Menoleh Wajah Islam 2016

      Tidak ada Komentar

Masuknya tenaga kerja asing secara ilegal dan menyusupnya paham PKI terkesan hanya umat Islam saja yang sibuk memikirkannya. Pihak lain hampir tidak peduli dengan ancaman kehidupan bangsa ini

Kontribusi besar yang disumbangkan umat Islam dalam merebut dan mengisi kemerdekaan negara ini telah menjadi fakta yang tidak terbantahkan. Pekikan “Allahu Akbar” dari Bung Tomo dapat membangunkan rakyat dari tidur nyenyaknya untuk mengusir penjajah.

Di Aceh, Teuku Umar dan Tjut Nyak Dhien membangun opini rakyat dengan menyebut bahwa kaum penjajah adalah “kafir” dan mati melawan kaum penjajah adalah syahid. Opini ini membuat semangat rakyat Aceh menyatu melawan penjajah tanpa ada rasa gentar sedikitpun.

Hal yang sama terjadi di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro di Jawa, Sultan Hasanuddin di Makassar dan lain-lain. Mereka semua adalah sosok yang sangat berjasa membela negara atas nama agama Islam.

Kemudian, umat Islam juga banyak berkorban ketika menghadapi pemberontakan PKI yang akhir-akhir ini terkesan ada upaya untuk melupakannya. Upaya untuk membalik opini umat tentang PKI terus saja digulirkan sehingga terkesan yang salah dalam hal ini adalah umat Islam.

Dalam hal mengusir penjajahan, umat Islam senantiasa menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai landasan dan alat untuk melakukan perjuangan. Berdasarkan ajaran Alquran bahwa penjajahan dipandang sebagai upaya yang bertentangan dengan prinsip kebebasan manusia yang dikehendaki oleh Alquran.

Kemudian, pasca kemerdekaan Indonesia terjadi pula pemberontakan yang dilakukan PKI karena ingin merubah ideologi negara. Pada saat itu, umat Islam adalah kelompok yang paling gigih memberikan perlawanan terhadap PKI sehingga umat Islam ketika itu banyak yang menjadi korban.

Perjuangan gigih yang dilakukan oleh umat Islam ini sangat kontras dengan keberadaannya sekarang. Kondisi ini adalah ibarat pepatah lama yaitu “habis manis sepah dibuang”. Dikatakan demikian karena atribut-atribut yang tidak baik selalu diarahkan kepada umat Islam seperti radikal dan teroris.
Hal yang lebih kontras lagi adalah ketidakberdayaan umat Islam dalam berbagai lini kehidupan karena tenaga sudah terkuras untuk mempertahankan bangsa ini. Umat ini selalu kalah dalam berbagang bidang mulai dari bidang politik, hukum, pendidikan bahkan sampai kepada bidang ekonomi.

Pada tahun 2016 isu yang mencuat kepermukaan ialah puluhan ribu WNA yang masuk ke negara ini menjadi tenaga kerja secara ilegal. Pada sisi lain, para WNI kesulitan mencari pekerjaan sehingga terpaksa menjadi TKI di negara orang lain dengan resiko disiksa, diusir atau tidak dibayar.

Kemudian, isu lain yang tak kalah pentingnya ialah adanya upaya untuk menghidupkan kembali faham-faham komunis dengan cara-cara yang tidak simpatik. Padahal, PKI dulunya sudah mengukir sejarah kelam dalam kehidupan bangsa ini yaitu sebagai partai yang tidak dapat bekerja sama.

Kedua ancaman di atas (masuknya tenaga kerja asing secara ilegal dan menyusupnya paham PKI) terkesan hanya umat Islam saja yang sibuk memikirkannya. Adapun pihak yang lain hampir tidak peduli dengan kondisi yang sedang mengancam kehidupan bangsa ini.

Kuat dugaan bahwa umat Islam memang sengaja dibiarkan untuk mengurusi hal-hal yang dapat menguras dana dan tenaga agar tetap hidup dalam kemiskinan. Hal ini perlu disadari secara serius karena urusan-urusan yang seperti ini berdampak negatif terhadap perkembangan ekonomi umat Islam.

Pergantian tahun dari 2016 ke 2017 patut dijadikan sebagai bahan renungan khususnya menyangkut eksistensi umat Islam di Tanah Air. Masa setahun, meskipun sangat singkat, namun sudah dapat dijadikan sebagai bahan renungan untuk membuat persiapan-persiapan menyongsong tahun 2017.

