau sekiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya (Q.S. al-Nisa’ ayat 82).

Surah An Nisa’ ayat 82 menjelaskan bahwa Alquran perlu untuk diperhatikan. Adapun yang dimakud dengan memperhatikan Alquran ialah memperhatikan dengan serius makna-makna yang terkandung di dalamnya dan kemudian menginspirasinya, demikian menurut al-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kasysyaf.

Semua ayat-ayat Alquran menjelaskan ilmu pengetahuan dan karenanya Alquran adalah sumber inspirasi. Karena itu, apapun objek yang disebutkan di dalam Alquran patut untuk direnungkan (tadabbur) karena sudah pasti melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Menadabbur semua ayat Alquran adalah merupakan tugas, khususnya bagi UIN SU. Tugas ini adalah merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi UIN SU karena institusi ini dipandang memiliki tenaga-tenaga yang sangat potensial untuk melakukan integrasi ilmu pengetahuan.

Tantangan yang dimaksud adalah bahwa UIN SU harus membuka fakultas baru selain Ekonomi, Ilmu Sosial, Kesehatan Masyarakat, Sains dan Teknologi. UIN SU perlu membuka fakultas seperti Pertanian, Politik, Kelautan, Kehutanan, Pangan dan lain-lain.

Integrasi keilmuwan ini menarik dilakukan karena Alquran tidak membeda-bedakan ilmu pengetahuan karena masing-masing ilmu memiliki potensi untuk mengenalkan esensi dan eksistensi Tuhan. Alquran menyebutkan bahwa salah satu dari al-asma’ al-husna adalah al-‘alim (Yang Mahamengetahui).

Kuat dugaan, bahwa kemajuan umat Islam pada abad-abad pertama karena mereka mampu melakukan upaya integrasi ilmu pengetahuan yang ada di dalam Alquran. Upaya integrasi inilah yang membuat para ulama pada tahun 800-an banyak menemukan hal-hal yang sangat spektakuler, antara lain:

Pertama, al-Jabir (722-804 M) ahli dalam bidang kimia yang mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis. Karya-karyanya Kitab al-Kimya (diterjemahkan ke Inggris menjadi The Book of the Composition of Alchemy), Kitab al-Sab’een, Kitab al-Rahmah, al-Tajmi, al-Zilaq al-Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury dan Book of Balance’.

Kedua, al-Khawarizmi (780-850 M) adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi dan geografi. Karya besarnya ada dalam berbagai bidang seperti matematika, astronomi, astrologi, geografi dan kartografi. Pendekatan logika dan sistematis beliau dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar.

Ketiga, al-Kindi (801-873 M) seorang filosuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Al Kindi telah menulis banyak karya dalam pelbagai disiplin ilmu, dari metafisika, etika, logika dan psikologi. Ilmu pengobatan seperti farmakologi, matematika, astrologi dan optik. Topik praktis seperti parfum, pedang, zoology, kaca, meteorology dan gempa bumi.

Keempat, al-Battani (858-929 M), dikenal sebagai ahli astronomi dan matematikawan. Salah satu pencapaiannya yang terkenal dalam astronomi adalah tentang penentuan Tahun Matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Beliau juga sebagai penemu sejumlah persamaan trigonometri.

Kelima, al-Razi (865-925 M) adalah seorang yang ahli di bidang kedokteran. Selain itu, al-Razi juga adalah penyanyi dan musisi. Karya-karyanya di bidang kedokteran ialah Hidup yang Luhur, Petunjuk Kedokteran untuk Masyarakat Umum, Keraguan pada Galen dan Penyakit pada Anak.

Keenam, al-Farabi (872-950 M) ilmuwan dan filsuf Islam yang dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dari era abad pertengahan. Karya-karyanya dapat dihimpun ke dalam beberapa bidang ilmu seperti logika, matematika, ilmu alam, teologi, politik dan kenegaraan serta bunga rampai.

Ketujuh, Ibnu Sina (980-1037 M) dikenal sebagai Bapak Pengobatan Modern. George Sarton menyebut Ibnu Sina sebagai ilmuwan paling terkenal dari Islam. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Qanun fi al-Thibbi, al-Syifa’ yang terdiri dari 18 jilid dan al-Najat.

