Hukum Perayaan Natal Bersama

      Tidak ada Komentar

Komisi fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) sejak 35 tahun lalu tepatnya 17 Maret 1981 telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya tentang perayaan Natal bersama

Setiap umat yang beragama memiliki hari raya atau hari besar keagamaan yang diyakini sebagai lambang atau simbol kebanggaan masing masing, dihormati dan ramaikan sebagai hari ibadah mereka.

Naluri atau fitrah keagamaan setiap orang yang beragama pasti merasa keskaralan tersendiri terhadap hari raya/besar yang mereka besarkan dan atas dasar itulah mereka berbahagia dan berbagi bagi kebahagian sesama mereka. Kebahagiaan yang mereka rasakan didasari atas keyakinan yang mendalam dan atas kebenaran agama yang mereka anut, tidak direkayasa, dan tidak pula berpura-pura.

Misalnya, Hari Natal adalah hari lahir Nabi Isa menurut keyakinan umat Kristiani, mereka jadikakan sebagai hari ibadah. Natal juga sebagai syi’ar bagi agama mereka, berbagi kebahagian sesama mereka dari lubuk hati yang mendalam sesuai keyakinan yang mereka anut.

Jika dipaksakan oleh orang yang bukan umat Kristiani atas nama toleransi untuk merayakannya dapat dipastikan akan timbul kerancuan dan tidak sesusuai dengan hati nurani mereka, paling tidak akan nampak kepura-puraan.

Bagi Umat Islam Nabi Isa wajib diyakini sebagai seorang Rasul dan dimuliakan, sama seperti para rasul yang lain tanpa membedakan antara satu dengan yang lain seperti yang disebut di dalam Alquran : Kami tidak membedakan mereka antara satu dengan yang lain ( QS Albaqarah; 285), tapi tidak sampai mempertuhankannya ( Lihat Alquran, surah Al Maidah ayat 116-118).

Nabi Isa as tidak lebih seorang manusia biasa yang dipilh Allah SWT sebagai RasulNya atau utusanNya. Di sinilah letak benang merah antara umat Islam dan Kristiani dalam meyakini posisi Nabi Isa as di hadapan Tuhan Sang Pencipta.

Konsekuensi dari keyakinan tersebut akan melahirkan sikap yang berbeda pula dalam memandang hari kelahiran Nabi Isa as. Alquran mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa as seperti yang disebut dalam surah Maryam, Nabi Isa berkata ; Aku ini seorang hamba Allah, diberikan kepadaku sebuah kitab, dan diangkat menjadi seorang Nabi, diberkahi kehidupanku dimana saja aku berada, Dan Allah memesankan kepadaku untuk melaksanakan shalat dan membayar zakat selama aku masih hidup, berbuat baik kepada ibuku, dan aku dijadikan bukan menjadi seorang pemaksa dan kasar, dan selamat atas kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan kembali (di Akhirat), itulah Isa anak laki laki Maryam, perkataan yang benar bukan di ada adakan. (QS. Maryam: 29-34).

Ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa as dalam Alquran tersebut berarti ucapan selamat dari tuduhan dan tudingan bahwa Beliau adalah sebagai anak Tuhan. Dia adalah anak seorang gadis yang tidak menikah, ditiupkan oleh Allah ruh ke dalam rahim ibunya, maka dinamakan Nabi Isa as sebagai ruh Allah, demikian ucapan selamat yang dimaksud oleh Alquran.

Oleh karena ucapan selamat hari Natal sudah menjadi terminologi khusus bagi umat Kristiani dan diucapkan atas dasar keyakinan dan ibadah bagi mereka dan keyakinan ini sudah berbeda dengan keyakinan umat Islam. Maka umat Islam tidak boleh lagi ikut campur dalam ibadah mereka, karena memakai terminologi dan atribut yang bukan diyakini sama artinya ikut ikutan atau berpura pura, dan menganut agama tidak boleh berpura pura.

Atau terminologi tersebut sudah mengandung pemahaman yang subhat dan wajib bagi umat Islam menjaga diri dari hal yang subhat, siapa yang terjerumus pada hal yang syubhat berarti terjerumus pada yang haram.

Seandainya merayakan hari Natal sama pandangan antara umat Islam dan umat Kristiani yaitu sama-sama menghormati Nabi Isa as, lalu umat Islam ikut sama merayakannya sebagaimana umat Kristiani, maka umat Islam telah dilarang merayakan yang bukan hari rayanya.

Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, penduduk Madinah ketika itu mempunyai dua hari yang mereka rayakan dalam setahun. Nabi SAW bertanya, dua hari ini, untuk apa ?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut. ’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adha dan Hari Raya Idul Fitri” (Hr. Abu Dawud, Ahmad dan an-Nasa’i dengan syarat Muslim).

Komisi fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI) sejak 35 tahun lalu tepatnya tanggal 17 Maret 1981 dipimpin KH. Sykri Ghozali dan Sekretaris DRS H. Mas’udi telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya tentang perayaan Natal bersama.

Fatwa tersebut didasari dalil Alquran sebanyak 23 ayat, sebuah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Nukman bin Basyir, sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, tetapi antara keduanya terdapat hal hal subhat, (tidak terang halal dan haramnya) kebanyakan manusia tidak mengetahui hal yang subhat tersebut.

Barang siapa yang telah menjaga dirinya dari yang subhat maka telah terpeliharalah agama dan kehormatannya. Tetapi barang siapa yang terjerumus ke dalam subhat berarti ia terjerumus kepada yang haram, seperti seorang pengembala kambing yang mengembalakan kambingnya di daerah yang dilarang, maka sangat memungkinkan sekali binatang gembalaannya akan memakan rumput yang dilarang, ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan, dan ketahuilah bahwa larangan Allah adalah yang diharamkannya.

Selanjutnya MUI mendasari fatwanya dengan sebuah kaedah ushul fikih, menolak kerusakan lebih utama dari pada mengambil kemashlahatan. Terakhir para pakar hukum Islam juga telah menfatwakan, apabila seorang Muslim mengikuti perayaan Natal maka selain dari pada pebuatan tersebut adalah berbuatan maksiat (dosa) maka pelakunya wajib mendapatkan hukuman berupa ta’zir (didera atau hukuman yang menimbulkan efek jera).

Al Allamah Sayyid Bakry Asshata ad Dimyathi dildalam kitab i’anatuhtholibin juz, 4 hal;166 menuliskan, seorang imam (penegak hukum ) harus menetapkan hukuman ta’zir bagi pelaku maksiat yang tidak ada ancaman hukuman had dan kaffarat.

Baik maksiat terhadap hak-hak Allah SWT ataupun maksiat terhadap hak sesama manusia. Yang dikategorikan kepada maksiat terhadap hak-hak Allah SWT adalah, kesaksian palsu dan mengikuti perayaan perayaan kaum kuffar. Wallahu’almubishsawab. ***** ( H. Muhammad Nasir Lc, MA.)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>