Umat Islam di Tanah Air, khususnya tahun 2016 ini, masih menunjukkan wajah yang kelam. Sebagian besar di antara kita belum mampu membudayakan ajaran-ajaran Islam di setiap lini kehidupan. Kemiskinan, kebodohan dan keterpurukan masih mewarnai kehidupan umat ini di setiap pelosok Tanah Air.

Klaim sesat, bid’ah dan kafir yang notabenenya sesama Muslim masih tetap mewarnai kehidupan umat ini. Tafsir tunggal terhadap ayat-ayat Alquran tetap dipertahankan dan tidak memberi ruang gerak untuk membuat penafsiran baru yang sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian.

Keberadaan umat Islam di Tanah Air ini bagaikan umat yang kehilangan pegangan sehingga mudah dihasut dan diadu domba. Para penghamba kekuasaan memanfaatkan moment ini untuk mencari pengaruh dengan menggunakan penggalan ayat Alquran yang seolah-olah melegitimasi nafsu kekuasaannya.

Sepanjang tahun 2016, saling mencurigai di kalangan umat ini terus saja berlanjut sehingga tidak ada lagi pemikiran dan perbuatan di Tanah Air ini yang positif kecuali perbuatan koleganya. Kemudian wajah umat Islam semakin kelam dengan banyaknya politisi Muslim yang harus berurusan dengan KPK.

Alquran tidak lagi dijadikan sebagai ukuran kebenaran akan tetapi yang dijadikan ukuran adalah pandangan kelompok. Hal ini terjadi disebabkan keterbatasan pandangan karena adanya tembok-tembok pemisah yang tangguh seperti aliran, mazhab, organisasi masyarakat dan partai politik.

Tembok-tembok pemisah ini sengaja dijadikan sebagai alat propaganda supaya tidak dapat melihat kebenaran orang lain kecuali kebenaran kelompok dan diri sendiri. Cara seperti ini paling efektif memunculkan sifat ekstrim karena mengklaim bahwa kelompoknya saja yang berhak untuk masuk surga.

Pengaruh dari kelompok inilah yang menyebabkan ada sebagian bertindak dengan mengatasnamakan agama padahal yang dilakukannya berseberangan dengan ajaran agama. Kemudian ada pula yang mengaku sebagai ahli agama padahal ilmunya minim tentang agama.

Lebih ironis lagi ialah adanya kelompok yang hanya mengutip pemikiran seorang tokoh yang beragama Islam tetapi sudah mengklaim bahwa pendapat tokoh yang dikutipnya telah mewakili Islam. Cara-cara seperti inilah yang membuat makna Islam menjadi kabur sehingga terkesan ada konflik internal.

Dalam menghadapi bahaya yang lebih besar (masuknya tenaga kerja asing secara illegal dan menyusupnya paham PKI) maka umat Islam jangan lagi memikirkan konflik internal, apalagi konflik ini hanya dipacu oleh kesalahfahaman saja. Kita harus bersatu dan mengenyampingkan perbedaan-perbedaan yang ada karena semua kita adalah bersaudara.

Bahaya yang sedang mengancam di depan mata adalah ekspansi yang dilakukan oleh bangsa asing dan tumbuhnya kembali faham komunis. Umat Islam jangan terlalu berharap banyak dari orang lain dalam menumpas ancaman ini karena selama ini kita lihat mereka diam-diam saja.

Perlu dicatat, jika upaya penghadangan ini nanti berhasil dilakukan jangan pernah beranggapan bahwa tugas sudah selesai sampai di sini. Kita sebagai umat yang terus-menerus berjuang tentu sangat berhak untuk mendapatkan hasil dari perjuangan yang dilakukan.

Ungkapan pepatah “habis manis sepah dibuang” seperti yang diungkapkan di atas jangan lagi terulang pasca perjuangan ini. Jangan biarkan hasil kekayaan negeri ini dikuras oleh orang asing sehingga segelintir anak bangsa ini yang menikmatinya yaitu mereka yang kurang peduli nasib bangsanya.

Berdasarkan wacana di atas dapat disimpulkan bahwa umat Islam harus bersatu, baik untuk mempertahankan Negara ini maupun mengisinya. Membiarkan negara ini dikuasai oleh orang asing sama halnya dengan menyerah sebelum pertandingan usai. ***** ( Achyar Zein : Dosen UIN SU )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>