Aminah Binti Wahab

      Tidak ada Komentar

IBUNDA Nabi Muhammad SAW bernama Aminah Binti Wahab. Nama lengkapnya adalah Aminah Binti Wahab Bin Abdul Manaf Bin Zurrah. Ibunya bernama Barrah Bin Abdul Uzza Bin Usman Bin Abdul Daar Bin Kusai Bin Kilab. Dari silsilah tersebut terlihat bahwa Aminah adalah keturunan terhormat dari bangsawan Quraisy. Ia putri Bani Zuhrah yang bermartabat.
Aminah tumbuh menjadi gadis Bani Zuhrah yang cantik jelita. Ia gadis terhormat dari keluarga terhormat. Gadis dalam pingitan keluarga, tidak pernah keluar malam sebagaimana gadis-gadis sebayanya waktu itu.

Aminah hanya keluar di siang hari sekeliling Ka’bah untuk bermain-main dengan teman-temannya. Ketika usianya sudah baligh (15 tahun), ia dipinang oleh sebuah keluarga yang sangat terhormat juga, yakni tokoh Quraisy Abdul Muthalib untuk putranya Abdullah.

Prof. Dr. Aisyah Bintusy Syathi’ dalam bukunya “Ibunda Para Nabi” menyebutkan; Aminah merasa sangat bahagia dipinang oleh Abdullah bin Abdul Muthalib. Ada beberapa alasan.

Pertama wajah Abdullah yang sangat ganteng. Kedua anak tokoh yang mulia penjaga Ka’bah dan pengelola air zamzam. Ketika pada wajah Abdullah seperti ada cahaya yang memantul.

Aminah sangat rela dan bahagia. Perkawinanpun dilangsungkan penuh dengan gelaran adat dan istiadat. Pesta perkawinan tersebut sangat meriah selama tiga hari dan tiga malam.

Abdullah dan Aminah memulai hidup baru, mahabbah dan rahmah, tenteram dalam ikatan cinta yang suci. Malam-malam berlalu sangat indah, hanya bulan dan bintang yang dapat menyaksikan betapa bahagia dua insan yang sedang menjalin kasih.

Nubuwwah kenabianpun berpindah dari tulang sulbi Abdullah ke rahim Aminah. Cahaya di dahi Abdullahpun berpindah ke dahi Aminah. Itulah tanda kenabian yang terakhir.

Musim berangkat ke Syam pun tiba. Para saudagar bersiap-siap untuk menuju Syam. Begitu juga Abdullah Bin Abdul Muthalib. Beliau mohon pamit kepada isterinya, meninggalkannya beberapa masa untuk mencari nafkah.

Aminah merasa sangat berat ditinggalkan suami tercinta. Apalagi ia merasa sudah mengandung lebih kurang dua bulan.”Selamat jalan kadaku! Semoga Allah merahmatimu”, kata Aminah.

Abdullah menjawab:”Sabarlah sayang, kanda pergi hanya beberapa waktu. Engkau kuserahkan kepada Allah SWT. Insya Allah jika panjang umur saya akan kembali”. Dengan bersimbah air mata, Aminah merelakan suaminya pergi mencari rezeki. Di depan pintu ia melambaikan tangan mengiringi perjalanan unta yang dikendarai Abdullah.

Ternyata, takdir Allah berkata lain; Abdullah meninggal dunia di Abwa’ Madinah. Ia wafat dalam perjalanan pulang dari Negeri Syam. Pamannya Harits Bin Abdul Muthalib datang ke sana untuk mengurus mayatnya.

Aminah sangat sedih mendengar kepergian suaminya. Setelah putranya lahir (Muhammad) dan berusia enam tahun, ia dan anaknya ditambah dengan pembantunya Ummu Aiman, mereka berziarah ke makam suaminya. Takdir menentukan lain. Aminah juga wafat di sana. Jadilah Muhammad kecil dalam kedaan yatim piatu. ***** (Tgk H. Ameer Hamzah )

.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>