Rachmawati Berkomunikasi Dengan Pimpinan MPR Soal Aspirasi

      Tidak ada Komentar

Jakarta ( Berita ) :  Tersangka tindak pidana percobaan makar Rachmawati Soekarnoputri mengaku dirinya telah berkomunikasi beberapa kali dengan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI mengenai aspirasi kembali ke Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang asli.

Hal tersebut dikatakan Teguh Santosa, juru bicara Rachmawati setelah polisi kembali memeriksa Rachmawati di kediamannya di kawasan Jatipadang Jakarta Selatan pada Selasa (3/1) dengan agenda pemeriksaan tambahan.

“Pertemuan pertama Rachmawati dengan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan terjadi pada 15 Desember 2015 di Gedung MPR RI. Pimpinan MPR RI menyambut baik aspirasi itu dan mengundang sebanyak mungkin anggota masyarakat yang memiliki aspirasi serupa,” kata Teguh melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu [04/1].

Menurut rencana, kata Teguh, Rachmawati dan kelompoknya yang tergabung dalam Gerakan Selamatkan NKRI dibantu Gerbang Nusantara akan menyampaikan aspirasi kembali ke UUD 1945 yang asli di luar gerbang Gedung MPR RI dan aspirasi itu akan diterima oleh unsur pimpinan MPR RI.

Untuk urusan teknis penyerahan aspirasi, Rachmawati berkomunikasi langsung dengan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. Teguh juga mengatakan, pada awal pemeriksaan tambahan, Rachmawati kembali menyampaikan keberatan atas tuduhan makar yang dialamatkan kepada dirinya.

“Bagaimana mungkin keinginan menyampaikan aspirasi dan pendapat ke gedung wakil rakyat disamakan dengan makar dan upaya perebutan kekuasaan ? Ini definisi yang berlebihan dan sama sekali tidak sehat untuk demokrasi kita,” ucap Teguh.

Menurutnya yang akan dilakukan oleh Rachmawati Soekarnoputri pada 2 Desember 2016 lalu sama sekali tidak terkait dengan upaya perebutan kekuasaan atau penggulingan pemerintahan yang sah. Rachmawati hanya ingin menyampaikan aspirasi kembali ke UUD 1945 yang asli ke MPR RI.

“Namun rencana Rachmawati menyampaikan aspirasi ke MPR RI pada 2 Desember 2016 tidak terjadi, karena di pagi hari itu Rachmawati ditangkap atas tuduhan melakukan tindakan makar dan peRmufakatan jahat,” ujarnya.

Dalam pemeriksaan tambahan tersebut, kata Teguh, Rachmawati juga menjelaskan mengenai pengertian makar yang dipahaminya.

“Dalam pemeriksaan, Ibu Rachmawati mengatakan bahwa makar adalah tindakan kekerasan oleh kelompok bersenjata untuk menggulingkan pemerintah dalam hal ini presiden, dan yang menjadi sasaran adalah Istana Negara yang dalam Pasal 4 konstitusi kita disebutkan sebagai pusat pemerintahan,” tuturnya.

Teguh menambahkan bahwa Rachmawati diperiksa selama tujuh jam dari pukul 15.00 hingga 22.00 WIB. Kepada Rachmawati, polisi mengajukan 21 pertanyaan yang sebagian besar pengulangan atas pertanyaan yang sudah diajukan pada pemeriksaan sebelumnya pada Selasa (20/12). (ant )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>