Selain tokoh-tokoh yang disebutkan di atas masih terdapat lagi tokoh-tokoh lainnya. Mereka adalah Ibn Rusydi (1126-1198 M) seorang filosuf, Ibn Batutah (1304-1368 M) seorang pengembara, Ibn Khaldun (1332-1406 M) seorang sejarawan, al-Maqrizi (1364-1442 M) seorang ekonom dan sejarawan.

Para tokoh yang disebutkan di atas adalah mereka yang sangat mengerti tentang Alquran. Penafsiran mereka terhadap Alquran tidak terjebak kepada persoalan kata-kata dan hukum tetapi merambah kepada fenomena alam karena manfaatnya jelas sekali di dalam kehidupan.

Setelah masa keemasan ini berlalu muncullah dikotomi ilmu (ilmu umum dan ilmu agama) yang membuat kehidupan umat Islam terpuruk. Kajian-kajian terhadap ayat-ayat Alquran hanya dilakukan melalui aspek tertentu saja yaitu ayat-ayat yang berkenaan dengan ibadah sedangkan ayat-ayat kawniyah hampir tidak tersentuh.

Adanya pendikotomian ini membuat kajian terhadap ayat-ayat Alquran melahirkan tafsir-tafsir yang hanya mengambil fokus pada aspek tertentu. Corak tafsir pada periode ini hanya berkisar kepada tiga aspek saja yaitu tafsir ayat-ayat hukum, tafsir ayat-ayat tasawuf dan tafsir ayat-ayat ibadah.

Meskipun masing-masing tafsir tetap saja membahas keseluruhan ayat-ayat Alquran namun pendekatan penafsiran hanya dilakukan kepada tiga aspek di atas. Adapun ayat-ayat yang berkenaan dengan fenomena alam tidak ditafsirkan secara substansi tetapi tetap ditarik (dipaksa) kepada tiga aspek ini.

Sebagai contoh, al-Jaza’iri menafsirkan Q.S. Yasin ayat 37-40 yang berbicara tentang fenomena alam namun penafsirannya terhadap ayat-ayat ini dikaitkannya dengan kekuasaan Tuhan. Menurutnya, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah berkuasa untuk membuat hari berbangkit.

Menurut al-Alusi dalam tafsirnya Ruh al-Ma’ani bahwa pertukaran malam dengan siang adalah sebagai tanda dari kekuasaan Allah. Sedangkan ketika menafsirkan ayat tentang matahari terbenam, menurut al-Alusi, karena sedang sujud kepada Tuhan, dengan mengutip hadis Rasulullah SAW.

Penafsiran seperti ini tidak terlalu banyak memberikan inspirasi karena pendekatan yang dilakukan adalah theologi yang seharusnya ayat dimaksud didekati melalui teknologi. Hal-hal seperti inilah yang hendak diintegrasikan di UIN SU karena institusi ini punya potensi untuk merealisasikannya.

Dalam menyahuti integrasi ilmu pengetahuan ini UIN SU sudah membuka fakultas-fakultas baru seperti ekonomi, ilmu sosial, kesehatan masyarakat, sains dan teknologi. Paling tidak, hal ini sudah dapat dijadikan sebagai pertanda bahwa UIN SU siap menyahuti integrasi ilmu pengetahuan.

Harapan yang diinginkan oleh UIN SU melalui integrasi ini adalah melahirkan cendekiawan-cendekiawan sekelas al-Kindi, al-Razi, al-Jabir, al-Khawarizmi dan lain-lain. Paling tidak, melalui upaya ini UIN SU sudah berani menyatakan bahwa tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan dalam Alquran.

Tentu saja harapan ini memerlukan kerja keras dan dukungan dari semua pihak. Karena bagaimanapun integrasi ilmu pengetahuan ini sudah mendesak untuk dilakukan sehingga alumni-alumni dari UIN SU tidak lagi dipandang sebagai sosok yang hanya ahli dalam melantunkan doa. ***** ( Achyar Zein : Dosen UIN SU )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>