Hikmah Ihtifal Maulid Nabi Muhammad SAW

      Tidak ada Komentar

Hikmah peringatan Maulid Nabi adalah dapat mengukuhkan komitmen, loyalistas dan kesetiaan pada Nabi Muhammad SAW. Karena karakter seseorang akan berpengaruh dengan sosok pemimpin yang didengar dan dibacanya

Ihtifal berasal dari bahasa Arab berarti perayaan, bila dikaitkan dengan kata maulid berarti perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sering juga disebut peringatan atau mengenang hari kelahiran Rasul SAW.

Berbeda pendapat para ulama tentang penanggalannya, populer diperingati umat Islam di seluruh dunia pada 12 Rabi’ul Awwal. Ada riwayat mengatakan tanggal 9 Rabi’ul awwal bertepatan 20 April 571 M, hari Senin di rumah Ibu Beliau, Aminah. Riwayat lain mengatakan di rumah Abi Thalib di perkampungan Bani Hasyim Makkah Al Mukarramah.

Anjuran memperingati Maulid Nabi SAW dijelaskan Al Hafiz Jalaluddin As-Suyuti Asysyafi’i (w. 911 H), seorang ahli hadis yang hafal 200 ribu hadis. Di dalam kitab Al-Hawi Lil-Fatawi h. 251 dijelaskan rinci: Bahwa perayaan maulid dengan cara mengumpulkan orang banyak, membaca ayat-ayat Alquran, dan riwayat tentang permulaan urusan Nabi, dan menceritakan tanda (ayat) pada masa kelahiran Beliau, kemudian menghidangkan makanan tidak, adalah bid’ah hasanah.

Selanjutnya, dijelaskan siapa yang turut merayakan dan bergembira memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW akan diberi pahala oleh Allah SWT, karena ihtifal sebagai bentuk ekspresi mengagungkan kemuliaan Nabi SAW, dan menunjukkan rasa gembira dengan kelahiran Nabi yang mulia itu.

Orang pertama sekali melakukan kegiatan ihtifal Maulid Nabi SAW adalah Mudhaffar (632 H) Gubernur Irbil Iraq. Upacara tersebut tidak sekedar peringatan maulid tapi lebih pantas disebut Festifal Maulid. Karena Gubernur Mudhaffar ketika itu mengadakan jamuan besar-besaran dengan menghidangkan 5 ribu ekor kambing, 10 ribu ayam, 100 ekor kuda, 100 ribu mangkok keju dan 30 ribu piring manisan dan acara itu dihadiri ulama besar.

Di antara ribuan ulama yang hadir waktu itu tidak ada seorang pun mencela perayaan tersebut. Malah salah seorang guru besar Syekh Abu Khattab bin Dahyah menyusun satu jilid kitab tentang maulid Nabi yang diberi nama At-Tanwir fi Maulid Al-Basyir Al-Nazir, yang diberi hadiah oleh Gubernur Mudhaffar 1000 Dinar

Perayaan maulid bukan hanya sekedar perayaan seremonial biasa tanpa makna, tapi banyak mangandung hikmah yang dapat menggerakkan detak jantung kita, menambah iman dan menanamkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga dapat dijadikan suri teladan yang baik (uswatun hasanah) untuk menjalankan ajaran agama ini sebagaimana mestinya.

Di antara hikmah yang dapat dipetik dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah ungkapan rasa syukur terhadap lahirnya seorang Rasul pembawa rahmat seluruh alam.

Sentuhan rahmat tersebut dirasakan langsung seluruh mahkluk, baik manusia ataupun tumbuh-tumbuhan dan hewan, baik yang bergama Islam maupun non muslim. Karena Nabi Muhammad SAW datang ke permukaan bumi meletakkan pilar kehidupan yang dapat dirangkum dalam kata rahmatan lil’alamin.

Yang paling istimewa adalah umat Islam karena rahmat yang dirasakan tidak hanya sebatas di dunia, berlanjut sampai ke Akhirat berupa Syafa’at Uzhma terlepas dari azab Neraka. Maka sewajarnyalah umat Islam berada di barisan terdepan mensyukuri hari kelahiran Beliau.

Berikutnya, hikmah peringatan Maulid Nabi adalah dapat mengukuhkan komitmen, loyalistas dan kesetiaan pada Nabi Muhammad SAW. Karena biasanya karakter seseorang akan berpengaruh dengan sosok pemimpin yang didengar dan dibacanya.

Paling tidak, dengan menceritakan kepribadian yang mulia dapat mengetahui sosok manusia yang sempurna di dunia ini. Pada gilirannya karakter kenabian banyak sediktnya akan mengalir kepada orang mendalami sejarah hidup Beliau. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al-Ahzab: 21).

Lebih dari itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW akan tumbuh kembali dan bagi seorang Mukmin, kecintaan itu adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan.

Kecintaan pada utusan Allah SWT ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan isteri, terhadap harta, kedudukannya, bahkan kecintaannya terhadap diri sendiri. Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya (HR. Bukhari).

Salah satu bukti wajib bagi umatnya mencintai Nabi Muhammad SAW adalah kewajiban dan anjuran bershalawat kepada Beliau di dalam shalat. Karena shalawat salah satu rukun shalat pada tasyahud awal dan tasyahud akhir.

Paling tidak lima kali dalam sehari semalam sesuai waktu shalat wajib dan juga pada khutbah Jumat ditambah pada shalat sunat rawatib, dan sunnat yang lain. Bayangkan betapa mulianya Rasulullah SAW karena nama disebut setiap hari, didoakan agar derajatnya lebih tinggi dan lebih terhormat di Aakirat kelak.

Hikmah lain adalah membangunkan kembali umat Islam dari ketertiduran dan kelalaian di tengah hiruk pikuk dunia dan segala macam fasilitas dan kemudahannya, dunia maya, dan segala bentuk carut marutnya.

Semuanya dapat dikonsumsi umat tanpa sensor, dan pada saatnya karakter bangsa ini akan terpola dengan sendirinya. Maka saatnya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dihidupkan kembali sebagai alternatif untuk selektivitas.

Dan ini pernah dilakukan oleh Syekh Ja’far Al- Barzanji dalam memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW yang disusun dalam bentuk prosa dan puisi, dan ternyata bermanfa’at. Wallahu’alamu bishshawab. ***** ( H.Muhammad Nasir Lc,MA. )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>