Nabi Yang Ummi

      Tidak ada Komentar

NABI kita Muhammad SAW adalah Nabi yang Ummi (buta huruf). Nabi tidak bisa membaca dan tidak pernah belajar membaca. Hikmah keummiyyan Nabi Muhammad SAW antara lain; agar orang-orang kafir tidak menuduh Nabi menyontek ayat-ayat Alquran dari kitab suci mereka. Hikmah kedua, menunjukkan Nabi tidak pernah berguru kepada manusia manapun, hikmah ketiga sebagai bukti bahwa hafalan Nabi sangat kuat.

Pada zaman Jahiliyah orang yang pandai membaca dianggap kelemahan ingatan sehingga mereka terpaksa menulis, sebaliknya penyair-penyair besar pada zaman itu adalah orang buta huruf yang tidak bisa menulis dan membaca.

Mereka menghafal ribuan bait syair dalam kepala mereka untuk didendankan di pasat Ukad. Kaum jahiliyah sangat mengagumi orang-orang yang buta huruf karena dianggap orisinil dan kemurnian.

Keummiyan Nabi adalah sebuah mukjizat juga. Sebab meski beliau tidak pernah membaca, tetapi beliaulah di antara umatnya, bahkan dengan seluruh manusia, beliaulah yang paling banyak ilmunya tentang dunia dan akhirat.

Beliaulah yang mengabarkan kepada manusia rahasia-rahasia alam, angkasa luar dan apa yang ada dalam perut bumi. Guru Rasulullah adalah Allah, maka ilmu Nabi tak tertandingi dengan manusia manapun.

Sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas, ra berkata: Nabi kalian adalah Nabi yang buta huruf yang tidak dapat menulis, membaca maupun berhitung (Al-Qurthubi: Aljami’ul Ahkamil Quran (7/298).

Mengenai keummiyyan Nabi Allah menyebutkan beberapa kali dalam Alquran. “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Alquran) sesuatu kitabpun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, Andaikata kamu pernah menulis dan membaca, benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu (QS. Angkabut:48).

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul, Nabi yang Ummi yang namanya mereka dapati tertulis dalam Taurat dan injil (QS. Al-A’raf:157). “Dial ah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As-Sunnah).

Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Aljumu’ah:2).
Az-Zamaqsyari, seorang ahli tafsir mengatakan; hikmah keummiyan Nabi membuat bungkam para penuduh dari kaum Yahudi dan Nasrani yang mengatakan Muhammad mengambil ayat-ayat kitab suci mereka.

Seandainya sedikit saja Nabi bisa membaca, pasti tuduhan itu dapat mereka kembangkan untuk menjelk-jelekkan Nabi. Tetapi dengan keummiyan Nabi, maka suara merekapun senyap.

Syeikh Mutawalli Asya’rawi pengarang kitab “Anta tas’al Islam Yajib’ ketika ditanya oleh seorang mahasiswa tentang keummiyan Rasulullah SAW, beliau menjawab: Pada awalnya Rasulullah ummi (buta huruf), tetapi setelah Al-Quran sudah habis masa turunnya, nabi juga bisa membaca”. Wallahu A’lam. ***** (Tgk. H. Ameer Hamzah )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>